“Cinta, Perbedaan dan ย …,๐Ÿ’

Lembayung kesakitan menukik, menerkam hati yang di rundung bahagia. Melumat utuh barisan-barisan pertahanan cinta suci yang di bangun dari tembok yang tebal. Cinta tak pernah bersalah perihal apa pun, karena dia suci tak pernah tertandingi. Perbedaan lah yang membuat anugerah itu menjadi hal yang tabu, menjadi hal yang tak mungkin. Padahal cinta tak pernah mau tahu soal perbedaan, cinta tak mau tahu soal apapun. Yang dia tahu hanya memercikkan rasa bahagia untuk hati yang di rundung derita.

Perihal perbedaan yang selalu membuat cinta itu berakhir, perihal perbedaan yang membuat segalanya yang indah menjadi durja. Ini derita bukan? Saat hati benar-benar di balut cinta yang berarti dan saat itu pula rasa kita harus berhenti karena satu hal yang tidak kita inginkan yaitu perbedaan. Sekali lagi, bukankah cinta tak mau tahu soal perbedaan? Lalu kenapa hanya karena perbedaan cinta harus berakhir? Apakah cinta harus selalu sama? Bukankah cinta melengkapi kekurangan? Dan … dan … dan … masih banyak hal yang aku pertanyakan perihal cinta yang tak pernah menjadi satu karena perbedaan. 

Siapa yang akan bertanggung jawab untuk hal ini? saat kita sudah bisa membangunkan hati yang lama suri, seketika itu juga hati kita harus kembali mati, tak banyak yang bisa di lakukan. Berjuang pun rasanya sudah tak mampu, apalagi menerjang. Lemah, tak pernah bisa kembali menguatkan diri apalagi untuk sekedar berdiri, terpuruk dan sangat-sangat terpuruk. Rasanya sudah tak mungkin, tak mungkin lagi berdiri, berlari. Ini terlalu menyakitkan untuk ukuran bahagia sekalipun sudah bisa melewati namun rasanya sudah berbeda. Haruskah menyerah padahal cinta harus terus di perjuangkan? Haruskah berhenti padahal cinta tak pernah mati sampai di sini?

Serupa lara, namun ini lebih menghancurkan dari pada sebuah kata hancur sekalipun. โ€˜ntahlah … cukup!

โ€‹Di ujung waktu penghujung rindu, kuatkan diri ini untuk menyangga beban tubuh ini. Biarkan seluruh sakitku meluruh bersama rendaman air mata yang terurai hingga membuat sembab. Sudah … aku sudah payah di hajar kelam. Bahagia katanya tapi ini bukan aku. Aku tak seperti ini, ini lebih menyakitkan, ini lebih menghancurkan dari pada sebuah kata hancur sekalipun.
Aku tak bisa bertahan lebih lama, dalam ketidak tentuan. Kepingan yang akan menyatu itu kini remuk kembali. Utuh penuhh rusak tanpa bisa di perbaiki lagi. Sudah ku katakan, sudah ku ucapkan jika cinta tak pernah salah. Hanya karena kita yang berbeda kita yang tak sama hingga membuat seluruhnya rasa seperti melebur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s