“Jabat Tangan Kita”

“Di kala dua orang terpisah, terhalang karena perbedaan, kita di sini, terpisah karena persamaan.”

Pagi berbalut hujan di hari kamis, rintiknya yang terjatuh dengan riuh mampu membasuh kering sudut-sudut jalan kota. Jaket-jaket tebal mereka kenakan demi menghindari dingin yang menyergah hingga ke tulang.

Aku berjalan menyeberangi jalan besar depan kampus yang sudah satu tahun ini menjadi tempatku menimba ilmu. Dengan berjingkat dan sedikit menutupi kepala dengan tanganku untuk menghindari tempias hujan, aku melangkah di tengah jalan yang mulai sepi.

“Yu!” Panggil seseorang dari belakang saat aku melangkah di sebuah koridor menuju ke kelas. Aku menoleh ke arah suara itu memanggil namaku dengan jelas.

“Ada apa?” Ucapku lalu menghentikan langkah.

“Baju kamu basah, kamu gak bawa payung?” Kata laki-laki itu sambil mendekat.

“Gak bawa, Jod! Aku pikir hujannya gak sederas ini, ‘kan kos aku dekat jadi aku nekat. Eh, malah basah kuyup.”

“Yaudah, lah! Ayo, masuk kelas!” Jody lalu menarik tanganku.

Sesampainya di kelas, aku terheran anak-anak berkerumun seperti pasar. Mereka sedang berkenalan seorang laki-laki berperawakan tinggi besar, berkulit putih, berambut klimis yang disisir ke belakang sedemikian rupa. Jaket biru khas pembalap yang ia kenakan menambah kesan gagah.

Namun tidak denganku, aku melangkah dengan santai menuju ke tempat duduk nomor tiga dari depan persis sejajar dengan bangku dosen. Bersikap santai dengan datangnya mahasiswa baru tak mau tahu dan lebih ke acuh.

Aku pikir itu hal lumrah, jika ada mahasiswa atau mahasiswi baru datang ke kelas ini. Mau ganteng atau jelek itu nasibnya sama, kalau tidak mau belajar ya tidak akan dapat nilai cumlaude dan menyandang mahasiswa dengan predikat terbaik tentunya.

Bermenit-menit berlalu dan keriuhan akibat teman-teman yang berbondong-bondong memperkenalkan diri pun mereda. Kemudian aku menghadap ke depan. Saat itulah kau sudah berdiri di hadapanku. Dengan seulas senyum tipis dan tatapan ramah, kamu menjulurkan tangan ke arahku.

“Dimas,” katamu. Suaramu terdengar jernih.

Aku mengerjap, lalu menyambut tanganmu. Aku balas menyebutkan nama. Tak sampai dua detik kemudian, kutarik tanganku kembali.

Jabat tangan singkat itu, Apa kau ingat? Aku ragu kau mengingatnya, ragu pula perkenalan itu punya arti bagimu. Tapi, bagiku itu sangat berarti. Karena seperti yang sudah kukatakan, itu adalah awalnya. Aku ingat kau sempat melebarkan senyummu sebelum menjauh, meninggalkan wangi parfum citrus di tempat tadi kau berdiri.

Berhari-hari setelah itu, aku baru tahu kalau kau dan Jody sempat berada di satu kelas yang sama sebelum pindah ke kelas kami. Kelak, aku juga akan tahu bahwa kau menyesali kepindahanmu itu. Dan menyesali kita.

***

Semenjak itu, jabat tangan menjadi semacam ritual bagi kita. Bedanya, jika ritual sungguhan umumnya hanya dilakukan pada saat-saat tertentu, namun bagi kita, itu bisa dilakukan kapan saja dengan alasan yang sederhana.

Seperti ini…

Aku sudah mengenalmu selama dua bulan. Waktu itu pertengahan bulan Mei, satu bulan menjelang Ujian Akhir Semester yang menguras otak, tenaga, dan waktu. Banyak tugas akhir semester yang diberikan, salah satunya adalah tugas pemrograman visual yang sebenarnya sudah diberikan sejak tiga minggu yang lalu.

“Bagaimana tugasmu?”Tanya Pak Sugeng, dosen IT.

Aku hanya menggeleng kebingungan karena waktu itu aku tidak hadir.

“Dimas tidak memberitahumu?”

“Dimas?” Aku mengernyit.

“Aku membentuk kelompok untuk tugas ini. Kau dan Dimas satu kelompok.”

Mendengar itu, aku lekas menoleh ke sudut kanan belakang. Disana kau menumpukan siku kanan ke atas meja lalu menggaruk-garuk belakang kepalamu sambil cengengesan menempel di wajahmu yang putih.

Aku kembali menghadap ke Pak Sugeng. “Aku tidak tahu, Pak. Dimas tidak bilang.”

Pak Sugeng menatapmu sejenak, dengan memperbaiki letak kaca matanya, kemudian dia kembali menatapku. “Kalian harus cepat! Tugas itu harus dikumpulkan dua minggu lagi!”

Pak Sugeng segera kembali depan kelas. Dan sementara Pak Sugeng kembali berceloteh, kali ini tentang cara menggunakan Crystal Reports. Aku menoleh ke arahmu lagi, kau balas menatapku. Masih dengan cengigiran yang itu, kau berbisik, “Sorry!”

Tak terasa kelas Pak Sugeng berakhir. Beliau sudah berlalu dari dalam kelas.“Ada tugas kelompok dari tiga minggu yang lalu dan kau tidak memberitahuku padahal kita satu kelompok dan tugas itu harus dikumpulkan dua minggu lagi?” semburku seraya berjalan keluar dari ruang kelas.

Sorry!” ucapmu di sela-sela usahamu mengejarku.

Aku mendengus keras. “Biar kutebak. Aku tidak akan pernah tahu ada tugas kelompok kalau saja tadi Pak Sugeng tidak menyinggungnya.”

Sorry! Aku benar-benar lupa kalau ada tugas,” balasmu. “Hei, berhenti dong. Aku capek.”

Aku berhenti berjalan dengan menghentak tanah. Saat itu aku sudah sampai di taman kampus. Aku tidak akan tahu kalau kau tertinggal cukup jauh jika saja aku tidak berbalik ke belakang dan menemukanmu sedang mendekat ke arahku dengan langkah-langkah panjang. Ya, salah satu kebiasaanku: kecepatan berjalanku kerap melejit saat aku sedang marah.

“Lain kali, ketika aku tiba-tiba melempar kepalamu dengan buku, aku akan bilang, ‘Sorry, aku benar-benar lupa kalau kau itu temanku!’” kataku sarkatis.

Kau berhenti di dekatku dan terkekeh dengan napas yang kepayahan.“Jangan marah dong.”

“Bagaimana bisa aku tidak marah?” Aku mendelik dongkol. “Kita harus membuat program penjualan, pembelian, dan pengendalian stok dengan menu cetak laporan dan bugs[1] seminimal mungkin dalam waktu dua minggu.”

Kau menatapku menenangkan. “Begini saja. Kau buat rancangan interface[2]-nya dan aku yang buat programnya. Dengan begitu, aku bisa menebus kesalahanku dan kau tidak perlu melempar kepalaku dengan buku. Bagaimana?”

Alisku terangkat. “Jadi, tugasku cuma membuat rancangan interface?”

Kau mengangguk.

“Dan kau yang akan membuat programnya?”

Kau mengangguk.

“Seluruh programnya?” tanyaku memastikan.

Kau mengangguk lagi.

“Oke!” aku sepakat tanpa pikir panjang.

Kau tersenyum, lalu menjulurkan tangan kanan. “Jadi …, maaf?”

Sesaat, aku menatap heran pada tangan kananmu. Tapi, akhirnya kusambut juga.
“Dimaafkan,” sahutku.

Itu jabat tangan kita yang kedua. Dan tidakkah yang kali ini sedikit aneh? Maksudku, kau bisa saja meminta maaf tanpa perlu mengajakku berjabat tangan. Tapi, kau melakukannya. Dan perlahan-lahan aku mulai merasa bahwa jabat tangan itu, dan jabat tangan yang lain setelah itu bukan jabat tangan biasa.

Perlahan-lahan pula aku mulai paham, meski tidak kau katakan, bahwa jabat tangan-jabat tangan itu adalah cara mengungkapkan perasaanmu.

***

Aku rasa sejak awal jabat tangan memiliki arti khusus dalam cerita kita, bukan begitu? Jabat tangan itu bukan hanya awalnya, tapi ia juga adalah gambaran sempurna untuk keseluruhan cerita kita. Sama seperti jabat tangan, pada akhirnya, selama apa pun kita telah saling bertaut, kita tetap harus berpisah. Karena jika kita jabat tangan selamanya, bagi orang lain itu akan terlihat salah.

Enam bulan telah berlalu sejak kepindahanmu ke kelas kami, dan selama itu entah sudah berapa kali kau mengajakku berjabat tangan. Ketika kau meminta maaf bahkan untuk kesalahan yang sangat sepele, setiap kali kita sepakat mengenai sesuatu, saat proposal skripsiku diterima, setelah aku selesai sidang skripsi, dan di banyak kesempatan yang lain. Dan setiap kali kau mengulurkan tangan, aku tidak pernah menolak untuk menggapainya. Bagaimana bisa aku menolak jika berada dalam rengkuhan jemarimu yang panjang itu terasa begitu hangat?

Akan tetapi, seperti kataku tadi, pada akhirnya kita tetap harus berpisah.

Masihkah kau ingat bagaimana suasana ballroom hotel itu? Luas, didominasi warna biru dan dipenuhi oleh para wisudawan dan keluarga. Kau dan aku hanya segelintir dari keramaian yang datang di acara pelepasan wisudawan yang rutin diselenggarakan oleh pihak kampus.

Saat itu adalah menit-menit terakhir sebelum keramaian membubarkan diri, menit-menit saat semua wisudawan saling mengucapkan salam perpisahan ketika kau menghampiriku dengan setelan kemeja merah gelap dan celana panjang hitam yang tampak formal. Pendamping di sebelahmu adalah kekasihmu yang telah kau pacari selama empat tahun. Aku baru tahu kau sudah memiliki kekasih setelah Ujian Akhir Semester selesai. Dan kau tahu apa artinya itu? Bagiku, itu berarti meskipun kedua tangan kita sering saling bertaut, ada satu hal tentang kita yang tidak akan pernah saling bertaut. Atau, mungkin sejak awal memang begitu adanya dan aku terlalu naif karena masih saja berharap.

“Hei!”sapamu.

“Hei!” balasku.

“Perkenalkan, ini Anggi.”

Kekasihmu mengulurkan tangan. Bibirnya melengkungkan senyum.“Anggi.”

Aku menatapmu sepintas sebelum kusambut uluran tangannya. Kubalas senyum tipisnya sambil mengucapkan namaku.

“Kami akan pulang sebentar lagi,” ujarmu.

Aku mengedikkan bahu. “Itu yang semua orang akan lakukan sebentar lagi.”

Kau tersenyum sendu. Aku ikut tersenyum, sama sendunya.

“Kalau begitu, semoga sukses!” ucapmu seraya mengulurkan tangan.

Aku tatap tanganmu sejenak, lalu kujabat. Kehangatan sontak membungkus tanganku. Untuk kali ini, jabat tangan kita berlangsung lebih lama daripada biasanya. Kurasa, karena kita sama-sama tahu , setelah ini, setelah jabat tangan yang ini, mungkin tidak akan ada lagi jabat tangan yang lain.

“Sampai jumpa!” katamu saat jabat tangan kita terurai.

“Sampai jumpa!” kataku.

Kau tersenyum lagi seolah tidak ada penyesalan apa-apa. Tapi, aku tahu ombak apa yang berdebur di balik mata hitammu karena ombak yang sama juga berdebur di balik mataku. Ombak kesedihan itu ….

Kau dan kekasihmu berbalik menjauh. Aku ikut berbalik dan menjauh.

Kuhela napas dalam-dalam. Sekelilingku tampak memudar dan aku merasa seperti daun kering yang melayang-layang. Jadi, bagaimana aku akan mengakhiri cerita ini? Kalimat apa yang kira-kira bagus?

***

Lima tahun berlalu setelah kamu melayangkan ucapan “Sampai jumpa,” aku belum diijinkan untuk menemuimu kembali. Terakhir kamu mengirim pesan kepadaku dua tahun yang lalu, dan berkata jika kamu sedang mengembangkan bisnis yang sedang kamu tekuni, menjadi seorang programer. Bukankah itu yang kamu inginkan dari dulu? Dan aku sangat bahagia mendengar kabar tersebut.

Pagi ini, hujan kembali menderas di sudut-sudut kota, namun itu tidak menyurutkan semangatku untuk melanjutkan aktifitasku seperti biasanya. Pukul 08.00, aku sudah sampai di tempatku bekerja. Aku berjalan menyusuri koridor demi koridor, kadang bersimpangan dengan mahasiswa yang sangat ramah menyapaku dengan senyuman atau bahkan ucapan selamat pagi.

“Bruuuk!” buku yang aku pegang seketika berhamburan ke lantai setelah aksi tabrakku dengan seseorang.

“Maaf, aku tidak tahu, Pak!” kataku gugup lalu aku menunduk memunguti buku-buku yang berserakan.

“Maafkan aku juga, aku tadi bermain gadget jadi tidak sadar,” ucap laki-laki itu lalu ikut memunguti buku.

“Sudah, Pak, terimakasih. Silakan!” ucapanku terpotong saat melihat laki-laki di depanku yang saat itu raut mukanya terlihat jelas.

“Kamu!” ucap kita serempak.

“Wah, dunia sempit sekali! Lama tak berjumpa, Yu!” ucapmu dan kita berusaha berdiri memperbaiki posisi.

“Apa kabarmu? Kenapa kamu disini?” katamu sesaat setelah kita berdiri, Kamu tanpa di suruh lantas mengulurkan tangan kananmu, mengajakku berjabat. Jabat tangan yang sudah lama sekali tidak aku rasakan, jabat tangan yang sudah sangat aku rindukan. Dan jabat tangan yang dulu adalah rutinitas kita setiap hari.

“Aku baik, sangat baik sekali. Kamu kenapa disini?” ucapku, dan jabat tangan itu belum terlepas sampai jawabanku terucapkan dengan lantang di depanmu. Sepertinya kita sangat merindukan momen ini, hingga kita tidak tersadar dengan apa yang kita lakukan.

“Eh…, sorry!” katamu, dan kamu melepas jabat tangan itu. Malunya aku saat-saat seperti ini, tapi lucunya kamu lalu tersadar akan kelakukan kita yang ternyata tidak berubah meski lima tahun tidak bertemu.

“Ayo duduk di sini dulu, kita ngobrolsebentar,” ucapku dan menunjuk kursi dekat sebuah ruang kelas demi menghapus gugup yang sedari tadi aku rasa.

Sesaat kita terhanyut dalam nostalgia masa lalu, mengupas segala hal yang dulu pernah kita alami. Dan saat itu kita kembali seperti dua pasang mahasiswa yang tanpa malu mengucapkan apapun dan tidak peduli kita lagi dimana.

“Selamat pagi! Maaf, saya mengganggu hari ini ada jadwal kuliah Anda,” ucap seseorang memecahkan keasyikan kita berbincang.

“Oh, maaf. Saya terlalu asyik ngobrol dengan teman lama saya. Terimakasih sudah diingatkan dan silakan balik ke kelas, saya segera menyusul,” ucapku kepada salah satu mahasiswaku, dan dia mengangguk mengerti lalu pergi.

“Kamu, ngajar ya di sini Yu?” katamu kaget, setelah melihat perbincangan tadi.
“Iya, Dim. Sudah satu tahun ini aku mengajar disini. Pak Sugeng yang mengajakku, waktu itu aku bingung mencari pekerjaan setelah 4 tahun bekerja dan kontrakku habis. Aku ditawari menjadi dosen menggantikan posisi Pak Sugeng yang akan pensiun tahun ini,” jelasku dengan rinci.

“Kenapa kamu gak bilang daritadi, Yu?”

“Belum sempat ngomong, kita sedang asyik bercanda tadi. Aku gak tega memotong dengan pembahasan yang lain,”

“Ya sudah, kamu ngajar dulu. Aku kesini juga ada urusan, kita bisa ngobrol lagi lain kali,”

“Dim, kamu dimana sekarang?”

“Aku disini sama kamu, kok tanya?”

“Maksud aku, usaha kamu gimana?”

“Sudah ada yang mengurus anak buahku, makanya bisa aku tinggal kesini kemana-mana sekarang,”

“Yaudah, aku masuk kelas dulu, Dim. Kasian mereka menunggu.” Aku pun beranjak meninggalkanmu.

Belum sempat aku berjalan tiga langkah, kamu sudah menarik tanganku. Hingga aku berbalik badan,

“Besok-besok sempatin waktu untuk kita bertemu, Yu,” katamu dengan senyuman yang sangat menghipnotis.

“Oh, oke! Lekas balik kalau urusanmu sudah selesai,” aku membalas dengan senyum lalu melepas tanganku dari genggamanmu.

Tangan kananmu lalu otomatis terjulur, dan itu jabat tangan yang kedua siang ini. Dan aku selalu menikmati momen itu. Kapanpun dan dimanapun.

Sejak pertemuan kita di kampus kemarin, kita kini dekat kembali. Menghabiskan waktu bersama, makan atau hanya sekedar jalan-jalan melepas penat. Bercerita tentang apapun hingga menghabiskan kopi hingga larut.

Kamu selalu berkata, kita akan tetap jadi teman yang baik hingga kapanpun. Meski mungkin, semua akan berakhir pada masanya nanti, tapi biarlah semua berjalan apa adanya. Tanpa kita saling melepas dan terus menjabat, waktu pasti akan terus bersahabat walaupun kita tak pernah bisa saling mengikat.

***

Kita menonton Hunger Games Sabtu itu dan tidak hanya itu, di sabtu berikutnya kau mengajakku ke toko buku untuk membeli beberapa buku tentang pemrograman. Di Rabu berikutnya kau sengaja mampir ke kampus di sela-sela jam makan siangmu hanya untuk memberiku satu cup kopi, beralasan bahwa sedang ada promo beli satu gratis satu. Dan di beberapa Jumat, hari dimana waktu makan siang dijatah lebih lama, kau mengajakku makan siang bersama. Semua janji temu itu dan jabat tangan yang menyelinginya, semua itu mau tak mau membuatku bertanya-tanya sendiri, akankah kali ini kita memiliki arti yang lebih daripada yang dulu?

Tapi, Jumat itu, enam bulan semenjak jalan kita kembali bersinggungan, saat kau muncul dengan air muka yang keruh, aku tahu aku tidak semestinya berharap lagi. Aku seharusnya sudah tahu bahwa apa yang terjadi selama enam bulan ini hanyalah euforia semata. Bahwa kembalinya dirimu ibarat pesta kembang api yang kutunggu di setiap malam tahun baru, yang walau berlangsung lama, namun pada akhirnya akan berakhir juga dan tidak menyisakan apa-apa selain kenangan dan rasa kehilangan.

Kau terdiam lama setelah mengambil tempat duduk di depanku. Suasana bistro ramai dan suara pengunjung yang bercakap-cakap terdengar seperti dengungan kumbang besar di telingaku. Lalu, masih dengan diam, kau meletakkan sesuatu di atas meja dan mendorongnya ke arahku. Bentuknya persegi panjang dan berwarna putih keemasan. Napasku sekonyong-konyongnya terasa berat. Sebuah undangan pernikahan.

Dimas Putra Pratama, S.Kom. & Anggita Sukmawati, S.E.

Anggi … Itu nama kekasihmu yang kau kenalkan padaku di malam pelepasan.

“Undangan pernikahan?” tanyaku getir.

Kau menatapku sebentar, menghela napas, lalu menunduk. Waktu terus berlalu dan kau tidak kunjung bersuara. Saat kukira kau tidak akan pernah menjawab pertanyaanku, kau bergumam pelan, “Aku minta maaf, Bayu.”

Aku tidak akan berbohong. Ada kalanya aku meragu, apakah ini cuma imajinasiku saja, bahwa jabat tangan-jabat tangan itu tidak pernah berarti lebih, bahwa hubungan kita tidak pernah lebih dari sekadar teman dekat. Karena tidak ada satu kata pun darimu yang pernah menegaskan hubungan kita.

Kau dan aku … berdua kita layaknya abu-abu. Namun, sekarang, untuk pertama kalinya kau menegaskannya. Untuk pertama kalinya kau memisahkan keabu-abuan kita ke dalam hitam dan putih. Untuk pertama kalinya kau menyampaikan perasaanmu lewat suara, lewat nada-nada penyesalan.

“Minta maaf untuk apa, Dim?”

“Semuanya.”

“Kau tidak punya hak, Dim,” kataku dingin. Kau tampak tersentak.“Kau sudah memilih. Kau kembali lagi setelah sekian lama dan pada akhirnya kau memilih untuk menikah. Maksudku, untuk apa?
Untuk apa kau repot-repot kembali? Akan lebih mudah jika kau tidak pernah kembali. Akan jauh lebih mudah jika kita tetap berada di luar jarak pandang masing-masing.”

“Maaf …,” gumammu pelan, nyaris berbisik.

Aku menarik napas dalam-dalam. “Dim, kau tahu kenapa hubungan kita tidak akan pernah berhasil?”

“Karena kita berdua laki-laki?”

Aku menggeleng pelan.“Karena pada akhirnya, kau tidak akan pernah memilihku.”

Itu membuatmu tenggelam lagi dalam diam. Aku meraih undangan pernikahanmu, mengamatinya sebentar. Lalu dengan seulas senyum samar aku berkata, “Selamat ya. Aku ….”

Kalimat itu toh tidak pernah terselesaikan. Sebab, sementara bibirku ingin mengucapkan aku turut bahagia semua sel dalam diriku meneriakkan kata tidak.

Jam makan siang sudah nyaris berakhir, tapi aku masih belum mau meninggalkan bistroini. Sebab, aku tahu, saat aku melangkah keluar dari sini, aku harus melangkah keluar dari kehidupanmu juga, sekali lagi.

Aku tahu aku harus merelakanmu. Aku tahu aku akan merelakanmu. Maksudku, apa lagi yang bisa aku perbuat selain itu? Di kala dua orang terpisah terhalang karena perbedaan, kita disini, terpisah karena persamaan. Jadi, biarkan aku menghilang ke dalam ketiadaan. Sebab, itulah caraku merelakanmu sampai tiada.

The End

Keterangan:
[1] Bugs: Kesalahan dalam program
[2] Interface: Tampilan program

Kolaborasi cerpen oleh:
1. @vidtri aksaramadhani.wordpress.com
2. @sastratika sastratika.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s