Meng-amnesiakan Kau Dalam Senja

​

Ku lumat utuh keping-keping kepahayan meng-amnesiakan otakku. Mengiyakan segala bentuk lupa sebelum lekuk-lekuk tubuhmu; kembali bernostalgia dalam fikirku.

Kita memang sempat,
Merubah ke-abu-abuan menjadi kenangan lekat; tertambat; di palung jiwa terhangat. Hingga kita lupa cara melepas jeratan kuat ketika hati mulai terikat.
Padahal, jika terlampau jauh jiwa kita berjalan, hanyalah gamang yang ada dalam bayang kenang. Yang akan semakin menukik-nukik hingga kita semakin tak mampu menampik.

Pada proses meng-amnesiakan otakku,
Ku habiskan waktu untuk membekukan rindu, medamba pada sang senja menghapus setiap gambar jelas terlukis kala jingga menjelma; atau kepada bulir hujan yang jatuh tak terelakkan.
Karena ketika itu; bayangmu menjadi petir menyambar-nyambar tanpa akhir.

Kita memang pernah,
Pernah, memuja rasa gelisah
Gelisah, ketika raga berpisah
Berpisah, setelah jamuan jingga
Jingga, yang tenggelam bersama cerita kita

“Lepaskan sebelum semua menjelma menjadi kutukan Tuhan. Ketika kau tak mampu mem-mampuskan satu per-satu rasa yang kuat menghantam.” Musnahlah! Musnah! Bersama senja aku meng-amneisakan namamu-

[-V, ’17-]

Iklan

12 thoughts on “Meng-amnesiakan Kau Dalam Senja”

  1. Senja memang menenggalamkan sejenak Luka Namun bukan pada Ingatan
    Setapak yang telah terlewati akan terus menjadi peradaban di ruang Ingatanmu
    Iya Akan 1000 kali ada meski berkali-kali kau menepisnya,…
    maka Kenanglah sebagai suatu kenangan, bukan menghentikan putaran waktumu untuk menuju selanjutnya,..
    #hahahaha

    Suka

    1. Bukan … bukan karena senja yang berdosa perihal hati terluka. Hanya saja; hadirnya membuat diri selalu mengingat akan dirinya. Karena kala itu; kita duduk bersama. Menguntai kata penuh makna di antara semak ketika senja menyapa dengan indahnya.

      Suka

      1. lalu dengan perginya, Menunggukah keputusanmu atau terbang Menyuai Malam,..
        Kau begitu tenggelam pada dermaga Kisahmu di Persimpangan Kisahmu,..
        atau Mungkin Ada sedikit senyuman liarnya yang masih bersemayam diruang imajinasimu,..

        Suka

  2. Senyum yang masih terulas jelas, dan sepercik rasa-rasa yang tak bisa di kata oleh bibir belaka. Sempat … ingin aku menunggunya pulang, datang dengan sejuta kunang di tangan kanan. Karena aku meyakini; cinta akan kembali kepada dia yang masih dicintai. Tapi … harapku kini sudah patah, kalah oleh takdir yang sebak menelan ludah:’)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s