SENJA T’LAH TUMBANG DIPELUPUK MATAMU

kutemukan sepasang jejak hati di korneamu, masih dengan degup dan arti yang sama. beberapa cerita mungkin terhambur pada langit-langit matamu. namun masih tetap kau simpan pada batok kepala hingga kau hapal setiap kali kesepian.
masihkah kau simpan nama wanita ini sebagai alat perbincanganmu dengan Tuhan? masihkah jantungmu berdegup ketika semestamu tiba-tiba di hujami senyumnya? dan seberapa menderita jiwamu ketika wanita ini meninggalkan jejak rindu pada hatimu?

senja telah pulang bersama debaran bumi yang mulai berhenti, kembali membuatmu terbangun dari amnesia panjang setelah jagat rayamu di guncang meriam besar. rotasi dan revolusi seketika kembali berjalan sebagai mana jalurnya–dengan tidak mengurangi rasa apapun selain-perubahan.

pada korneamu nan sayu, masih kutemukan sisa sisa gejolak setelah peperangan panjang bersama batin. tak kalah namun kau lebih baik mengalah, tak mundur namun kau lebih baik hancur.

sayang …
Cinta datang tanpa diundang apalagi di paksakan, wanita ini dulu juga datang tanpa kau undang dan mengobrak abrik semestamu tanpa kau paksa. jadi sekarang, biarkan dia pulang dan hidup di pelupuk matamu. karena semkain kau mengguncang isi otakmu untuk bisa melupa, pada akhirnya nama itu akan terus melintas pada hari-harimu.
biarkan wanita ini menghidupi air matamu. jagalah. semestamu sempat indah bersamanya–meski semua hanya sementara dan moksa begitu saja.

–AKSARAmadhani–

KIDUNG KEMATIAN

desah mendesis dicengkram leher jenjang, rapalan doa dan umpatan-umpatan kecil menggigil di ujung bibir
sebentar lagi … sekajap lagi …
malaikat dengan rupa hitam telah datang bersama jejeran manusia yang saya tahu telah tiada mendahului terbujur ke utara
semakin lemah semakin samar
tangis bertalu mengharu biru disamping tidur saya mengagungkan asma asma pemilik jagat raya ketika nyawa saya mulai mencuat di bawa sepasang malaikat tanpa nama

sebentar lagi … sekejap lagi …
nyawa saya masih di atas debar
meski mereka telah menyeret saya dengan kasar
memaksa saya untuk meninggalkan raga dengan ikhlas tanpa welas
sudahlah sudah …
usap tangis yang membuat saya semakin susah pergi
saya sudah tak lagi mampu di sini
biarkan mereka membawa saya lari bersama sakit yang terus menggerogiti

sebentar lagi … sekejap lagi …
nyanyikan doa doa yang selalu kau cipta saat mengadu dengan sang pemilik semesta
tataplah raga saya yang kini telah berpindah dunia dengan bahagia
rayakan kehilangan dengan tangis sesaat saja
lantas
nyalakan lilin dan nyanyikan isyarat-isyarat kematian yang sudah mafhum di luar kepala

dekatilah saya
ucapkan selamat jalan sebelum sayap saya mengepak semakin menjauh dari nyatamu

sebentar lagi … sekejap lagi …
saya telah pergi
bersama rentetan kisah yang telah pasrah saya bawa berpisah
namun jejak aksara saya masih hidup
di bawah naungan aksara yang termaktub

———-AKSARAmadhani´╗┐

MARI BERBINCANG TUAN!

Mari berbincang tuan
mengenai rindu atau
dongeng dari negri sebrang

Mari berbincang tuan
mengenai bahasa hati, yang
hanya bisa kita pahami

Mari berbincang tuan
mengenai senja dikaki angkasa
atau tentang hujan yang membawa selaksa cerita

Mari berbincang tuan
mengenai setumpuk aksara di meja
atau tentang gumpalan siksa di jantung yang tak bisa dikata

Mari berbincang tuan
mengenai perbincangan kita tempo hari
yang kini menjadi ungkapan tanpa arti

Jingga telah patah
menjadi keping kenangan yang pasrah terhambur oleh angin utara
cerita hanya menjadi aksara penghapus
sunyinya gulita malam terjaga
embun pagi pun enggan bercerita kepada pagi
hingga siang tak pernah lagi bernyanyi
sunyi …
perbincangan kita juga tercecer
berserakan di batas angan
tanpa ada usaha untuk kembali menyatukan sapa yang sempat terpahat dihati

Kusuma gugur sebelum merekah
musim telah berganti begitu saja, tanpa aba-aba
dan kita kini
tak pernah bisa kembali menyemaikan musim
walau hanya sekadar mendatangkan rintik hujan

Gugur sudah kusuma bersama asa
dan kita kini
hanya perbincangan sunyi tanpa suara
tanpa bisa saling sapa
meski masih bisa saling bertatap muka

; dengarlah bisik angin utara
menyibak duka dan luka
sedangka kita
masih terpaku
bisu
beku
mendewakan segala siksa di jantung
yang tak pernah berhenti berdengung
–AKSARAmadhani–

Trotoar dan Senyummu di Ambang Kenang

Masih tentang perbincangan kita tempo hari dipersimpangan jalan sebelum magrib membungkus sudut kota.

Sayup saya dengar derap kaki jenjangmu mengambil lagkah seribu mengejar raga saya yang (mungkin) tak akan lari kemana.
“Takutkah waktu itu kau kehilangan saya?”
Dari satu meter saya jatuhkan pandangan pada sosok tegap, dengan senyum manis menunjukkan jejeran gigi putih dan rambut cepak.

Diam … saya hanya diam dan tersenyum dengan tatapan penuh damba setelah sosokmu semakin mendekat. Degup degap jantung tak lagi bisa terulas oleh kata atau ucap keras. Hanya mampu membekam demi meredam jatung yang seakan melompat jika tak dicengkram rusuk erat.

Itu hanya rentetan reminisensi,
Ketika bus kota menyisir didepan saya, kau telah sirna ‘ntah kemana.

Bagai orang gila di pinggir marga, senyumku kecut ciut seakan lesap seketika itu juga. Hanya banyangmu yang tinggal di sana, hanya senyummu yang masih tercecer di lantai trotoar.

Satu … dua … saya ayunkan kaki mendekati tumpukan masa lalu yang masih mengintimidasi. Hingga akhirnya, saya jatuh terhuyung setelah seklabat fatamorgana kembali terlihat di depan mata. Dan saya tersadar, kau telah buyar di hantam waktu. Kau telah sirna di batas nyataku.
Hilang, lenyap, melesap dalam sekedipan netra, sebelum saya mengucap sampai jumpa.

Tentang trotoar yang masih menyimpan cerita, meski kita tak lagi sekata.