Jadi … Kita Apa

X: “Jadi … Apa yang akan kita bahas malam ini?”
Y: “Rindu?”
X: “Ah bosan.”
Y: “Cinta?”
X: “Apa lagi ini.”
Y: “Lalu?”
X: “Kita.”
.
Duduklah dan lumat kopimu selagi masih hangat; aku jelaskan perihal kita yang tersesat hingga sekarat
Lihatlah senja di cakrawala dengan saksama
Kita adalah senja itu; yang perlahan tumbang di ufuk barat
Kita adalah cerita yang belum usai di catat
Kita–kita adalah sepasang hati yang saling mengikat
Menguatkan
Walau sama-sama tak memiliki hak penuh akan hati yang dijaga
Kita hanyalah alfa yang bertemu delta
Kita hanyalah jejak yang terhapus masa
Dan
Kita hanyalah janji yang musnah terhempas angkara
.
Serupa …
Tapi tak sama
Saling
Tapi tak bersanding
.
Kamu adalah aku yang serupa
Aku adalah kamu yang sama
Aku dan kamu adalah kita
Kita yang hilang dalam angan-angan malam sebelum fajar; bahkan pada mimpi tadi malam yang hanya sekelabat tanpa mau tinggal sesaat.
.
Jadi …
Apakah KITA di mata indahmu?
Apatah arti KITA yang dipermainkan akan takdir yang tak mau tahu?
Apakah serupa itu KITA di belahan otakmu?
Jika iya …
Mari kita saling melupa
Karena ini tak berarti apa-apa
Karena ini hanya kesia-siaan
Yang akan menyakkitkan
Jika di-pertahan-kan

[~V I D T R I~]

Iklan

PEREMPUAN, JARAK DAN KERINDUAN

   Karena kamu adalah rindu yang terlukis pada jingga sang senja
  Karena kamu adalah rindu yang terlihat jelas pada fajar berbondong menggantikan malam
     Dan …
   Karena kamu adalah rindu yang tergores pada lagu dan sajak-sajak terbaikku

● Jingga seperti apa yang tak mengingatkan aku pada dirimu? Atau alunan nyanyian seperti apa yang tak mengingatkan aku kepada sosokmu?

● Fajar yang menggantikan malam pun melukis namamu-pada paras langit. Pun malam gulita yang dengan indahnya menampakkan wajah manismu di antara gemintang.

   /1/ Aku hanya perempuan sendu yang di peluk rindu setiap waktu
   /2/ Aku hanya perempuan jalang yang rela disetubuhi rindu sekalipun tak dibayar
   /3/ Aku hanyalah perempuan perindu bau tubuh dan pundakmu untuk tempatku bersandar

Rindu …
Seperti halnya perempuan lain
Seperti halnya orang lain
Rasa cinta yang besar kepadamu priaku, membuatku tak mampu berbuat apa-apa; saat kau jauh dari bias mataku. Bayang dan segala hal tentangmu adalah rentetan cerita ketika rindu kembali mengetuk dan membelenggu kalbu. Percayalah … aku bukan perempuan manja yang setiap kali minta di temani kemanapun. Hanya saja rindu ini terus menerus membayang; hingga rasanya aku ingin terbang. Menemuimu dan mendekap erat-erat tubuhmu agar rinduku tak lagi menagih akan pertemuan.

Jarak …
Aku kuat menapak
Aku kuat berjalan
Jarak hanyalah angka
Jarak hanyalah pemisah sementara
Tapi seperti yang aku ucap sebelumnya
Jika …
Kita adalah nyata adanya
Jangan risaukan jarak ini priaku. Aku yakin kita mampu bertahan; kita mampu melewati ini hingga tiba saatnya nanti jarak mampu kita takhlukan. Kita mampu bertemu dan berbincang empat mata tanpa jengkal tanpa kesal.
______________________

Percayalah priaku
Aku mampu bertahan dengan rindu
Dengan sebak karena menahan gelebu
Aku dan kamu
Satu
Kita ada
Kita nyata
Kita …
Jarak dan rindu
Yang menunnggu waktu
Untuk bertemu

V I D T R I

Diriku Siapa? Siapa Diriku?

“Ilalang meliuk, mengikuti irama angin membawanya terombang ambing di antara dedaun kering berserakan. Semerbak wewangian terbawa … bersama iring-iringan oksigen dan secerca cahaya pada malam gulita.”
_______________

Aku tersesat …
Di antara rasa kehilangan akan diri sendiri, enyah ‘ntah kemana perginya si pribadi yang sebelumnya selalu mengiba akan kebebasan. Ini duka kesekian kali selain kehilangan orang yang aku sayangi. Apakah anomali lain dari tubuhku mulai merampas kewarasanku? Atau aku yang mulai abnormal?

Ku telusur kembali jalan penuh ilalang
Gemintang memancar keindahan di antara malam pekat
Katakanlah …
Kemana harus aku mencari kilauan itu pada malam purnama seperti ini?
Sedangkan aku tak mengenali aku sendiri

Lemah …
Aku menyerah
Cahaya tak kutemui, hanya kunang kunang setia menemani
Malam pekat …
Diriku mulai tersesat
Bagaimana aku mencari?
Di mana aku mencari?
Padahal cahaya ada pada diriku sendiri.
________

[-V;2017-]

Hanya Angan yang Menjadi Angin~

Senja tumbang di ufuk barat, menjelma menjadi satu parodi indah kala riak tak lagi berdecak. Aku bertandang, terseok pada jalan penuh polusi; tergopoh berjalan tanpa kawan tanpa teman. Aku di mana? Sedangkan jalanan sudah terlalu jinak untuk diri yang mencari secarik bahagia; tanpa definisi.

Jatuh
Bangun
Terseret
Terseok

Aku ini siapa?
Aku di mana?
Datang dari sebrang jalan
Pergi tanpa berpamit pulang

Tiba-tiba aku melemah, jatuh
Tertawan sekoloni kehilangan yang mengutukku menjadi desau angin tanpa suara.
Sstt …
Lirih …
Lirih sekali
Angin ini kembali merupa bak angan yang belum terlaksana. Menagih akan janji-janji ucap kala senja di taman kota.

Bukankah sudah aku berkata dengan berkali hingga mulutku tercekat: aku tak bisa terus bertahan dengan otak yang kian memucat.
Aku rindu kebebasan berjalan tanpa beban; bercinta dengan diri sendiri hingga lupa duniaku tak sempit lagi. Ini bukan aku yang kau temui, ini bukan aku yang dulu kau cintai.

Aku mulai melemah
Menapak jalan penuh lintah
Payah …
Aku ingin menyerah

Berdendang tanpa musik
Demi hati yang tengah terusik
Aku hanya menghibur raga
Tanpa bisa berbuat apa-apa
Di jalan penuh polusi taman kota
Aku bercengkrama dengan senja

Fitri, Maret ’17

Kukenal Lewat Angin

Hembusan manampar seluruh hampa dalam khayalan. Kepingan harap mulai bertabur dalam tiap hembus sang angin.

Serupa dandelion; terbang tertiup bayu
Membawa secarik pesan untukmu
Tentang kita dan angin senja
Yang berbisik menggelitik diantara daun waru dan akasia

Kepakan daun-daun menjadi irama dimalam yang enggan menjadi pagi
Sebuah bayang tak kukenal merasuk dalam hati
Dia kah peri malam yang menampakkan diri pada temaram jiwa yang mulai sepi?

Aku mulai gusar
Mengartikan apa-apa yang aku rasa sebenarnya
Dia datang tanpa aba-aba
Serupa angin di gurun sahara

Angin … jika pun bayang yang kau selipkan pada khayalku hanyalah luka
Maka. biarkan dia bersemayam walau hanya sekedipan mata
Namun …
Jika itu nyata adanya
Maka biarkan rasaku meluruh bersama rasanya

Aku tak menampik
Karena aku inginkan dia
Peri bergincu merona dengan hiasan mahkota dirambut panjanganya

Kau … yang kukenal lewat angin
Dalam bahasa bisu menembus ruang yang lama berdebu
Bertahtala disini … dalam hati yang hampir lupa disapa rasa serupa

Dengarlah peri malam; ruang gulitaku kini telah terang dengan hadirmu. Kau membuatku gila; walau hanya angin senja menyapaku dengan lembutnya.
Tetaplah tinggal di sini, di dalam hati ini. Karena tentangmu sudah aku patri sejak hari ini.

Putra & Fitri Maret ’17

Serupa Lelah yang Salah

Ini aku yang tak bisa melepas jeratmu atau kau yang selalu menahanku? Aku merasa menjadi orang bodoh sekarang. Pergi aku di tahan, bertahan aku semakin terancam.

Sejenak dengarlah
Hati ini merintih lelah
Untuk sikapmu yang tak pernah berubah

Kau yang berkata dusta
Kau pula yang ingkar akan janji kita
Sebenarnya …
Aku tahu
Hanya saja aku bisu
Sengaja menutup mataku
Dan tersenyum palsu
Untuk menutup segala lukaku

Ingatlah sayang, 
Ingat … aku hanya wanita yang dengan percaya; bisa aku menjaga cinta kita. Namun … jika percaya ini terkhianati, lalu dengan apa aku kembali menanti? Dengan apa aku kembali mengerti?

Sudahlah
Aku lelah
Lepaskan jangan segan
Jerat ini begitu menyakitkan; jika tak ada kesadaran

Sekarang kau harus tahu
Menghadapimu aku tak lagi mampu; apalagi menjaga sekeping hati yang kau titipkan padaku. Bantinglah pintu dan lekas berlalu; kau ‘kan terbiasa nanti tanpaku. Seperti kau biasa berkata palsu dibelakangku.

[-V;2017-]


Meng-amnesiakan Kau Dalam Senja

Ku lumat utuh keping-keping kepahayan meng-amnesiakan otakku. Mengiyakan segala bentuk lupa sebelum lekuk-lekuk tubuhmu; kembali bernostalgia dalam fikirku.

Kita memang sempat,
Merubah ke-abu-abuan menjadi kenangan lekat; tertambat; di palung jiwa terhangat. Hingga kita lupa cara melepas jeratan kuat ketika hati mulai terikat.
Padahal, jika terlampau jauh jiwa kita berjalan, hanyalah gamang yang ada dalam bayang kenang. Yang akan semakin menukik-nukik hingga kita semakin tak mampu menampik.

Pada proses meng-amnesiakan otakku,
Ku habiskan waktu untuk membekukan rindu, medamba pada sang senja menghapus setiap gambar jelas terlukis kala jingga menjelma; atau kepada bulir hujan yang jatuh tak terelakkan.
Karena ketika itu; bayangmu menjadi petir menyambar-nyambar tanpa akhir.

Kita memang pernah,
Pernah, memuja rasa gelisah
Gelisah, ketika raga berpisah
Berpisah, setelah jamuan jingga
Jingga, yang tenggelam bersama cerita kita

“Lepaskan sebelum semua menjelma menjadi kutukan Tuhan. Ketika kau tak mampu mem-mampuskan satu per-satu rasa yang kuat menghantam.” Musnahlah! Musnah! Bersama senja aku meng-amneisakan namamu-

[-V, ’17-]