“Sajak Akhir Bulan”💐

​Seindah amalanda
Berbinar dipagi nan buta
Menyesap riuh embun
Sisa hujan semalam

Ini sajak pertama
Sengaja
Aku tulis
Di malam buta
Karena aku dilema
Olehmu sang Pujangga

Berbisik
Mengusik
Menggelitik
Setiap detik
Di relung yg bergemricik

Tiba-tiba aku kalah
Menyerah
Pasrah
Oleh sikap ramah tamah

Siapa kamu, Pujangga?
Yg pandai berkata-kata
Hingga aku tak bisa berpura-pura
Mengulum senyum kala kau mengucap kata tresna

Siapa kamu, Pujangga?
Kenapa mulutku terbata
Seketika,
Saat aku menyebut asmanya

Pujangga,
Sajakku hilang tanpa aksara
Tiba-tiba,
Kala aku mengingat senyumnya

Fitri, Januari 2017

“Lagi💐”

Tersudut, sendiri
Meringkuk, terpuruk
Memeluk luka kian menganga
Air mata terkuras tanpa sisa
Sial, ini hari apa!
 
Munafik seperti apa lagi ini?
Kenapa begitu rapi di jalani?
Tersurat tanpa tersirat
Terluka tanpa tersayat
 
Nona,
Pahit sekali mulutmu terasa
Mengucap tanpa pernah berkaca
 
Tunggulah, Nona
Takdir tak pernah berkata dusta!
 
Berhenti bersandiwara, Nona
 
 
Fitri, Januari 2017

“Sajak Untuk Bapak💐”

Kala mentari menyulam fajar,
Engaku pergi dengan langkah tanpa gentar
Kala mentari merajut senja
Engkau pulang dengan raut sahaja

Rambut hitam yang mulai memutih
Kulit yang mulai legam oleh siraman mentari
Raga yang lemah menyangga lelah
Namun
Kau tak mau kalah menapak jalan terjal

Engkau selaksa senopati
Yang rela mati demi keluarga yg kau cintai

Belaimu mungkin tak selembut ibu
Namun kasihmu
Mampu menghangatkan jiwaku

Aku tak tahu,
Aksara seperti apa yg harus aku haturkan
Bait seperti apa yg akan aku rangkaikan
Untukmu, Bapak
Lidah ini kelu mengutarakan

Hanya doa yang mampu aku panjatkan,
Hanya harap yg mampu aku ucapkan

Semoga bersama tetesan keringat
Bersama lelah yg merajah raga
Kau diberi kemurahan atas segalanya

Sajak ini untukmu, Bapak
Dari putri bungsu
Yg mencintaimu


Fitri Putri Darmadi, Januari 2017

“Bahu Untuk Novia💐”

Nona, 
Debur ombak air matamu bersaksi
Bahwa pilu mampu mendominasi hati
Menghikangkan seisi akal sehat
Bahkan, sangat mencandu dalam sendu

Remuk, redam sudah
Belum perang namuun, kau sudah kalah
Ini yg katamu indah?
Padahal hatimu penuh nanah?

Jangan sembunyi di balik lengkung bibirmu
Nona~
Kau tak bisa berkata dusta

Ungkap semua yg ingin kau ucap,
Luruhkan semua yg ingin kau luluhkan
Bahkan, jika mau
Kemarilah
Datang dan jatuh di bahuku
Aku siap menampung derasnya air matamu.

Sudah, Nona
Jangan penuhi hatimu dengan dilema
Percayalah esuk kau kan temui bahagia
Tanpa lara
Hingga kau percaya
Ini hanya perjalanan saja.


Fitri, Januari 2017

“Jabat Tangan Kita”

“Di kala dua orang terpisah, terhalang karena perbedaan, kita di sini, terpisah karena persamaan.”

Pagi berbalut hujan di hari kamis, rintiknya yang terjatuh dengan riuh mampu membasuh kering sudut-sudut jalan kota. Jaket-jaket tebal mereka kenakan demi menghindari dingin yang menyergah hingga ke tulang.

Aku berjalan menyeberangi jalan besar depan kampus yang sudah satu tahun ini menjadi tempatku menimba ilmu. Dengan berjingkat dan sedikit menutupi kepala dengan tanganku untuk menghindari tempias hujan, aku melangkah di tengah jalan yang mulai sepi.

“Yu!” Panggil seseorang dari belakang saat aku melangkah di sebuah koridor menuju ke kelas. Aku menoleh ke arah suara itu memanggil namaku dengan jelas.

“Ada apa?” Ucapku lalu menghentikan langkah.

“Baju kamu basah, kamu gak bawa payung?” Kata laki-laki itu sambil mendekat.

“Gak bawa, Jod! Aku pikir hujannya gak sederas ini, ‘kan kos aku dekat jadi aku nekat. Eh, malah basah kuyup.”

“Yaudah, lah! Ayo, masuk kelas!” Jody lalu menarik tanganku.

Sesampainya di kelas, aku terheran anak-anak berkerumun seperti pasar. Mereka sedang berkenalan seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, berkulit putih, berambut klimis yang disisir ke belakang sedemikian rupa. Jaket biru khas pembalap yang ia kenakan menambah kesan gagah.

Namun tidak denganku, aku melangkah dengan santai menuju ke tempat duduk nomor tiga dari depan persis sejajar dengan bangku dosen. Bersikap santai dengan datangnya mahasiswa baru tak mau tahu dan lebih ke acuh.

Aku pikir itu hal lumrah, jika ada mahasiswa atau mahasiswi baru datang ke kelas ini. Mau ganteng atau jelek itu nasibnya sama, kalau tidak mau belajar ya tidak akan dapat nilai cumlaude dan menyandang mahasiswa dengan predikat terbaik tentunya.

Bermenit-menit berlalu dan keriuhan akibat teman-teman yang berbondong-bondong memperkenalkan diri pun mereda. Kemudian aku menghadap ke depan. Saat itulah kau sudah berdiri di hadapanku. Dengan seulas senyum tipis dan tatapan ramah, kamu menjulurkan tangan ke arahku.

“Dimas,” katamu. Suaramu terdengar jernih.

Aku mengerjap, lalu menyambut tanganmu. Aku balas menyebutkan nama. Tak sampai dua detik kemudian, kutarik tanganku kembali.

Jabat tangan singkat itu, Apa kau ingat? Aku ragu kau mengingatnya, ragu pula perkenalan itu punya arti bagimu. Tapi, bagiku itu sangat berarti. Karena seperti yang sudah kukatakan, itu adalah awalnya. Aku ingat kau sempat melebarkan senyummu sebelum menjauh, meninggalkan wangi parfum citrus di tempat tadi kau berdiri.

Berhari-hari setelah itu, aku baru tahu kalau kau dan Jody sempat berada di satu kelas yang sama sebelum pindah ke kelas kami. Kelak, aku juga akan tahu bahwa kau menyesali kepindahanmu itu. Dan menyesali kita.

***

Semenjak itu, jabat tangan menjadi semacam ritual bagi kita. Bedanya, jika ritual sungguhan umumnya hanya dilakukan pada saat-saat tertentu, namun bagi kita, itu bisa dilakukan kapan saja dengan alasan yang sederhana.

Seperti ini…

Aku sudah mengenalmu selama dua bulan. Waktu itu pertengahan bulan Mei, satu bulan menjelang Ujian Akhir Semester yang menguras otak, tenaga, dan waktu. Banyak tugas akhir semester yang diberikan, salah satunya adalah tugas pemrograman visual yang sebenarnya sudah diberikan sejak tiga minggu yang lalu.

“Bagaimana tugasmu?”Tanya Pak Sugeng, dosen IT.

Aku hanya menggeleng kebingungan karena waktu itu aku tidak hadir.

“Dimas tidak memberitahumu?”

“Dimas?” Aku mengernyit.

“Aku membentuk kelompok untuk tugas ini. Kau dan Dimas satu kelompok.”

Mendengar itu, aku lekas menoleh ke sudut kanan belakang. Disana kau menumpukan siku kanan ke atas meja lalu menggaruk-garuk belakang kepalamu sambil cengengesan menempel di wajahmu yang putih.

Aku kembali menghadap ke Pak Sugeng. “Aku tidak tahu, Pak. Dimas tidak bilang.”

Pak Sugeng menatapmu sejenak, dengan memperbaiki letak kaca matanya, kemudian dia kembali menatapku. “Kalian harus cepat! Tugas itu harus dikumpulkan dua minggu lagi!”

Pak Sugeng segera kembali depan kelas. Dan sementara Pak Sugeng kembali berceloteh, kali ini tentang cara menggunakan Crystal Reports. Aku menoleh ke arahmu lagi, kau balas menatapku. Masih dengan cengigiran yang itu, kau berbisik, “Sorry!”

Tak terasa kelas Pak Sugeng berakhir. Beliau sudah berlalu dari dalam kelas.“Ada tugas kelompok dari tiga minggu yang lalu dan kau tidak memberitahuku padahal kita satu kelompok dan tugas itu harus dikumpulkan dua minggu lagi?” semburku seraya berjalan keluar dari ruang kelas.

Sorry!” ucapmu di sela-sela usahamu mengejarku.

Aku mendengus keras. “Biar kutebak. Aku tidak akan pernah tahu ada tugas kelompok kalau saja tadi Pak Sugeng tidak menyinggungnya.”

Sorry! Aku benar-benar lupa kalau ada tugas,” balasmu. “Hei, berhenti dong. Aku capek.”

Aku berhenti berjalan dengan menghentak tanah. Saat itu aku sudah sampai di taman kampus. Aku tidak akan tahu kalau kau tertinggal cukup jauh jika saja aku tidak berbalik ke belakang dan menemukanmu sedang mendekat ke arahku dengan langkah-langkah panjang. Ya, salah satu kebiasaanku: kecepatan berjalanku kerap melejit saat aku sedang marah.

“Lain kali, ketika aku tiba-tiba melempar kepalamu dengan buku, aku akan bilang, ‘Sorry, aku benar-benar lupa kalau kau itu temanku!’” kataku sarkatis.

Kau berhenti di dekatku dan terkekeh dengan napas yang kepayahan.“Jangan marah dong.”

“Bagaimana bisa aku tidak marah?” Aku mendelik dongkol. “Kita harus membuat program penjualan, pembelian, dan pengendalian stok dengan menu cetak laporan dan bugs[1] seminimal mungkin dalam waktu dua minggu.”

Kau menatapku menenangkan. “Begini saja. Kau buat rancangan interface[2]-nya dan aku yang buat programnya. Dengan begitu, aku bisa menebus kesalahanku dan kau tidak perlu melempar kepalaku dengan buku. Bagaimana?”

Alisku terangkat. “Jadi, tugasku cuma membuat rancangan interface?”

Kau mengangguk.

“Dan kau yang akan membuat programnya?”

Kau mengangguk.

“Seluruh programnya?” tanyaku memastikan.

Kau mengangguk lagi.

“Oke!” aku sepakat tanpa pikir panjang.

Kau tersenyum, lalu menjulurkan tangan kanan. “Jadi …, maaf?”

Sesaat, aku menatap heran pada tangan kananmu. Tapi, akhirnya kusambut juga.
“Dimaafkan,” sahutku.

Itu jabat tangan kita yang kedua. Dan tidakkah yang kali ini sedikit aneh? Maksudku, kau bisa saja meminta maaf tanpa perlu mengajakku berjabat tangan. Tapi, kau melakukannya. Dan perlahan-lahan aku mulai merasa bahwa jabat tangan itu, dan jabat tangan yang lain setelah itu bukan jabat tangan biasa.

Perlahan-lahan pula aku mulai paham, meski tidak kau katakan, bahwa jabat tangan-jabat tangan itu adalah cara mengungkapkan perasaanmu.

***

Aku rasa sejak awal jabat tangan memiliki arti khusus dalam cerita kita, bukan begitu? Jabat tangan itu bukan hanya awalnya, tapi ia juga adalah gambaran sempurna untuk keseluruhan cerita kita. Sama seperti jabat tangan, pada akhirnya, selama apa pun kita telah saling bertaut, kita tetap harus berpisah. Karena jika kita jabat tangan selamanya, bagi orang lain itu akan terlihat salah.

Enam bulan telah berlalu sejak kepindahanmu ke kelas kami, dan selama itu entah sudah berapa kali kau mengajakku berjabat tangan. Ketika kau meminta maaf bahkan untuk kesalahan yang sangat sepele, setiap kali kita sepakat mengenai sesuatu, saat proposal skripsiku diterima, setelah aku selesai sidang skripsi, dan di banyak kesempatan yang lain. Dan setiap kali kau mengulurkan tangan, aku tidak pernah menolak untuk menggapainya. Bagaimana bisa aku menolak jika berada dalam rengkuhan jemarimu yang panjang itu terasa begitu hangat?

Akan tetapi, seperti kataku tadi, pada akhirnya kita tetap harus berpisah.

Masihkah kau ingat bagaimana suasana ballroom hotel itu? Luas, didominasi warna biru dan dipenuhi oleh para wisudawan dan keluarga. Kau dan aku hanya segelintir dari keramaian yang datang di acara pelepasan wisudawan yang rutin diselenggarakan oleh pihak kampus.

Saat itu adalah menit-menit terakhir sebelum keramaian membubarkan diri, menit-menit saat semua wisudawan saling mengucapkan salam perpisahan ketika kau menghampiriku dengan setelan kemeja merah gelap dan celana panjang hitam yang tampak formal. Pendamping di sebelahmu adalah kekasihmu yang telah kau pacari selama empat tahun. Aku baru tahu kau sudah memiliki kekasih setelah Ujian Akhir Semester selesai. Dan kau tahu apa artinya itu? Bagiku, itu berarti meskipun kedua tangan kita sering saling bertaut, ada satu hal tentang kita yang tidak akan pernah saling bertaut. Atau, mungkin sejak awal memang begitu adanya dan aku terlalu naif karena masih saja berharap.

“Hei!”sapamu.

“Hei!” balasku.

“Perkenalkan, ini Anggi.”

Kekasihmu mengulurkan tangan. Bibirnya melengkungkan senyum.“Anggi.”

Aku menatapmu sepintas sebelum kusambut uluran tangannya. Kubalas senyum tipisnya sambil mengucapkan namaku.

“Kami akan pulang sebentar lagi,” ujarmu.

Aku mengedikkan bahu. “Itu yang semua orang akan lakukan sebentar lagi.”

Kau tersenyum sendu. Aku ikut tersenyum, sama sendunya.

“Kalau begitu, semoga sukses!” ucapmu seraya mengulurkan tangan.

Aku tatap tanganmu sejenak, lalu kujabat. Kehangatan sontak membungkus tanganku. Untuk kali ini, jabat tangan kita berlangsung lebih lama daripada biasanya. Kurasa, karena kita sama-sama tahu , setelah ini, setelah jabat tangan yang ini, mungkin tidak akan ada lagi jabat tangan yang lain.

“Sampai jumpa!” katamu saat jabat tangan kita terurai.

“Sampai jumpa!” kataku.

Kau tersenyum lagi seolah tidak ada penyesalan apa-apa. Tapi, aku tahu ombak apa yang berdebur di balik mata hitammu karena ombak yang sama juga berdebur di balik mataku. Ombak kesedihan itu ….

Kau dan kekasihmu berbalik menjauh. Aku ikut berbalik dan menjauh.

Kuhela napas dalam-dalam. Sekelilingku tampak memudar dan aku merasa seperti daun kering yang melayang-layang. Jadi, bagaimana aku akan mengakhiri cerita ini? Kalimat apa yang kira-kira bagus?

***

Lima tahun berlalu setelah kamu melayangkan ucapan “Sampai jumpa,” aku belum diijinkan untuk menemuimu kembali. Terakhir kamu mengirim pesan kepadaku dua tahun yang lalu, dan berkata jika kamu sedang mengembangkan bisnis yang sedang kamu tekuni, menjadi seorang programer. Bukankah itu yang kamu inginkan dari dulu? Dan aku sangat bahagia mendengar kabar tersebut.

Pagi ini, hujan kembali menderas di sudut-sudut kota, namun itu tidak menyurutkan semangatku untuk melanjutkan aktifitasku seperti biasanya. Pukul 08.00, aku sudah sampai di tempatku bekerja. Aku berjalan menyusuri koridor demi koridor, kadang bersimpangan dengan mahasiswa yang sangat ramah menyapaku dengan senyuman atau bahkan ucapan selamat pagi.

“Bruuuk!” buku yang aku pegang seketika berhamburan ke lantai setelah aksi tabrakku dengan seseorang.

“Maaf, aku tidak tahu, Pak!” kataku gugup lalu aku menunduk memunguti buku-buku yang berserakan.

“Maafkan aku juga, aku tadi bermain gadget jadi tidak sadar,” ucap laki-laki itu lalu ikut memunguti buku.

“Sudah, Pak, terimakasih. Silakan!” ucapanku terpotong saat melihat laki-laki di depanku yang saat itu raut mukanya terlihat jelas.

“Kamu!” ucap kita serempak.

“Wah, dunia sempit sekali! Lama tak berjumpa, Yu!” ucapmu dan kita berusaha berdiri memperbaiki posisi.

“Apa kabarmu? Kenapa kamu disini?” katamu sesaat setelah kita berdiri, Kamu tanpa di suruh lantas mengulurkan tangan kananmu, mengajakku berjabat. Jabat tangan yang sudah lama sekali tidak aku rasakan, jabat tangan yang sudah sangat aku rindukan. Dan jabat tangan yang dulu adalah rutinitas kita setiap hari.

“Aku baik, sangat baik sekali. Kamu kenapa disini?” ucapku, dan jabat tangan itu belum terlepas sampai jawabanku terucapkan dengan lantang di depanmu. Sepertinya kita sangat merindukan momen ini, hingga kita tidak tersadar dengan apa yang kita lakukan.

“Eh…, sorry!” katamu, dan kamu melepas jabat tangan itu. Malunya aku saat-saat seperti ini, tapi lucunya kamu lalu tersadar akan kelakukan kita yang ternyata tidak berubah meski lima tahun tidak bertemu.

“Ayo duduk di sini dulu, kita ngobrolsebentar,” ucapku dan menunjuk kursi dekat sebuah ruang kelas demi menghapus gugup yang sedari tadi aku rasa.

Sesaat kita terhanyut dalam nostalgia masa lalu, mengupas segala hal yang dulu pernah kita alami. Dan saat itu kita kembali seperti dua pasang mahasiswa yang tanpa malu mengucapkan apapun dan tidak peduli kita lagi dimana.

“Selamat pagi! Maaf, saya mengganggu hari ini ada jadwal kuliah Anda,” ucap seseorang memecahkan keasyikan kita berbincang.

“Oh, maaf. Saya terlalu asyik ngobrol dengan teman lama saya. Terimakasih sudah diingatkan dan silakan balik ke kelas, saya segera menyusul,” ucapku kepada salah satu mahasiswaku, dan dia mengangguk mengerti lalu pergi.

“Kamu, ngajar ya di sini Yu?” katamu kaget, setelah melihat perbincangan tadi.
“Iya, Dim. Sudah satu tahun ini aku mengajar disini. Pak Sugeng yang mengajakku, waktu itu aku bingung mencari pekerjaan setelah 4 tahun bekerja dan kontrakku habis. Aku ditawari menjadi dosen menggantikan posisi Pak Sugeng yang akan pensiun tahun ini,” jelasku dengan rinci.

“Kenapa kamu gak bilang daritadi, Yu?”

“Belum sempat ngomong, kita sedang asyik bercanda tadi. Aku gak tega memotong dengan pembahasan yang lain,”

“Ya sudah, kamu ngajar dulu. Aku kesini juga ada urusan, kita bisa ngobrol lagi lain kali,”

“Dim, kamu dimana sekarang?”

“Aku disini sama kamu, kok tanya?”

“Maksud aku, usaha kamu gimana?”

“Sudah ada yang mengurus anak buahku, makanya bisa aku tinggal kesini kemana-mana sekarang,”

“Yaudah, aku masuk kelas dulu, Dim. Kasian mereka menunggu.” Aku pun beranjak meninggalkanmu.

Belum sempat aku berjalan tiga langkah, kamu sudah menarik tanganku. Hingga aku berbalik badan,

“Besok-besok sempatin waktu untuk kita bertemu, Yu,” katamu dengan senyuman yang sangat menghipnotis.

“Oh, oke! Lekas balik kalau urusanmu sudah selesai,” aku membalas dengan senyum lalu melepas tanganku dari genggamanmu.

Tangan kananmu lalu otomatis terjulur, dan itu jabat tangan yang kedua siang ini. Dan aku selalu menikmati momen itu. Kapanpun dan dimanapun.

Sejak pertemuan kita di kampus kemarin, kita kini dekat kembali. Menghabiskan waktu bersama, makan atau hanya sekedar jalan-jalan melepas penat. Bercerita tentang apapun hingga menghabiskan kopi hingga larut.

Kamu selalu berkata, kita akan tetap jadi teman yang baik hingga kapanpun. Meski mungkin, semua akan berakhir pada masanya nanti, tapi biarlah semua berjalan apa adanya. Tanpa kita saling melepas dan terus menjabat, waktu pasti akan terus bersahabat walaupun kita tak pernah bisa saling mengikat.

***

Kita menonton Hunger Games Sabtu itu dan tidak hanya itu, di sabtu berikutnya kau mengajakku ke toko buku untuk membeli beberapa buku tentang pemrograman. Di Rabu berikutnya kau sengaja mampir ke kampus di sela-sela jam makan siangmu hanya untuk memberiku satu cup kopi, beralasan bahwa sedang ada promo beli satu gratis satu. Dan di beberapa Jumat, hari dimana waktu makan siang dijatah lebih lama, kau mengajakku makan siang bersama. Semua janji temu itu dan jabat tangan yang menyelinginya, semua itu mau tak mau membuatku bertanya-tanya sendiri, akankah kali ini kita memiliki arti yang lebih daripada yang dulu?

Tapi, Jumat itu, enam bulan semenjak jalan kita kembali bersinggungan, saat kau muncul dengan air muka yang keruh, aku tahu aku tidak semestinya berharap lagi. Aku seharusnya sudah tahu bahwa apa yang terjadi selama enam bulan ini hanyalah euforia semata. Bahwa kembalinya dirimu ibarat pesta kembang api yang kutunggu di setiap malam tahun baru, yang walau berlangsung lama, namun pada akhirnya akan berakhir juga dan tidak menyisakan apa-apa selain kenangan dan rasa kehilangan.

Kau terdiam lama setelah mengambil tempat duduk di depanku. Suasana bistro ramai dan suara pengunjung yang bercakap-cakap terdengar seperti dengungan kumbang besar di telingaku. Lalu, masih dengan diam, kau meletakkan sesuatu di atas meja dan mendorongnya ke arahku. Bentuknya persegi panjang dan berwarna putih keemasan. Napasku sekonyong-konyongnya terasa berat. Sebuah undangan pernikahan.

Dimas Putra Pratama, S.Kom. & Anggita Sukmawati, S.E.

Anggi … Itu nama kekasihmu yang kau kenalkan padaku di malam pelepasan.

“Undangan pernikahan?” tanyaku getir.

Kau menatapku sebentar, menghela napas, lalu menunduk. Waktu terus berlalu dan kau tidak kunjung bersuara. Saat kukira kau tidak akan pernah menjawab pertanyaanku, kau bergumam pelan, “Aku minta maaf, Bayu.”

Aku tidak akan berbohong. Ada kalanya aku meragu, apakah ini cuma imajinasiku saja, bahwa jabat tangan-jabat tangan itu tidak pernah berarti lebih, bahwa hubungan kita tidak pernah lebih dari sekadar teman dekat. Karena tidak ada satu kata pun darimu yang pernah menegaskan hubungan kita.

Kau dan aku … berdua kita layaknya abu-abu. Namun, sekarang, untuk pertama kalinya kau menegaskannya. Untuk pertama kalinya kau memisahkan keabu-abuan kita ke dalam hitam dan putih. Untuk pertama kalinya kau menyampaikan perasaanmu lewat suara, lewat nada-nada penyesalan.

“Minta maaf untuk apa, Dim?”

“Semuanya.”

“Kau tidak punya hak, Dim,” kataku dingin. Kau tampak tersentak.“Kau sudah memilih. Kau kembali lagi setelah sekian lama dan pada akhirnya kau memilih untuk menikah. Maksudku, untuk apa?
Untuk apa kau repot-repot kembali? Akan lebih mudah jika kau tidak pernah kembali. Akan jauh lebih mudah jika kita tetap berada di luar jarak pandang masing-masing.”

“Maaf …,” gumammu pelan, nyaris berbisik.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Dim, kau tahu kenapa hubungan kita tidak akan pernah berhasil?”

“Karena kita berdua laki-laki?”

Aku menggeleng pelan.“Karena pada akhirnya, kau tidak akan pernah memilihku.”

Itu membuatmu tenggelam lagi dalam diam. Aku meraih undangan pernikahanmu, mengamatinya sebentar. Lalu dengan seulas senyum samar aku berkata, “Selamat ya. Aku ….”

Kalimat itu toh tidak pernah terselesaikan. Sebab, sementara bibirku ingin mengucapkan aku turut bahagia semua sel dalam diriku meneriakkan kata tidak.

Jam makan siang sudah nyaris berakhir, tapi aku masih belum mau meninggalkan bistroini. Sebab, aku tahu, saat aku melangkah keluar dari sini, aku harus melangkah keluar dari kehidupanmu juga, sekali lagi.

Aku tahu aku harus merelakanmu. Aku tahu aku akan merelakanmu. Maksudku, apa lagi yang bisa aku perbuat selain itu? Di kala dua orang terpisah terhalang karena perbedaan, kita disini, terpisah karena persamaan. Jadi, biarkan aku menghilang ke dalam ketiadaan. Sebab, itulah caraku merelakanmu sampai tiada.

The End

Keterangan:
[1] Bugs: Kesalahan dalam program
[2] Interface: Tampilan program

Kolaborasi cerpen oleh:
1. @vidtri aksaramadhani.wordpress.com
2. @sastratika sastratika.wordpress.com

“Kala Sesal Jadi Pesan”

“Brraakk!” suara buku terjatuh di persimpangan koridor menuju kelas XI A.

“Maaf, Pak!” ucap Rara gugup sambil merapikan buku yang berserakan di lantai. Bapak dengan baju korpri itu menghentikan langkahnya sejenak kemudian pergi.

Pelajaran dimulai sesaat setelah Rara masuk kelas, hampir saja dia terlambat Rabu itu. Tak terasa, pelajaran sudah berlangsung limabelas menit, namun bangku di samping Rara masih kosong . Padahal, pemilik bangku itu biasanya selalu datang lebih awal jika Bu Ana guru Matematika paling killer di sekolah ini mengajar. Fikiran Rara terus berkecamuk, bertanya-tanya, kemana sahabatnya itu tidak biasanya dia datang tanpa keterangan.

Bu Ana menerangkan rumus-rumus dengan seksama, menuliskannya dengan runtut di papan tulis. Namun kursi di barisan nomor tiga dari belakang ternyata telah menemukan kesibukannya sendiri. Dengan handphone yang ditutup buku dan berpura-pura mendengar penjelasan, Rara mencoba menghubungi Fifi, pesan singkat dia kirim berulang kali. Namun, hingga pelajaran pertama usai, tidak ada balasan apapun.

Rara mencoba menghilangkan segala pikiran negatif tentang Fifi, meski sebenarnya, dia tetap tak bisa tenang dan ingin segera ke rumah sahabatnya itu.

Tepat pukul 12.00 bell istirahat kedua berbunyi, siswa siswi berhamburan keluar  untuk memanjakan perut mereka atau hanya sekedar mencari angin. Berbeda dengan Rara, ia masih termenung didalam kelas, memikirkan sahabat karibnya yang sampai saat ini belum ada kabar. Suara ponsel tiba-tiba berdering.

“Ya, Tante!” ucap Rara sesaat setelah meletakkan handphone di telinganya. Namun, wajahnya berubah drastis, seakan ada kabar buruk dari seseorang di seberang jaringan.

“Sekarang di mana Tante?” lanjut  Rara. Kini air matanya mulai menetes tak tertahan.

“Rara akan segera kesana Tante!” Dengan segera Rara mengambil tasnya lalu beranjak keluar kelas.

*****

Di bangunan tiga lantai dengan nuansa putih, orang-orang berlalu lalang untuk memeriksa kesehatan, menunggu kerabat sakit, atau sekedar membesuk. Terlihat seorang gadis dengan rambut tergerai sebahu, mengenakan switer biru, rok abu-abu khas anak SMA, dengan fantofel hitam, berjalan tergesa-gesa menuju ujung koridor. Sesekali dia menyeka air mata yang menyisir di pipinya.

Sesampainya di depan ruangan ICU Rara menghentikan langkahnya. Dia lalu memeluk seorang wanita berumur 40 tahun yang duduk cemas di kursi ruang tunggu.

“Kenapa bisa seperti ini Tante?”

Tante Ratih diam sekejap. “Tadi, saat berangkat sekolah, Fifi tertabrak mobil sedan di jalan besar sebelah tugu selamat datang. Tante juga belum tahu kejadian yang sebenarnya, Tante hanya mendapat telepon dari Om Joko kalau Fifi sudah ada di rumah sakit.”

Rara segera melepas pelukannya. Pandangannya kosong kedepan, terdiam dengan tangis yang terus menderas.

“Maafkan aku, Fi!” ucap Rara dalam hati.

Di sudut koridor terlihat seorang pria dengan kepala diperban, baju berlumuran darah yang terlihat lecet-lecet dibagian tangan dan kakinya, berjalan pelan ke arah mereka.Sesekali dia memegangi kepalanya yang mungkin pening.

“Maafkan saya, Tante, saya berjanji akan mengganti semua biaya rumah sakit,” ucap pria itu setelah terduduk bersimpuh di depan Tante Ratih.

Rara yang naik pitam lantas berdiri, emosinya segera tertuju pada pria tersebut.

“Apa kamu pikir uang segalanya? Apa kamu pikir dengan uang bisa membuat sahabatku sehat kembali?”

“Sudah, Ra! sudah!” Tante Ratih langsung berdiri, menenangkan.

“Tapi, Tante….”

“Ssst, Ra, Tante tahu gimana perasaan kamu sekarang. Siapa orang tua dan sahabat yang terima dengan keadaan seperti ini? Tidak ada, Nak! Semua sudah digariskan Allah, tidak ada yang bisa disalahkan. Berdoalah, Nak, semoga Fifi baik-baik saja!”

“Maafkan aku, Dik!” hanya kata itu yang terucap dari pria tersebut. Dia mencoba menjabat tangan Rara, namun dia selalu menepis

“Sudah, sudah, jabat tangan kalian, Nak! Semua ada jalan keluarnya!” Om Joko, ayah Fifi yang sedari tadi berdiri mondar-mandir mencoba meredakan suasana.

Ruang tunggu kembali sunyi, hanya doa dan pengharapan yang terlihat jelas di sorot mata mereka yang berkaca-kaca. Berharap, tidak akan terjadi apa-apa pada Fifi.

*****

Hari kamis menjelang, saatnya kembali memulai aktifitas. Pukul 14.15, Rara sudah sampai di rumah sakit. Dengan membawa tas kresek putih berisi roti kesukaan Fifi, Rara berjalan pelan menuju tempat yang sudah di informasikan Tante Ratih tadi pagi.

“Selamat siang, Tante!” sapa Rara sembari mencium tangan tante Ratih.

“Siang juga, Ra!” jawab tante Ratih. Wajahnya agak pasi.

“Gimana kondisi Fifi, Tante? Baik-baik saja, kan?”

Tante Ratih hanya mengangguk. Namun, di balik anggukannya itu, menyisakan seribu pertanyaan.

“Emang ada apa, Tante?” Rara mulai penasaran.

“Sudah, masuk saja, temui Fifi, Ra!”

“Iya, Tante. Rara masuk dulu, ya!” Rara segera beranjak.

Didalam, terlihat Fifi masih merajut mimpinya. Selang infus tertancap di tangannya. Hidung dan mulutnya terkatub ujung selang oksigen untuk membantunya bernafas. Balutan perban juga terlihat melingkari kepalanya.

Sesaat Rara tertegun tak percaya saat dia mendekati Fifi yang terbujur lemas di ranjang.

“Maafkan aku, Fi,” ucapnya dalam hati. Dia membungkam mulutnya sendiri kuat-kuat.Perlahan air mata mulai membanjiri pipi, isakan kecil juga terdengar serak dari mulutnya.

“Sudah, Ra!” Tante Ratih memeluk Rara dari belakang, saat Rara sudah hampir pingsan.

“Tante, Rara tidak percaya. Kenapa seperti ini?” Rara tergugun. Dengan jelas dia melihat tangan Fifi tak lagi lengkap. Hanya tinggal lengan bagian atas yang dibalut perban putih di ujungnya.

“Tante bingung, Ra, mau bilang apa sama kamu. Kejadian itu berlalu begitu cepat, Tante juga baru tahu jika tangan Fifi di amputasi setelah selesai operasi. Semua surat-surat sudah di tanda tangani Om Joko tanpa Tante tahu.”

“Tidak …, Tidak! Ini tidak mungkin!” Wajah Rara kian pasi. Air matanya semakin kuat.

Tak berapa lama, terlihat Fifi terbangun dari tidurnya. “Usap air matamu, Ra! Fifi sudah terbangun,” sahut Tante Ratih segera saat mendapati Fifi mulai membuka matanya.

“Fi, kamu sudah bangun?” Raut wajah Rara seketika berubah hingga memberikan ulasan senyum untuk sahabatnya.

Fifi diam, hanya matanya yang mengisyaratkan rasa sakit pada tubuhnya. Air mata seketika membelai pipi putihnya. Rara yang sedari tadi ingin menangis melihat kondisinya, mencoba menahan dan memberikan senyum getir, tak ingin jika sahabatnya melihat raut kesedihan.

“Jangan menangis, Fi. Kamu pasti kuat menghadapi ini,” ucap Rara disela usapan jemarinya menghapus air mata Fifi.

“Fi, minum ya?” ucap Tante Ratih sedikit mendekat ke sebuah rak samping ranjang.

Fifi menggeleng, matanya masih tertuju pada Rara, seperti ada yang ingin dia ucapkan namun tidak bisa.

Hanya sebatas melihat, menangis, dan diam, itulah yang bisa dilakukan Fifi. Seakan mulutnya benar-benar kelu, tak mampu menggerakkan lidah untuk mengucap sepatah kata pun.

*****

Hari ke empat setelah Fifi di rawat, Rara berniat pergi ke rumah sakit bersama Andi, kekasihnya. Mereka membawakan roti dan buah-buahan kesukaan Fifi, walaupun mungkin selama ini makanan yang dia bawa tak pernah disentuh sedikitpun oleh Fifi, namun dia tetap membawakan sebagai oleh-oleh.

Dua sejoli itu melewati koridor demi koridor rumah sakit. Berbincang santai dan sesekali bercanda. Hingga sampai ke sebuah kamar dimana Fifi kemarin dirawat, Namun, betapa terkejutnya mereka saat mendapati kamar tersebut kosong.

“Permisi,  Mbak! Mohon maaf, Mbak tahu pasien di kamar ini kemana? sergah Andi saat bertemu seorang perawat yang kebetulan lewat.

“Maaf, Mas, saya kurang tahu! Coba Mas tanya ke Mbaknya yang di ruangan itu!”jawab perawat itu sambil menunjuk ke ruangan perawat di ujung koridor.

Andi hanya mengangguk dan mengucap terimakasih kepada perawat tersebut. Tak berselang lama, handphone di tas Rara berdering. Rupanya Tante Ratih.

“Halo, Tante?” jawab Rara segera. Namun suara dari seberang bukan suara Tante Ratih, melainkan suara laki-laki.

“Oh, maaf, Om. Saya di rumah sakit, tapi, kok, ruang Fifi kosong?”

Suara dari sambungan telepon itu begitu lirih. Hanya Rara yang mampu mendengar. Namun, seketika itu juga, tubuhnya seperti tak berdaya. Handphone yang dia pegang tadi terjatuh begitu saja kelantai. Ia berdiam, badannya gemetar, air mata mulai memaksa keluar dari sudut mata, serempak membajiri pipi.

“Ada apa, Ra?” sergah Andi segera setelah mengambil ponsel Rara yang terjatuh, lecet sedikit karena terbentur lantai.

“Fifi ….”

“Iya, Fifi kenapa?”

“Fifi …!Tidak,tidak mungkin!” Rara menggelengkan kepalanya, mundur sedikit hingga tubuhnya menabrak tembok, kemudian terduduk lesu.

“Fifi kenapa?” Andi ikut duduk, memandang Rara yang masih menunduk menitikan air matanya. Rara hanya diam kemudian memeluknya kuat-kuat.

“Fifi udah nggak ada, Kak!”

“Maksudnya?”

“Fifi udah ninggalin kita! Dan ini semua salahku!” ucap Rara setelah membuka pelukannya. Ia lantas menunduk, memejamkan mata, menyisir rambutnya dengan sela-sela jarinya. Isakan parau tetap mengiringi, malah makin keras.

*****

Satu minggu beranjak dari kematian Fifi, dari jauh terlihat seorang gadis memasuki pemakaman. Dengan gontai dia melangkah, membawa plastik hitam di tangan kanannya dan plastik putih di tangan kirinya.

“Hai, Fi! Apa kabarmu hari ini?” sapa Rara setelah sampai di depan sebuah makam yang masih baru.

“Hari ini aku sengaja membawakan roti kesukaanmu seperti biasanya saat kita bertemu, Fi.” Dia meletakkan roti di depan pusara Fifi.

“Fi, aku rindu sekali dengamu, aku ingin bertemu kamu, tertawa bersama, menghabiskan sisa waktu ditaman kota setiap senja. Menghabiskan sisa es coklat sambil makan camilan dan bercerita tentang kita sepulang sekolah,” Rara terdiam sejenak lalu menyeka air matanya.

“Fi, maafku ini mungkin sudah maaf kesekian kali setelah kejadian itu, dan mungkin kamu tak pernah tau arti maaf ini apa. Maafkan aku, Fi. Aku tak pernah jujur denganmu atas semua yang sudah aku lakukan,” ucapnya makin lirih.

“Fi, sebetulnya hari itu, aku tidaklah sedang mengantar adik ponakan aku ke sekolah. Namun aku ada janji dengan  Andi,” ucapnya berhenti semakin getir, mulutnya mengucap pengakuan menyakitkan.

“Harusnya, aku tak memilih bersama Andi jika aku tahu akan berakhir begini. Aku menyesal, Fi. Aku menyesal berbohong kepadamu, harusnya, aku paham jika kamu memang belum bisa bersepeda dengan baik, harusnya aku tahu, Fi,” Rara tersedu, tangisnya makin terisak.

“Maafkan atas segala salahku, maafkan sahabatmu ini, Fi,” dia semakin tersedu dengan pengakuannya. Di usapnya perlahan nisan yang tertulis jelas sebuah nama, Fifi Firaudian Rahmawati.

Rara lalu diam dalam doanya, sesekali dia menyeka air mata yang terus menderas di pelupuk matanya. Pengakuan itu mungkin sudah terlambat, pengakuan itu mungkin sudah tak berguna lagi sekarang. Takdir yang tertulis tak pernah lagi bisa terhapus, semua sudah digariskan Tuhan dengan sedemikian rupa. Dan mungkin Tuhan lebih sayang kepada Fifi, hingga itulah pilihan yang paling baik yang Tuhan berikan, meski itu sangat menyakitkan.

Senja yang semakin menjingga mengurungkan niat Rara untuk bertahan lama di tempat itu. Dia kemudian menaburkan bunga sambil sedikit terisak, walau pelan. Sebentar dia memandangi makam itu kembali, lantas dia beranjak pergi.

Biarkan sesalku terkubur bersama ragamu.
Biarkan kepergianmu menjadi pesan untukku.
Kau tetap hidup disini,
Di dalam hati ini
Meski kau tak ‘kan pernah kembali.
Sahabat sejati


END~

Fitri, Januari 2017💐

 

 

 

“Kala Raja Lupa Diri💐”

​Hati saya kena duri
Duri lara tapi alus
Alus rupa juga ucap
Ucap baik tapi bius

Kamu raja rupa hina
Hina rasa juga mata
Mata buas suka lupa
Lupa diri juga anak

Saya reka diri Anda
Anda lupa rasa luka
Luka anak juga ratu
Ratu haru ucap pilu

Raja, kaca diri Anda
Kala ucap jadi luka
Bait rasa jadi hina
Raga mati bawa lara

Fitri, Januari 2017