“Sohib Baru, Cerita Baru di Tahun yang Baru”πŸ’

​Hmmm…
Teman itu kayak jodoh, 
kataku di mana kita nyambung di situ ada jalan. 
Seperti juga kita, kita bertemu di awal bulan Desember 2016 tepatnya saat kita ikut salah satu grup yg bisa di bilang grup penulis. 
Entah menulis puisi, cerpen, bahkan bisa jadi novel. 

Mulanya, kita akrab karena kita sama-sama siap tempur kalau diajakin kolaborasi puisi.  
Ilmu dadakan mungkin kalau biasanya orang bilang. 
Hingga di tanggal 20 Desember 2016, kita mencoba peruntungan…
Kolaborasi puisi, katanya. 
Puisi pertama banget yg pure milik kita berdua tanpa campur tangan apapun kecuali smartphone (hehehe) ialah Sepucuk Nestapa (judulnya aja udah pilu kan?)
Yah. Dan lucunya, kita gak pernah dipertemukan dalam satu kelompok kolaborasi puisi. Lalu, ketika di WA, hanya kita berdua yg hiperaktif. 
Kita sering menyambung-nyambungkan puisi. 

Ilmu dadakan yg kita sukai berdua itu ternyata memiliki efek besar terhadap pertemanan kita. 
Sepucuk Nestapa.
Itulah kolab puisi awal kita dengan susunan yg masih acak adul.
Dua wanita yang memiliki hati besar kayak kita ini, yang ratunya baper… akhirnya menghasilkan karya pilu seperti sepucuk nestapa tersebut. 

Kita memang tidak pernah dipertemukan lewat jabat tangan. 
Hanya perkenalan tanpa perjamuan, hanya perkenalan lewat udara lalu kita menjadi teman, 
sohib bahkan partner kolaborasi puisi yang dengan “oneng”nya suka nyambungin puisi walau kadang gak nyambung.
Tidak ada yang merasa lebih, tidak ada juga yang merasa lebih baik. Kita sama-sama belajar untuk karya terbaik atas nama KITA .

Kita dengan lugunya menjodohkan bait yang entah benar itu bait atau bukan, tapi dengan sedikit keberanian untuk bebas berkarya, jadilah beberapa karya kita. 
Salah satu karya yang benar-benar menguras kesenduan hati kita ialah Raga yang memudar. 
Dengan kekelaman khas kita masing-masing, menggabungkan kata demi kata hingga menjadi prosa… 
yang pada akhirnya, menguras air matamu, air mataku, air mata kita.

Malam demi malam kita lewati dengan berbagi cerita masa lalu yang cukup pilu. 
Entah berapa malam pun, cerita itu belum sampai pada akhirnya. 
Kita saling menguatkan, saling membuka mata satu sama lain untuk melihat dengan jelas.

“Karena hidup gak melulu baper soal apa yg kasat mata hib πŸ™‚ 
Banyak yang mestu kita pelajari tentang mereka yang ada d sekitar kita tapi kadang kita tutup mata.”
“Sakit hati itu biasa. Itu tandanya kita punya hati. Bukan melupakan yang penting, tapi ketika kamu mengingatnya, itu bukanlah hal  yg menyakitkan lagi. Karna Tuhan telah menciptakan obat paling mujarab untuk menyembuhkan sakit hati. Obat itu disebut waktu”
Begitulah sedikit contoh bagaimana kita saling mendukung dan menyayangi satu sama lain.

Sebetulnya…
Yg kami bicarakan bukan hanya soal puisi, prosa novel cerpen atau sebagainya melulu tentang tulisan. 
Tapi lebih dari itu, 
kami sudah saling tahu tentang profesi. Baru kenal berapa bulan saja kami sudah seperti kenal 1 atau 2 tahun. 
Baru tanggal 20 Desember kemarin kami meresmikan diri menjadi sepasang sohib yg saling menguatkan saling berbagi cerita suka duka sedih dan bahagia.

Hingga puisi baper on post kami, memporakporandakan blog. 
Tujuan kami sama, yaitu sama-sama belajar, 
banyak hal yang ingin kami capai di tahun ini, 
banyak hal yang masih menjadi angan yg mungkin akan kamu wujudkan satu persatu.
Salah satunya menulis ini.

Itulah kami. 
Dua wanita di tempat dan waktu yang berbeda telah menjalin hubungan manis yang disebut sohib. 

Ternyata benar yah, bukan masalah seberapa lama kita mengenal seseorang untuk menjadi dekat. 
Lebih dari itu. 
Kesamaan pandangan, visi dan tujuan yg membawa kita menuju wadah yg sama. 
Kami ingin berkembang. Ini adalah hasil dari rencana karya yang kita angankan dan telah terwujud.

Sudah banyak tulisan puisi kami. Satu, dua, tiga…
Kami tulis di kesempatan-kesempatan yang mahal sebenarnya waktunya. 
Tapi kita bisa, apapun itu. Semua memang karena tujuan yg sama, maka kami bisa menjadi sohib.

Dan untuk kesempatan kali ini, izinkan kami sedikit menulis apapun hal tentang kami berdua, sebelum kita melanjutkan misi-misi kita selanjutnya.
Hmmm…
Harapannya, suatu ketika nanti kita bisa saling benar-benar menjabat tangan. Memeluk saling belajar tanpa ada batasan jarak ruang dan waktu. Semoga kami tetap bisa solit menjalin pertemanan, bukan hanya saat ini. 

Tapi hingga entah kapanpun πŸ™‚ 

Karena pertemanan itu tidak melulu soal dia yang kalian bisa ajak gaul bareng, foto keren atau menjadikan diri kalian “hits”. 
Ternyata, sebuah huruf klasik dari a sampai z yg terangkai sedemikian rupa, bisa membawa kalian menemukan sohib sehati dan sepemikiran seperti yang kaita alami πŸ™‚

tidak ada yg bisa mengira, 
Samarinda-Wonogiri bisa sesohib ini hanya karena rumpun sastra :’) 
Tidak ada yg bisa memastikan kamu di sana aku disini cuma kenal lewat aksara.

Terima kasih banyak buat rumpun sastra karena telah mewadahi kami untuk bertemu sahabat serumpun semangat yg sama, visi yang sama dan cita-cita mulia untuk menghasilkan karya. Entah itu lewat aksara, lewat kata, lewat ucapan, lewat puisi, bahkan lewat hati :”)

Salam hangat:
1. @aksaramadhani – aksaramadhani.wordpress.com
2. @arshanovya – sastratika.wordpress.com

Iklan

13 thoughts on ““Sohib Baru, Cerita Baru di Tahun yang Baru”πŸ’”

      1. Rajanya udah kubunuh perlahan dalam tiap detak di detik hidupku, dan kini telah terkubur bersama kenangan dan menguap terbang melayang lalu menghilang. Cukup aku saja yg memimpin negeri pilu ini :”)

        Disukai oleh 2 orang

  1. Aku pikir negri pilu itu memiliki raja bijak yg mungkin akan membawa ratunya pergi dari negri ituπŸ˜’ ternyata aku salah. Aku dulu sempat berfikir jika RAJA dan RATU akan selalu berjalan beriringan dan menggegam tangan. Saling memeluk untuk menguatkan. Ternyata, semua hanyalah lukisan indah pembuat novel” yg menulis sedemikian rupa hingga ceritanya benar” bagus dan baik untuk di nikmati.
    Semua hal yg awalnya indah memang belum tentu berujung indah, pun juga sang raja dan sang ratu…
    Tapii percayalah kamu sohibku, akan ada orang yg menuntun kamu pergii dari kepiluan dari kesenduan dan dari kenyataan terpahit di negrimu sekarang.
    Cerita cinta terbaik segera tertulis jelas untuk wanita berhati besar yg rela d setubuhi rindu tanpa di bayar:’)

    ADEANA!πŸ’

    Disukai oleh 1 orang

  2. Wkwkwkwkwk asli ngakak aku hiiib. Dapat label sudah ya diriku ini :”)
    Wanita berhati besar yg rela disetubuhu rindu tanpa dibayar. Auw auwwww :”D
    Akan ada hib suatu saat. Pasti :”)
    Dan semoga dia adalah raja yg mampu mengobati babak belur hatiku yg telah dinanahi dan dinanar dengan kejam.
    Aku yg memang terlalu berimaji terlalu dalam hingga tenggelam atau memang dia masih acuh tak acuh dan hanya giat merawat sarkasmenya padaku hib? :”)

    Disukai oleh 1 orang

    1. Ah, udah ah….
      Aku gag mau kamu baper terus gitu hib, pindah lapak sama aja gag ada bedanyaπŸ˜’
      Aku tuh menyayangkan hati kamu yg udah baik baik aja, aku gag mau ingetin kamu tentang masa lalu atau apalah yg buat kamu inget ituu semua.
      Cukup hib!
      Mikir waras, cowok gag cuma satu yg bisa buat kamu tergila gila. Yg bakal nulis cerita indahnya sama kamu untuk waktu yg lama gag cuma sekejap dateng sekejap pergi.
      Inget hib, inget!
      Berhenti dari sekarang, atau kamu mau terus kek gini ?? Menjadii ratu baper on post yg gag bisa move on karena satu cowokπŸ˜’
      Hmmmm……
      Biarkan dia menjadi hiasan di penamu, bukan hiasan di kalbumu.
      Biarkan dia menjadi sajak dalam bait mu, bukan di ingatmu

      Disukai oleh 1 orang

      1. Wkwkwk percayalaaah hib, aku hanya baper on the post aja… kamu harus menyaksikan senyum 3/4 ku ini agar kamu yakin bahwa aku benar” melepas semuanya, mengiklaskan semuanya dan memaafkan semuanyaaaaaa.
        Cukuplah kan hib. Cukup. Mikir waras sekarang.
        Entah ini kutukan atau berkah punya teman seorang penulis. Omelannya aja bisa jadi bait puisi yg mengiang menusuk masuk ke dalam sukmaku :”)

        Suka

  3. AAKKK PENGEN PUNYA SOHIB BEGINI JUGAAA! :’) Kemarin, entah lusa kemarin, entah beberapa bulan kemarin pernah dipertemukan dengan “orang” yang samasama cinta tulisan. Sampai membuat karya pun. Tapi belum jodoh kali ya… doinya dengan “ngga tahu malunya” hilang hahhaa. *curcol* 😦

    Suka

    1. Hahahaha aduhh … alhamdulilah samapi sekarang masih sering komunikasian meskipun belum pernah bertemu sama sekali kak:’) karena dia berada di ujung utara indonesia dan aku di ujung selatan:’)

      sabar kak rana, mungkin nanti bisa ketemu sahabat pena yg baruuu:)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s