KIDUNG KEMATIAN

desah mendesis dicengkram leher jenjang, rapalan doa dan umpatan-umpatan kecil menggigil di ujung bibir
sebentar lagi … sekajap lagi …
malaikat dengan rupa hitam telah datang bersama jejeran manusia yang saya tahu telah tiada mendahului terbujur ke utara
semakin lemah semakin samar
tangis bertalu mengharu biru disamping tidur saya mengagungkan asma asma pemilik jagat raya ketika nyawa saya mulai mencuat di bawa sepasang malaikat tanpa nama

sebentar lagi … sekejap lagi …
nyawa saya masih di atas debar
meski mereka telah menyeret saya dengan kasar
memaksa saya untuk meninggalkan raga dengan ikhlas tanpa welas
sudahlah sudah …
usap tangis yang membuat saya semakin susah pergi
saya sudah tak lagi mampu di sini
biarkan mereka membawa saya lari bersama sakit yang terus menggerogiti

sebentar lagi … sekejap lagi …
nyanyikan doa doa yang selalu kau cipta saat mengadu dengan sang pemilik semesta
tataplah raga saya yang kini telah berpindah dunia dengan bahagia
rayakan kehilangan dengan tangis sesaat saja
lantas
nyalakan lilin dan nyanyikan isyarat-isyarat kematian yang sudah mafhum di luar kepala

dekatilah saya
ucapkan selamat jalan sebelum sayap saya mengepak semakin menjauh dari nyatamu

sebentar lagi … sekejap lagi …
saya telah pergi
bersama rentetan kisah yang telah pasrah saya bawa berpisah
namun jejak aksara saya masih hidup
di bawah naungan aksara yang termaktub

———-AKSARAmadhani

Iklan

2 thoughts on “KIDUNG KEMATIAN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s