“Kala Sesal Jadi Pesan”

“Brraakk!” suara buku terjatuh di persimpangan koridor menuju kelas XI A.

“Maaf, Pak!” ucap Rara gugup sambil merapikan buku yang berserakan di lantai. Bapak dengan baju korpri itu menghentikan langkahnya sejenak kemudian pergi.

Pelajaran dimulai sesaat setelah Rara masuk kelas, hampir saja dia terlambat Rabu itu. Tak terasa, pelajaran sudah berlangsung limabelas menit, namun bangku di samping Rara masih kosong . Padahal, pemilik bangku itu biasanya selalu datang lebih awal jika Bu Ana guru Matematika paling killer di sekolah ini mengajar. Fikiran Rara terus berkecamuk, bertanya-tanya, kemana sahabatnya itu tidak biasanya dia datang tanpa keterangan.

Bu Ana menerangkan rumus-rumus dengan seksama, menuliskannya dengan runtut di papan tulis. Namun kursi di barisan nomor tiga dari belakang ternyata telah menemukan kesibukannya sendiri. Dengan handphone yang ditutup buku dan berpura-pura mendengar penjelasan, Rara mencoba menghubungi Fifi, pesan singkat dia kirim berulang kali. Namun, hingga pelajaran pertama usai, tidak ada balasan apapun.

Rara mencoba menghilangkan segala pikiran negatif tentang Fifi, meski sebenarnya, dia tetap tak bisa tenang dan ingin segera ke rumah sahabatnya itu.

Tepat pukul 12.00 bell istirahat kedua berbunyi, siswa siswi berhamburan keluar  untuk memanjakan perut mereka atau hanya sekedar mencari angin. Berbeda dengan Rara, ia masih termenung didalam kelas, memikirkan sahabat karibnya yang sampai saat ini belum ada kabar. Suara ponsel tiba-tiba berdering.

“Ya, Tante!” ucap Rara sesaat setelah meletakkan handphone di telinganya. Namun, wajahnya berubah drastis, seakan ada kabar buruk dari seseorang di seberang jaringan.

“Sekarang di mana Tante?” lanjut  Rara. Kini air matanya mulai menetes tak tertahan.

“Rara akan segera kesana Tante!” Dengan segera Rara mengambil tasnya lalu beranjak keluar kelas.

*****

Di bangunan tiga lantai dengan nuansa putih, orang-orang berlalu lalang untuk memeriksa kesehatan, menunggu kerabat sakit, atau sekedar membesuk. Terlihat seorang gadis dengan rambut tergerai sebahu, mengenakan switer biru, rok abu-abu khas anak SMA, dengan fantofel hitam, berjalan tergesa-gesa menuju ujung koridor. Sesekali dia menyeka air mata yang menyisir di pipinya.

Sesampainya di depan ruangan ICU Rara menghentikan langkahnya. Dia lalu memeluk seorang wanita berumur 40 tahun yang duduk cemas di kursi ruang tunggu.

“Kenapa bisa seperti ini Tante?”

Tante Ratih diam sekejap. “Tadi, saat berangkat sekolah, Fifi tertabrak mobil sedan di jalan besar sebelah tugu selamat datang. Tante juga belum tahu kejadian yang sebenarnya, Tante hanya mendapat telepon dari Om Joko kalau Fifi sudah ada di rumah sakit.”

Rara segera melepas pelukannya. Pandangannya kosong kedepan, terdiam dengan tangis yang terus menderas.

“Maafkan aku, Fi!” ucap Rara dalam hati.

Di sudut koridor terlihat seorang pria dengan kepala diperban, baju berlumuran darah yang terlihat lecet-lecet dibagian tangan dan kakinya, berjalan pelan ke arah mereka.Sesekali dia memegangi kepalanya yang mungkin pening.

“Maafkan saya, Tante, saya berjanji akan mengganti semua biaya rumah sakit,” ucap pria itu setelah terduduk bersimpuh di depan Tante Ratih.

Rara yang naik pitam lantas berdiri, emosinya segera tertuju pada pria tersebut.

“Apa kamu pikir uang segalanya? Apa kamu pikir dengan uang bisa membuat sahabatku sehat kembali?”

“Sudah, Ra! sudah!” Tante Ratih langsung berdiri, menenangkan.

“Tapi, Tante….”

“Ssst, Ra, Tante tahu gimana perasaan kamu sekarang. Siapa orang tua dan sahabat yang terima dengan keadaan seperti ini? Tidak ada, Nak! Semua sudah digariskan Allah, tidak ada yang bisa disalahkan. Berdoalah, Nak, semoga Fifi baik-baik saja!”

“Maafkan aku, Dik!” hanya kata itu yang terucap dari pria tersebut. Dia mencoba menjabat tangan Rara, namun dia selalu menepis

“Sudah, sudah, jabat tangan kalian, Nak! Semua ada jalan keluarnya!” Om Joko, ayah Fifi yang sedari tadi berdiri mondar-mandir mencoba meredakan suasana.

Ruang tunggu kembali sunyi, hanya doa dan pengharapan yang terlihat jelas di sorot mata mereka yang berkaca-kaca. Berharap, tidak akan terjadi apa-apa pada Fifi.

*****

Hari kamis menjelang, saatnya kembali memulai aktifitas. Pukul 14.15, Rara sudah sampai di rumah sakit. Dengan membawa tas kresek putih berisi roti kesukaan Fifi, Rara berjalan pelan menuju tempat yang sudah di informasikan Tante Ratih tadi pagi.

“Selamat siang, Tante!” sapa Rara sembari mencium tangan tante Ratih.

“Siang juga, Ra!” jawab tante Ratih. Wajahnya agak pasi.

“Gimana kondisi Fifi, Tante? Baik-baik saja, kan?”

Tante Ratih hanya mengangguk. Namun, di balik anggukannya itu, menyisakan seribu pertanyaan.

“Emang ada apa, Tante?” Rara mulai penasaran.

“Sudah, masuk saja, temui Fifi, Ra!”

“Iya, Tante. Rara masuk dulu, ya!” Rara segera beranjak.

Didalam, terlihat Fifi masih merajut mimpinya. Selang infus tertancap di tangannya. Hidung dan mulutnya terkatub ujung selang oksigen untuk membantunya bernafas. Balutan perban juga terlihat melingkari kepalanya.

Sesaat Rara tertegun tak percaya saat dia mendekati Fifi yang terbujur lemas di ranjang.

“Maafkan aku, Fi,” ucapnya dalam hati. Dia membungkam mulutnya sendiri kuat-kuat.Perlahan air mata mulai membanjiri pipi, isakan kecil juga terdengar serak dari mulutnya.

“Sudah, Ra!” Tante Ratih memeluk Rara dari belakang, saat Rara sudah hampir pingsan.

“Tante, Rara tidak percaya. Kenapa seperti ini?” Rara tergugun. Dengan jelas dia melihat tangan Fifi tak lagi lengkap. Hanya tinggal lengan bagian atas yang dibalut perban putih di ujungnya.

“Tante bingung, Ra, mau bilang apa sama kamu. Kejadian itu berlalu begitu cepat, Tante juga baru tahu jika tangan Fifi di amputasi setelah selesai operasi. Semua surat-surat sudah di tanda tangani Om Joko tanpa Tante tahu.”

“Tidak …, Tidak! Ini tidak mungkin!” Wajah Rara kian pasi. Air matanya semakin kuat.

Tak berapa lama, terlihat Fifi terbangun dari tidurnya. “Usap air matamu, Ra! Fifi sudah terbangun,” sahut Tante Ratih segera saat mendapati Fifi mulai membuka matanya.

“Fi, kamu sudah bangun?” Raut wajah Rara seketika berubah hingga memberikan ulasan senyum untuk sahabatnya.

Fifi diam, hanya matanya yang mengisyaratkan rasa sakit pada tubuhnya. Air mata seketika membelai pipi putihnya. Rara yang sedari tadi ingin menangis melihat kondisinya, mencoba menahan dan memberikan senyum getir, tak ingin jika sahabatnya melihat raut kesedihan.

“Jangan menangis, Fi. Kamu pasti kuat menghadapi ini,” ucap Rara disela usapan jemarinya menghapus air mata Fifi.

“Fi, minum ya?” ucap Tante Ratih sedikit mendekat ke sebuah rak samping ranjang.

Fifi menggeleng, matanya masih tertuju pada Rara, seperti ada yang ingin dia ucapkan namun tidak bisa.

Hanya sebatas melihat, menangis, dan diam, itulah yang bisa dilakukan Fifi. Seakan mulutnya benar-benar kelu, tak mampu menggerakkan lidah untuk mengucap sepatah kata pun.

*****

Hari ke empat setelah Fifi di rawat, Rara berniat pergi ke rumah sakit bersama Andi, kekasihnya. Mereka membawakan roti dan buah-buahan kesukaan Fifi, walaupun mungkin selama ini makanan yang dia bawa tak pernah disentuh sedikitpun oleh Fifi, namun dia tetap membawakan sebagai oleh-oleh.

Dua sejoli itu melewati koridor demi koridor rumah sakit. Berbincang santai dan sesekali bercanda. Hingga sampai ke sebuah kamar dimana Fifi kemarin dirawat, Namun, betapa terkejutnya mereka saat mendapati kamar tersebut kosong.

“Permisi,  Mbak! Mohon maaf, Mbak tahu pasien di kamar ini kemana? sergah Andi saat bertemu seorang perawat yang kebetulan lewat.

“Maaf, Mas, saya kurang tahu! Coba Mas tanya ke Mbaknya yang di ruangan itu!”jawab perawat itu sambil menunjuk ke ruangan perawat di ujung koridor.

Andi hanya mengangguk dan mengucap terimakasih kepada perawat tersebut. Tak berselang lama, handphone di tas Rara berdering. Rupanya Tante Ratih.

“Halo, Tante?” jawab Rara segera. Namun suara dari seberang bukan suara Tante Ratih, melainkan suara laki-laki.

“Oh, maaf, Om. Saya di rumah sakit, tapi, kok, ruang Fifi kosong?”

Suara dari sambungan telepon itu begitu lirih. Hanya Rara yang mampu mendengar. Namun, seketika itu juga, tubuhnya seperti tak berdaya. Handphone yang dia pegang tadi terjatuh begitu saja kelantai. Ia berdiam, badannya gemetar, air mata mulai memaksa keluar dari sudut mata, serempak membajiri pipi.

“Ada apa, Ra?” sergah Andi segera setelah mengambil ponsel Rara yang terjatuh, lecet sedikit karena terbentur lantai.

“Fifi ….”

“Iya, Fifi kenapa?”

“Fifi …!Tidak,tidak mungkin!” Rara menggelengkan kepalanya, mundur sedikit hingga tubuhnya menabrak tembok, kemudian terduduk lesu.

“Fifi kenapa?” Andi ikut duduk, memandang Rara yang masih menunduk menitikan air matanya. Rara hanya diam kemudian memeluknya kuat-kuat.

“Fifi udah nggak ada, Kak!”

“Maksudnya?”

“Fifi udah ninggalin kita! Dan ini semua salahku!” ucap Rara setelah membuka pelukannya. Ia lantas menunduk, memejamkan mata, menyisir rambutnya dengan sela-sela jarinya. Isakan parau tetap mengiringi, malah makin keras.

*****

Satu minggu beranjak dari kematian Fifi, dari jauh terlihat seorang gadis memasuki pemakaman. Dengan gontai dia melangkah, membawa plastik hitam di tangan kanannya dan plastik putih di tangan kirinya.

“Hai, Fi! Apa kabarmu hari ini?” sapa Rara setelah sampai di depan sebuah makam yang masih baru.

“Hari ini aku sengaja membawakan roti kesukaanmu seperti biasanya saat kita bertemu, Fi.” Dia meletakkan roti di depan pusara Fifi.

“Fi, aku rindu sekali dengamu, aku ingin bertemu kamu, tertawa bersama, menghabiskan sisa waktu ditaman kota setiap senja. Menghabiskan sisa es coklat sambil makan camilan dan bercerita tentang kita sepulang sekolah,” Rara terdiam sejenak lalu menyeka air matanya.

“Fi, maafku ini mungkin sudah maaf kesekian kali setelah kejadian itu, dan mungkin kamu tak pernah tau arti maaf ini apa. Maafkan aku, Fi. Aku tak pernah jujur denganmu atas semua yang sudah aku lakukan,” ucapnya makin lirih.

“Fi, sebetulnya hari itu, aku tidaklah sedang mengantar adik ponakan aku ke sekolah. Namun aku ada janji dengan  Andi,” ucapnya berhenti semakin getir, mulutnya mengucap pengakuan menyakitkan.

“Harusnya, aku tak memilih bersama Andi jika aku tahu akan berakhir begini. Aku menyesal, Fi. Aku menyesal berbohong kepadamu, harusnya, aku paham jika kamu memang belum bisa bersepeda dengan baik, harusnya aku tahu, Fi,” Rara tersedu, tangisnya makin terisak.

“Maafkan atas segala salahku, maafkan sahabatmu ini, Fi,” dia semakin tersedu dengan pengakuannya. Di usapnya perlahan nisan yang tertulis jelas sebuah nama, Fifi Firaudian Rahmawati.

Rara lalu diam dalam doanya, sesekali dia menyeka air mata yang terus menderas di pelupuk matanya. Pengakuan itu mungkin sudah terlambat, pengakuan itu mungkin sudah tak berguna lagi sekarang. Takdir yang tertulis tak pernah lagi bisa terhapus, semua sudah digariskan Tuhan dengan sedemikian rupa. Dan mungkin Tuhan lebih sayang kepada Fifi, hingga itulah pilihan yang paling baik yang Tuhan berikan, meski itu sangat menyakitkan.

Senja yang semakin menjingga mengurungkan niat Rara untuk bertahan lama di tempat itu. Dia kemudian menaburkan bunga sambil sedikit terisak, walau pelan. Sebentar dia memandangi makam itu kembali, lantas dia beranjak pergi.

Biarkan sesalku terkubur bersama ragamu.
Biarkan kepergianmu menjadi pesan untukku.
Kau tetap hidup disini,
Di dalam hati ini
Meski kau tak ‘kan pernah kembali.
Sahabat sejati


END~

Fitri, Januari 2017💐

 

 

 

Iklan

14 thoughts on ““Kala Sesal Jadi Pesan””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s