Peminta Pajak Keikhlasan💐

Plastik permen lusuh
Bergandeng dengan si tangan kecil
Berbaju kusam
Peminta pajak
Di lampu pemberhentian sejenak

Gambar nyata
Jalan kota setiap hari

Deru kenalpot
Menjadi sahabat sejati
Jalanan berubah menjadi tempat bermain
Panas menjadi penyemangat
Dan hujan menjadi selimut
Kala kabut lapar menjajah perut

Kaki kecil berdecit
Beradu dengan jalan aspal berdebu
Tandusnya ekonomi
Menyulap secerca harap
Mengecap bangku sekolah

Siapa orang tua?
Siapa saudara?
Mungkin …
Mereka sudahlah lupa
Atau …
Mereka di paksa bekerja?
‘Ntahlah …

Hanya ini,
Untuk ini,
Hingga kini,
Sampai nanti,

Mereka hanya butuh kalian sadar diri
Masih ada anak seperti ini
Yang butuh uluran tangan
Atau sebuah koin untuk menyambung kehidupan


FiAksaRa, Februari 2017

Kasihku Hilang; Berpamit Pulang

Berbuku-buku rasa sesal
Menyelinap dalam hati di rundung kesal
Dalam remang
Menyulap nyata menjadi gamang
Mengendus selaksa rasa cinta
Ketika semua telah hilang

Kasih, dalam jermbab pilu
Aku melihatmu kaku
Terbujur penuh senyum
Tertidur pulas tanpa merasa lara
Lagi …

Kau kini telah berpulang
Membawa segudang rasa sayang
Memeluk seluruh rasa kasih
Dan …
Secerca harap kita yang telah terpatri

Tenanglah di surga, Kasih
Bawalah setumpuk kenangan kita
Dan segala hal terbaik yang kita cipta

Krisan terindah telah ku tabur di atas pusara
Bersama bait kehilangan
Ku peluk bayangmu dari kejauhan
Memandang nanar wajahmu yang semakin tenggelam
Di antara cahaya putih memancar
Kau hilang; Berpamit pulang

FiAksaRa, Februari 2017

Balada Pendosa di Hotel Prodeo💐

Siul jangkring memeluk dewi malam
Menjarah bising kalbu
Kala satu persatu rekaman hidup
Membuka jelas tabir rindu

Aku masih di tempat ini
Gigil tubuh beralas lantai
Berselimut sang malam
Tanpa teman tanpa rekan

Hanya ucapan sesal
Atau …
Serapah lain yang bergelora
Memecah rimbunan rasa nista
Pada setumpuk kesal untuk jiwa pendosa

Liku hidup telah mengasingkanku
Membawa ku ke hotel prodeo tanpa jemu

Ini salah siapa?
Jika bukan aku 
Pendosa berkedok mafia
Yang dengan bangga mencecap durja
Tanpa berfikir ketika takdir Tuhan berkata

Kini …
Dengan apa aku menutup muka?
Dengan siapa aku mengiba?
Untuk salah yang sudah kaprah
Untuk dosa yang sudah lama terlunta
Bertekuk di bawah hujaman lara
Tanpa bisa berkata apa-apa

Fitri, Februari 2017

Memeluk Takdir; Cinta Berakhir💐

Rinai hujan mencium kelopak kusuma
Indahnya yang tak tampak oleh mata
Hilang di peluk ilalang-ilalang tua
Tiada daya …
Tiada pembela …
Takdir mungkin telah tertata

Kepada sebait rasa,
Meringkuk sudah hati di ambang lara
Kusuma mekar kini menguncup kembali
Terlunta penuh pengasingan
Tiada upaya untuk menghindar

Dunia menolak akan cinta suci
Atau orang tua tak merestui
Perihal hati yang mekar penuh melati

Hingga …
Yang terjadi kini
Semua musnah seperti tak pernah terjadi

Bukan tentang kasihku yang palsu
Bukan pula tentang hatiku yang beku
Namun …
Orang tuaku tak mengharapkanmu

Kini rasaku tertatih
Memluk takdir sangat perih
Dalam bimbang tak bisa menimbang
Selain mengalah,
Mengucap kalah,
Pada jalan yang tak tentu arah

Fitri, Februari 2017

Sajak Seorang Pramuria💐

Malam kembali bersua
Menerpa pipi ayu wanita bergincu merona

Dalam heningnya dewi bulan
Dia mengais rejeki di pelacuran
Bermodal rayuan gombal
Dan wangi tubuh yang sangat kental
Tersenyum penuh gairah mengulum sesal

Tersipu menahan nafsu
Hingga tak lekang pengunjung bertemu
Meramu benih rindu
Atau …
Sekadar melampiaskan penat satu minggu

Oh Tuhan …
Jalan pulang tak lagi teringat
Kala erengan suara beradu dengan keringat
Hanya nikmat yang terasa
Hingga harga diri tak lagi terhitung oleh kata

Dalam sesapan luka
Atau pada lelehan cairan cinta
Semua kembali pada hakikatnya
Ketika diri berjumpa dalam doa
Hanya tangis meraung terucap meminta iba

Oh Tuhan … 
Masih adakah setitik pengampunan dosa
Untuk diri seorang pramuria

Fitri, Februari 2017

Senja Bercerita💐

​Senja bercerita,
Tergopoh Pak Tua dengan tongkatnya
Berjalan terseok mencari mangsa
Dengan baju sobek tak tertata
Menelusur jalan kota

Menengadahkan tangan
Meminta sumbangan
“Seikhlasnya, Tuan,”
Ungakapan merendahkan
Demi sekeping koin untuk membeli makan

Rindu mendulang di balik netra nan sayu
Kepada keluarga dan juga cucu

Rambut putih, kulit hitam mulai keriput
Seberapa lama kau berjuang mematut?
Untuk umur yang terus berlanjut
Lima tahun terajut dengan oksigen kota yang kau hirup
Di jalan ini engkau menumpu hidup

Pak Tua,
Semoga lekas kau temu bahagia
Walau hanya sebatas meminta
Untuk melipat jarakmu dan keluarga
Di tengah taman kota
Senja bercerita

Fitri, Februari 2017

Kursi Jabatan💐



Kaki kecil mengapal
Bertanda lelah telah menggumpal
Beradu dengan bengis jalanan
Demi sesuap nasi bisa termakan

Jatuh bangun mencari uang
Mendorong gerobak sepanjang kenang
Seucap merdeka belum mereka dapatkan
Layaknya orasi para perebut kursi jabatan

Ini yang kau katakan merdeka?
Padahal mereka masih tersiksa
Ini yang kau katakan menang?
Padahal perjuangan belum selempar batu tertuang

Hanyalah kursi jabatan yang mereka rebutkan
Demi mendapat sebuah penghargaan
Merasa bangga saat mereka diambang kemenangan
Padahal rakyat merapatkan sabuk menahan kelaparan

Fitri, Februari 2017