Hujan, Rindu, Kenangan dan “Kamu”


Hujan
Kenangan 
Dan lembaran aksara
Membuka jelas kembali tabir memori tentangmu.

Entah mengapa…
Kenangan selalu berkongsi dengan hujan
Kenangan selalu berjabat erat dengan mendung. 
Dan mungkin…
Mereka tak mau terpisah
Mereka selalu berbahagia melihat aku mati-matian menyibukkan diri 
p0dahal dalam hati kamulah yang berkecamuk membentuk guratan kenangan kepada rindu.

Seperti milyaran tetesan langit kepada bumi, membasahiku setetes demi tetes akan pilunya rindu tak terbalasku. 
Aku terkuyup akan memori kita, sedang kamu di sana sedang asyik-asyiknya berbahagia dengan hujan agar krisan yang kau tanam terkhusus untukku tumbuh dengan mekar. 

Yah, aku paham. 
Kamu memang telah mempersiapkan diri ‘tuk membunuhku secara perlahan, bukan?

Mati rasaku tiba-tiba saat aku kembali menyebut namamu,
bergetar mulut ini tak mampu mengucap apapun selain namamu.

Rindu, kenangan, dan itu…
Aku terjatuh kembali di atas kenangan yg selalu menggerogoti hati dengan rindu yg menderu.

Bukan…
Bukan aku tak pernah bisa melupakanmu, 
Bukan karena aku tak pernah rela kamu bersanding dengan yg baru. 
Namun kenangan itu, 
Tak pernah bisa membiarkan aku berfikir waras tentangmu. 
Aku rapuh akan kenangan
Aku rapuh akan rindu dan aku tak pernah tahu.

Candu apa yg membuatku selalu mengenangmu dan memberikan tempat terbaik untukmu di hatiku?
Kapankah ini berakhir? 

Entahlah. 
Aku hanyalah wanita sendu yang rela disetubuhi rindu meski sekalipun tak dibayar.

Sungguh.
Aku bukannya memintamu datang kembali lagi padaku…
Aku bukannya memohon padamu untuk membalas rasaku.
Hanya saja aku mohon kepadamu…
Jangan datang dan pergi seenakmu.
Kamu sudah memutuskan untuk pergi, maka pergilah.
Cukuplah kenangan akan kita yg ku genggam erat.
Dan ku pastikan rindu canduku padamu tak akan mengganggumu dengan kekasih barumu. 

Karena itu,
Relakan aku,
Iklaskan aku,
Lepaskan aku

Maaf, aku tak sopan.
Andai kau tahu cinta…
menetralisir cinta dan sayang yg sudah sangat pekat itu tak mudah!

Aku butuh waktu berbulan bulan lamanya untuk itu. 
Dan jika tulisanku melulu tentang kamu
itu bukan karena aku tak pernah bisa melupakanmu, 
tapi aku selalu di hantui oleh rasa cinta dan sayang yg besar itu.

Maaf sekali lagi aku tak sopan. 
Aku memang belum baik-baik saja. 
Tapi pasti, 
aku akan baik-baik saja… nanti.

Hantu akanmu suatu saat akan pergi.
Lambaian rindu akanmu suatu saat akan musnah.
Rabaan akan kenangan kita di ujung jalan kala hujan itu pun akan sirna.

Ku mantapkan hatiku.
Jikalau aku jatuh cinta lagi,
Janganlah saat hujan ada.

Sebanyak tetesan hujan yang jatuh, sebanyak itulah aku harus membunuh pelan detakan nada-nada akanmu sepanjang detikku.

Pada akhirnya,
Aku hanya mampu mengatakan…
Terima kasih karna sempat ada, 
terima kasih karna sempat mau.

Selamat tinggal kamu,
Paket sendu rindu yang memilu yang kan ku buang dalam untaian waktuku

Terima kasih kepada kontributor yang tak pernah bosan-bosannya candu akan rindu:
1. @arshanovya – sastratika.wordpress.com
2. @vidtri – aksaramadhani.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s