Di Tepian Gelisah💐

Selaksa bulir air terjatuh
Menyuguh ulasan lengkung tipis
Bibir mengatup, mata berbisik
Mengisyarat cinta laksana candu
Otakku tak waras~
Namun,
Di tepian gelisah
Di derasnya rinai hujan
Di atas angkuhnya bayangmu
Yang terus menjelma dalam fikiranku
Aku sulam bait kekalahan
Terseok~
Membawa luka
Dan seperangkat rasa antah berantah lainnya
.
Serupa ilusi
Serupa mimpi
Tapi ini nyata adanya
Tanpa mengada-ada
Sudah berapa ribu air mata yg tertumpah
Menjadi saksi hati yg terjarah?
Hingga beku air mata ini
Menzolimi rasa yang terus membuat suri
.
Sepadankah ini?
Pantaskah ini?
Lalu apa guna aku menulis
Jika bengis api membakar?
Untuk apa aku membingkai
Jika figura akan remuk seketika?
.
Bangunkan aku, ini mimpi buruk untukku
Ini benar luka
Hingga setuhnya tertulis jelas
Dalam dekap mebekas
Seutuhnya, dalam hati penuh lara


Pada buliran hujan aku temukan dirimu di sana, menatapku dengan tajam, membisukan bibir berkata dengan mata. Melipat tangan dan membuang senyuman, kredil sekali otakku ketika menatap hujan. Namun. di hujan menderas itu, di tepian gelisah yang merajah hingga tandas, dan di sklebat bayangmu yang masih tetap angkuh di pikiranku. Aku sulam bait kekalahan, terseok membawa sayatan luka bersama seperangkat rasa antah-berantah lainnya.
.
Ini bukan ilusi, ini bukan pula mimpi yang ketika aku bangun semua akan berakhir. Tapi ini nyata adanya. Ini gamblang terjadi jelas di depan mata. Yang harus tetap aku jalani ketika aku membuka mata ataupun saat aku akan menutup mata. Sudah berapa ceritakah yang melibatkan air mata untuk di jadikan saksi? Sudah berapa ratus air matakah yang terjatuh untuk sebuah luka? Hingga beku sudah air mata ini, tak mampu terjatuh.
.
Sepadankah ini dengan sebuah jalan juang yang aku lakukan jika pada akhirnya precikan api-api mampu menghanguskan seluruh kertas cerita? Sepadankah ini dengan cerita yang aku bingkai dengan sedemikian indahnya lalu semua berujung pada pecahnya figura?
.
Bangunkah aku jika kali ini aku bermimpi, karena aku tak ingin bermimpi seburuk ini. Ini benar-benar luka. Bukan lagi cerita, bukan lagi cerpen yang aku tulis tujuh hari tujuh malam. Tapi ini lara yang lama kelamaan tertulis jelas jalan ceritanya, bukan di kertas. Namun, di jalan hidupku. Sutuhnya~

Fitri, Februari 2017

Iklan

2 thoughts on “Di Tepian Gelisah💐”

  1. Hidupkan kembali mereka yang mati. Beri mereka harapan. Tulisanmu, puisimu, dan ungkapanmu aku harap bisa jadi satu buah lilin yang menerangi jalan mereka meskipun lilin tersebut perlahan padam dan semoga padam ketika matahari telah muncul.

    Note :
    Buat tulisan yang lebih bersemangat lagi ya. Kesedihan itu memang nikmat dinikmati, tapi kebahagiaan jauh lebih nikmat lagi. 🙂

    Suka

    1. Karena sesekali pada gelebah gelisah, seluruh aksara ntah apapun bisa terurai di tulisan. Maafkan~
      Buka bermaksut mematikan mereka yang lebih mati. Namun, untukku tulisan adalah ungkapan rasa. Jika hati kita berkata demikian tapi tulisan kita berbeda dengan nyatanya. Itu bukan dari hati terbentuknya.
      Tak apa~
      Sekali lagi trimakasih telah di ingatkan:) saya sangat senang dengan hal itu, mungkin memang saya terlalu banyak menulis hal bodoh di sini dari pada hal yang baik. Trimakasih~
      Dan jangan bosan mampir di sini:)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s