Pada Janji Hati yang Masih Terpatri dan Diri yang Tak Bisa Pergi

kemarin aku mendustai, kubiarkan luka semakin menyakiti hati, hingga waktu yang akan mengobati karena aku telah lupa bagaimana caranya memperbaiki kembali hati setelah beberapa duka, luka bersemayam. menggerogoti bagai sel kanker yang terus hidup meski sudah di kemoterapi.
__

jam telah mengajarkan aku lupa pada menit di mana kita sempat menaruh beberapa harap pada bungabunga malam sebelum terlelap. yang memang sengaja kita ungkai sebagai hiasan setiap malam untuk salam perpisahan demi pertemuan esok hari yang lebih menawan.

aku sengaja melupa, meski dulu kita adalah dua manusia yang selalu mengingat
aku sengaja pergi, meski dulu kita adalah dua insan yang terus ingin tinggal di sini
aku sengaja hilang, meski dulu kita selalu mengenang
biar … biarkan …

masa kita telah usai setelah mentari tenggelam berpamit pada senja, dan pada potongan kertaskertas surat bersampul yang kini sudah terhambur bersama angin utara.

mari kita saling pergi, mari kita saling merayakan perpisahan termanis yang dulu tak pernah kita harap dan ingin. aku sudah mampu melepas apa yang harusnya aku genggam kuat, aku sudah rela terluka untuk apa yang dulu aku jaga.

tentangmu, tentang kita. hanyalah cerita cinta yang lambat laun hilang pada kenyataan jika kita tak mungkin kembali meski hati belum terlampau mampu untuk mengakhiri.

–AKSARAmadhani

Iklan

4 Replies to “Pada Janji Hati yang Masih Terpatri dan Diri yang Tak Bisa Pergi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s