Catatan Satu Hari untuk Ramadan Satu Bulan

 ada yang bahagia menyambut bulan ramadan, ada yang sedih ditinggalkannya
 ada yang sedih menyambutnya, ada yang bahagia ditunggalkan bulan ramadan

 seperti yang saya utarakan di atas, ada yang bahagia menyambutnya misalnya pedagang musiman, atau malah kita sendiri yang sudah menunggu bulan ini ada karena bulan ini penuh dengan magfirot dan kebaikan tentunya.
 ada yang sedih di tinggalkannya, misalnya lagi kita atau malah masjid-masjid di kampung. karena dia kehilangan jamaah sholat. biasanya ramai menjadi sepi kembali. biasanya di sholat isyak sampai taraweh ramai kini sepi kembali. atau adikadik kecil yang setiap pengajian mendapat pembagian takjil dan kini sudah tidak mendapat lagi.
 ada yang sedih menyambutnya, saya rasa ada beberapa dari kita yang sedih menyambut bulan ramadan. adakah? mungkin kita salah satunya.
 ada yang bahagia di tinggalkannya, siapa lagi kalau bukan adikadik kecil yang sudah siap dengan segala tetek bengek untuk menempatkan uang fitrah. atau kita yang bahagia karena bisa pulang ke kampung halaman. tradisi kita bukan? mudik lebaran, katanya.

 dikumandangkannya takbir berkali-kali tanda selesainya hari di mana tidurpun menjadi ibadah. setelahnya kita tinggal berpasrah, apakah ibadah kita selama satu bulan penuh di terima olehNya atau malah tidak karena adanya satu atau lain hal yang membuat ibadah kita rusak. “audzubilahhimindzalik” semoga tidak.

 satu bulan ramadhan rasanya hanya sebentar, dan diantara sebentarnya hari yang di lalui, menyimpan banyak cerita mulai dari bangun sahur hingga kembali terlelap. tidak ada yang berat dibulan ini kecuali kita sendiri yang membuatnya berat. banyak kesan, diantaranya berangkat taraweh banyak temannya, pengajian kembali aktif, tadarus quraan banyak yang aktif, bermain petasan setelah pulang taraweh dan salah satu dari beberapa hal yang berkesan adalah di izinkannya santap sahur dan berbuka puasa bersama kedua orangtua. bukankah itu termasuk hal terindah, terbaik dan ter ter lainnya yang tidak bisa di ungkapkan.

 masih dengan segala cerita di bulan ramadan yang segera hilang. yang saya takutkan hanya satu diantara ketakutan yang lain saat ramadan pergi, jika saya tidak bisa lagi bertemu bulan penuh berkah ini di tahun yang akan datang. atau tidak lagi bisa merasakan hal yang sama persis dengan yang saya rasakan tahun ini. harapan kita pasti tidak seperti itu, namun apakah kita bisa tahu takdir?

 kembali lagi kepada bulan ini yang akan segera hilang seiring takbir yang di titir, seiring adikadik yang riuh menabuh bedug menyambut kemenangan. tiada lagi yang lebih indah dari bulan ramadan, dihapuskannya satu per satu dosa hingga kita kembali fitri. tiada yang lebih berkesan dari bulan ramadan kecuali berkumpul, bercanda, berbuka puasa bersama orangorang terkasih kita.

 setelahnya, dengan segala kerendahan dan segala keinginan untuk bulan fitri lebih sempurna dan suci kembali. saya pribadi dan keluarga saya khususnya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1438, taqobalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan bathin.

Iklan

19 thoughts on “Catatan Satu Hari untuk Ramadan Satu Bulan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s