–SAYA; AKSARA–

Saya tercipta dari tatahan-tatahan di atas kertas, lempeng baja, batu sabak bahkan daun lontar
__________________________________

Saya adalah rentetan kata–yang tercipta dari selangkangan penyair ulung bahkan ternama

Dengan saya, kau bisa menyeketsa berbagai hal tanpa perlu mengucap bahkan berkata

Rupa saya adalah apa yang kau tafsirkan, saya tak berwujud asli karena saya adalah sesuatu yang tak pernah bisa dirumuskan

Kenali saya di setiap sunyi yang datang di malam gersang, atau saat otakmu sedang penuh oleh hal yang ingin kau eksplorasikan

Kepada saya, kau bebas jatuh cinta. Bebas berfantasi bahkan berkata-kata tanpa takut terlihat oleh puan atau tuan di sebrang genta

Dan dengan saya, segala hal di masa lampau dapat kau jamah kembali dengan bukti literal

Duhai engkau para pemikir
Beradulah dengan saya jika mulutmu kelu mengucap duka teramat getir
Temui saya di atas kertas lusuhmu
Dan mari menari bersama pena di atas lukamu

Sunyi adalah teman saya
Kesendirian adalah karib saya
Kalian tak usah takut jika saya tak bisa berkata
Kalian tak perlu mengkhawatirkan apapun tentang saya
Karena saya sudah terbiasa dengan segala cerita dari mulut tanpa suara

Bersyairlah
Maka ‘kan kau temu kedamaian
Karena saya ada di sana menunggu setiap kelahiran kata baru
Sapamu yang tak terlontarkan,
menghadirkan tabir yang akan berubah menjadi takdir menyakitkan jika tak kau tuliskan

Sekali lagi,
Saya adalah yang kalian cipta dari tatahan rumit, berbelit atau sederhana di atas kertas, lempeng baja, batu sabak bahkan daun lontar. Jadi kenalilah saya, karena saya adalah apa yang kau tuliskan, karena saya adalah apa yang kau tafsirkan
_____________
AKSARAmadhani

Wanito; Wani Ditoto(Wanita; Berani Ditata)

Senyum tersungging menyebul di antara gurat wajah nan ayu, semerbak wangi bunga-bunga menyeruak menghantam serabut saraf pembau. Kodrat alam telah menyumpah diriya menjadi wanita seutuhnya, anggun sikap juga halus dalam mengucap.

Wanita …
Mereka yang setiap hari berpeluh-peluh membuatmu bahagia
meski dengan cara sederhana
Mereka yang bangga menyebut namamu lewat doa-doa
di setiap pertemuannya dengan Tuhan

Wanita; berani di tata
Bukan karena wanita tak beretika
Bukan pula karena wanita tak memiliki rasa bersahaja
Tapi karena kaum hawa memiliki estetika
yang sangat peka akan kasih dan sayang dari sekelilingnya

Emansipasi telah gencar di pelosok negri,
Mengabukan segala kemungkinan bahwa wanita bukan di tata namun menata
Tapi kembali lagi …
Kodrat alam tak pernah bisa dibuat alasan,
wanita tetaplah dia yang mau di tata
Tetaplah dia yang berpegang teguh pada pria yang menjadi imam atau pemimpinnya
Sejak janji suci terlontar di depan penghulu dan orangtua

Namun terkadang,
Sikap berkuasa membuat pria buta mata
Menyakiti, menyiksa
tanpa punya belas rasa
Lantas …
Melukai tanpa ingat dosa

Pria,
Kodrat alam memang menjadikannya orang berkuasa: menuntun, melindungi, dan menjaga wanitanya. Mendsikripsikan segala arti cinta tanpa menyiksa. Mendiskripsikan segala arti sayang tanpa mengancam.

Wanita hanya butuh pengakuan
Di tata untuk sebuah tujuan
Bukan ajang pemerkosaan
_________________
AKSARAmadhani
#Happy Kartini’s Day

Rindu Yang Janggal

Karena luka yang tertinggal pada sebaknya rindu, tak bisa dikalahkan apapun selain temu.
__________________________________

Sepindah,
   Dalam gamang hati yang tak pernah lelah memanggil asmamu pada malam pekat. Kuuntai kembali pedihnya menelan luka karena rindu yang semakin menderu. Aku tahu … aku paham, rindu adalah hiasan krisan pada jarak yang memisahkan. Tapi … bagaimana jika aku rindu namun aku merasa janggal?

Kedua,
   Aku adalah kapal perindu dan kamu adalah dermaga temu, yang di sana kapalku akan tertambat kuat dengan jangkar yang kekar. Di sana pula, rinduku yang berbuku mampu hilang dalam sekedipan netra. Iya … netra yang mengisyaratkan kasih tanpa pamrih; dan itu milikmu.

Telu,
   Seperangkat aku, telah lenyap pada remukan-remukan dinding yang runtuh karena terjatuh berulang kali. Kamu adalah luka namun kau juga rindu yang bisu karena waktu. Sekali … dua kali … bahkan berkali-kali, aku selalu mengetuk pintu rumahmu agar berbunyi, demi mempertanggung jawabkan rinduku yang tak pernah mati.

Empat,
   Sebisa apa aku meninggalkanmu?
  Semampu apa aku melenyapkan segala rasa rindu?
 Aku tak pernah mampu,
Apalagi tentangmu selalu menghias di langit senjaku.

Limo,
   Selagi aku masih bisa melihat paras piasmu, aku bukanlah orang yang merindu angan dan bayangan.
   Selagi aku masih bisa memanggilmu, aku yakini juga bila aku bukanlah punguk yang merindukan bulan.
   Aku hanya rupa, yang mungkin sengaja di kutuk Tuhan untuk menjadi perindumu setiap langkah kakiku.
   Atau mungkin, Tuhan memiliki rencana lain untuk kita meski rasa tak lagi bertahta.

Enam,
   Kini aku sadari, rindu ini janggal; karena hanya aku yang merasakan. Tanpa kamu yang dengan sigap menggegam tangan untuk menghangatkan bahkan menyediakan bahu untukku bersandar. Kita tak lagi seperti beberapa hari bahkan bulan yang lalu. Kita kini hanyalah makhluk asing yang sempat di satukan karena saat itu takdir tak berjalan sesuai ketentuan.

Dikutuk Dewi Aksara

Setiap hari
Setiap waktu
Detik
Menit
Menjelma menjadi jam

Aku masih sama
Berkencan dengan laptop lusuh
Bahkan dengan rasa-rasa hampa
; yang ingin di basuh

Semakin hari aku semakin merasa sempit
Dewi aksara mengutukku menjadi budak bait
Akibatnya …
Aku tak bisa pergi begitu saja
Rasa adalah irama
; yang harus di sketsa
Atau di jabar menjadi cerita

Lantas apa yang harus kulakukan kini?
Jika aksara telah meracuni
Mencuri waktu yang tak terisi
Hingga menjadi nyanyian penghilang sunyi

Ntah …
Ini anugerah
Atau musibah
Ketika aksara menjadi penghilang gundah
Di kala diri di rundung lelah

-kini kau harus tahu, “Aksara itu candu; lebih candu dari sekadar rasa rindu.”-

V I D T R I

Penaku T’lah Habis Tinta

Kertas di pojok ruang itu, sama sekali belum aku sentuh. Bahkan aku tak punya niat untuk memegangnya kembali. Semenjak kau pergi meninggalkan pena dan kertasku, aku hanyalah bayang tanpa wujud nyata. Sama seperti beberapa minggu lalu saat kau menemukan aku di bawah tumpukan keterpurukan, setelah dia yang kusebut cinta pergi tanpa alasan. Terhambur kemana-mana kertas itu, namun aku tak punya niat menatanya lagi. Karena aku berfikir, tiada lagi yang akan menghias di liarnya penaku. Meski mungkin aku masih leluasa menafsirkan dirimu di sini, namun tidak dengan dirimu yang nyata. Yang bisa kupeluk bahkan bisa aku sebut nyawa.

Kau …
Ingatkah kau, pada senja aku menuliskan indahnya Sang Maha Kuasa mencipta sosok sepertimu.
Betapa sempurnanya Yang Maha Kuasa memberi sepasang mata yang kau miliki, yang selalu memandangku penuh kasih.
Betapa pandainya Sang Maha Segala mencipta bibir tipis milikmu, di mana dengannya aku bisa mendengar eluhan cintamu yang nyata padaku.

Malam itu aku berlari, mengejar nyawamu yang hampir hilang di antara gemintang
Namun …
Setibanya aku di istanamu, aku hanya menemukan sisa pena yang telah habis tinta.
Aku hanya menemukan tangis dengan isakan-isakan parau
Dan …
Aku hanya menemukan sepasang baju tanpa tuannya di ambang pintu

Rasa ini sekonyong-konyong menghajar, tertawa penuh kelekar. Betapa bangganya takdir memepermainkan segala rasaku tanpa mau tahu. Seketika semua bagai durja, memelukku dengan belati yang menghunus hingga hati.
Kini …
Kuingin mencarimu–mengejarmu hingga menemukan dirimu kembali. Aku tahu ini hanya ilusi, namun sayang … tanpamu aku hanyalah orang yang hidup tanpa nyawa, yang rela menjadi budak pilu di malam pekat penuh haru.

V I D T R I