Perempuan Dan Rindunya

Malammalam perindu bagai duka yang berjurang nelangsa, dan saat itu tiada hal paling indah selain pertemuan. Rindu adalah anak dari kesucian dan cinta sebagai induknya, dia datang tanpa abaaba dengan ke-hikmatan yang memanggil namamu dengan penuh keagungan. Sepi bersemayam pada ingar bingar dunia, bagi perindu kesunyian adalah tempat terbaik untuk menuntaskan nelangsanya hati. Pada inti rindu, dia meng-asma-kan beberapa pertemuan, mengelukan beberapa deret waktu yang lama punah namun rindu belum berubah. Hingga jarak ratusan kilo bernai disumpah, padahal kau masih terus mau menjadi pelacur waktu–yang rela membagi rindu dengan kesibukan.

Ini rindu kesekian untuk perempuan yang hakikatnya tak pernah mau kesepian. Hingga sekaratnya hati menyeret pada kenyataan jika kekasih jauh dari pelukan. Seperti nyanyian indah yang di petik dari gitar akustik pengamen pinggir sebrang, bisikannya terus menggedor telinga dan membuat hati tersedu menahan gejolak rindu yang terus melonjak. Demi apapun juga, rindu seperti hutang, dia harus segera di bayar dengan pertemuan jika tak ingin mati dengan kesiasiaan. Lantas mengemas kembali rindu dan membawanya pulang.

Perpisahan hanya akan melahirkan kerinduan, dan kerinduan menyemai benih percintaan yang menambah indah sebuah janji hati. Namun rindu juga kesengsaraan, dia tak mau tahu bahkan ingin diketahui. Dukanya perindu adalah iringiringan yang membawa pada pertemuan dua jiwa, dan sektika kutukan menjadi lenyap. Hati yang merindukan kekasih, seperti kemarau merindukan hujan. Meski datangnya belum tentu kapan namun sudah pasti ada kepastian. Segala derita bagi perindu yang membisu karena waktu, akan terijabah lewat doa yang terus di adukan kepada pemilik semesta. 

Tiada kesiasiaan bagi perempuan yang merindukan, karena rindu itu murni; suci dan tahu tempat paling hakiki untuk bersemayam di dalam hati.

: Musabab rindu yang membuat kita mati secara perlahan, memang benar nyatanya. Namun, spirit yang di tanam pada ladang hati masingmasing perindu bagai jajaran karang pada tepian laut. Beberapa kali di hantam ombak tetaplah kokoh meski lamalama akan terkikis dan rindu semakin menipis.

–AKSARAmadhani

Rindu di Ujung Pena

pagi ini penaku ingin berbagi cerita

dari isi kepalaku yang membuat nelangsa

kali ini …

aku rindu pada sorot matanya

aku rindu pada wangi tubuhnya

aku rindu pada hembusan nafasnya

dan seketika aku rindu pada senyum di bawah kumis tipisnya

debar dadaku semakin tak menentu

seiring rindu yang terus memacu dan menyita seluruh perhatianku

bisakah sekejap saja kita menuntaskan temu

demi hutang rindu yang harusnya di bayar lunas dan tuntas

aku tak ingin kali ini mati karena merinduimu; itu bukanlah kelucuan yang mesti kita tertawakan, bukan?

mengertilah …

rinduku sudah pada tahap keterlaluan

dan aku tak bisa mengendalikan

kau paham ini membuatku tak tenang

dan aku benci menuliskan kerinduan yang semakin berguncang

mematikan

menelangsakan

: karena rinduku tak butuh kata manismu, atau foto dari figura ponselku. 
Rinduku butuh kamu, pelukmu, dan seluruhnya tentang dirimu.

–AKSARAmadhani.

DESPACITO (pelan pelan)

Pada kepulan asap cerutu yang kau embuskan hingga membumbung tinggi di tempat paling pojok cafe malam ini. Kutemukan beberapa gumpalan derita serta rindu yang perlahan merjalela menguasai nalar. Waktu telah membekukan kita dan mengubur dalam sebuah spirit yang sempat samasama membuat aku dan kamu bangkit dari keterpurukan. Dan kini keterasingan membuat dua jiwa yang dulu dekat menjadi semakin berjarak dan berjauhan.

Aku hanya bisa mendengar ratapan dari asap rokokmu yang tak pernah berdusta perihal ketidak mampuanmu menjauh dan pergi mengemas hati. Melupakan seseorang yang menjadi tempatmu menyimpan tawa dan senyum termanis setiap harinya. Atau mungkin, dia yang menyawai hidupmu. Hingga kehilangannya serasa hidupmu dalam kematian meski belum sepenuhnya raga berpisah dengan ruh.

“Ini lebih dari sebuah derita”, katamu. Meninggalkan dan berjalan mengubur perasaan hingga mematikannya secara perlahan meski dia belum benarbenar mati. Logika telah mendustai ceritamu yang semakin memanas akibat ketidak bisaanmu kembali mengetuk dan membawa hatiku pergi. Dan seketika jurang nestapa menggiringmu pada tempat dan perasaan antah berantah sehingga membuatmu semakin menderita meski sakitnya tak seberapa. Bir, kopi dan beberapa ratus bungkus rokok setiap harinya. Mata yang semakin memerah dan kesehatan yang semakin memprihtinkan. Kau tak seharusnya menyiksa luka jika kau sudah paham bagaimana cara menyembuhkannya. Namun hati dan pikiran selalu bersitengang untuk urusan pilihan, hingga hal buruk menjadi lebih baik dan pilihan menarik setelah beberapa luka semakin menjadi adanya.

Aku ingin kembali memelukmu dalam derita; aku ingin kembali menjadi tawanan yang kau rindukan setiap hari–sebenarnya. Tapi … beberapa ratapan luka yang masih membilur membuatku semkain bingung, menyesatkan, membunuh perasaan yang dulu benarbenar bisa kubanggakan. Kau menderita sayang, namun aku lebih tersiksa setelah tahu ini semua. Ini buruk … lantas pada akhirnya, kepulan asap rokokmu semakin habis seiring cerutu yang semakin menipis. Perlahan tapi pasti, kita seperti rokok yang kau sesap setiap harinya.

Membakar inci demi inci lantas habis dan menyisakan bau tembakau serta buih kotoran pada asbak. Pelanpelan dan mantapkan jantung persegi masingmasing dari kita jika akhirnya akan melupa; pergi dan mengucap selamat tinggal.

Seberat apa melupakan?
Seberat apa meninggalkan? 
Cinta bukan sebuah pilihan kembali untuk hati yang sudah tak bisa menjadi satu. Kita tidak seharusnya bersikeras untuk bertahan bukan? Pelan … pelan sekali, semua akan kembali mencintai diri masingmasing dan menemukan bahagia meski kita masih samasama menyimpan seribu rindu pada saku celana.

–AKSARAmadhani–

Kematian Tuan dan Kehilangannya

Beberapa detik yang telah menjadi menit, mengisyaratkan hati dan nada pada nadi yang terus bernyanyi lewat detaknya. Dia masih saja bersinggungan dengan irama pada lagu yang di putarnya sambil meminum kopi pahit buatan warung pinggir parit. Nyanyian surgawi indah melantun bagai lagu nina bobok yang sengaja diputar pada malam kesepian; merindukan kekasih pujaan, atau hanya sekadar bernostalgia karena sendirian. Sebatas angan pada dinding kehampaan; sendiri dan sepi mengajarkannya mengenali diri sendiri–mencintai dirinya dan lebih mensyukri atas nikmat yang diberikan Tuhannya. Ini adalah saat dimana hatinya di rundung duka mencekam; kehilangan telah menyeretnya menjadi budak waktu yang harinya dihabiskan untuk duduk dan meratap. Ampas kopi, putung rokok yang berserak dan beberapa botol anggur yang sengaja dia simpan atau mungkin tak sempat dia singkirkan, ntahlah. 

Dia bagai manusia yang telah mati sebelum di matikan oleh Tuhannya. Diam adalah senjata terampuh untuk menjawab semua kebisuan hening yang setiap malam menjadi sahabatnya paling setia. Kepergian; kehilangan; kematian telah merubah manusia waras menjadi gila. Membuatnya selalu mengutuk Tuhan dan mengingini mati segera; demi bertemu kekasihnya di surga.

Tiada suara decit tempat tidur kini setiap malam, yang ada hanya suara jam dinding berloncantan merampas waktu. Tiada makan malam dengan hidangan sambal kacang, yang ada hanya meja makan yang penuh dengan semut hitam. Tiada lagi desahan nafas panjang melepas kenikmatan, yang ada hanyalah desau angin malam menghembus menerobos batas ingatan samar–kepada kekasih yang hanya bisa terkenang. Tiada lagi ucapan selamat malam, kini yang ada hanya suara musik yang di putarnya lewat music box pengusir sepi setiap harinya.

Kehidupan telah mematikannya dengan sempurna, kehilangan telah membuat dirinya mati juga dalam kehidupan nyata. Ini adalah doa yang tak pernah dia ucapkan setiap hari, ini bukan doa yang selalu dia adukan kepada pemilik semesta setiap waktunya. Kesepian menjadi kemahaan bersama beberapa luka yang mengering akibat sayatan silet pada tangan kanan. Frustasi, kesakitan dan kebimbangan membut hidupnya tak lagi seimbang. Ini ironi atau jalan takdir yang tak bisa dipungkiri; kepada manusia yang kini perlahan menjadi zombi. 

Hidupnya tak lebih baik dari kematian, dan kematian yang dia nantikan tak kunjung datang. Haruskah setiap malam dia meminum beberapa obat, menyuntikkan beberapa cairan demi mati secara perlahan. Ah tidak … dia akan mati tanpa harus mempercepat kematian, Tuhan lebih rapi dalam menjalankan tugasnya daripada manusia yang cetek paham.

Selamat! menanti kematian, Tuan! Kekasihmu mengasihi meski dia telah pergi dan menanti dipintu surga meski belum tentu kembali mengenali.

— AKSARAmadhani.

: Kematian bukan berarti mati dan pergi secara fisik, namun kematian adalah kepergian ruh; ntah ruh kasih, ruh cinta dan ruh sayang, yang berpisah dengan raganya. Kematian tak menjadikan manusia yang ditinggalkannya menjadi gila, hanya saja dia kerap menjadikan kesepian yang tekadang melenakan dan pada akhirnya; mati menjadi pilihan paling meyakinkan.

INTARAN KASIH

gita semesta menitipkan sabda pada kehikhalsan alam yang mencintai tanpa meminta welas, kasih, dan pamrih. kepada beberapa keharmonisan alam seperti; hujan yang bernyanyi meski membasahi dan membanjiri. seperti halnya pelangi yang berwarna meski tak diwarani. dan beberapa daun yang terjatuh tertimpa angin sepoi tadi pagi.

masih tentang keharmonisan yang di bawa alam kepada manusia. mungkin di antara kau dan aku membenci angin yang meniup karena merusak tatanan rambut klimismu. kepada hujan yang melongsorkan tanah samping rumahmun bahkan hujan yang terjatuh dan tak mau tahu dan mungkin di benci ibu-ibu, atau tiupan angin sepoi yang melenakan daun hingga terjatuh dan kau harus membersihkannya.

pada kenyataan yang lain, manusia terkadang melupakan siapa pemberi hidup dan mati yang sesungguhnya. bahwasannya kita juga kadang melupa jika kita hidup berdampingan dengan mereka. dan tak dipungkiri, setiap hari kita membutuhkan sinar matahari dan juga pohon yang melahirkan udara segar dan oksigen setiap hari.

apa kau juga sadar, balingbaling di pematang siapa yang menggerakkan. atau layanglayang yang harusnya terjatuh namun mampu terbang dengan indah. kau tak harus membencinya jika kau yakini setiap hari membutuhkannya dan menginginkan dia ada.

alam mampu mencintai kita dengan ikhlas, walau kadang di pandang sebelah mata. dia tidak pernah melihat sesiapa dari kita. namun kembali, apakah kita melakukan hal serupa kepada alam?

–AKSARAmadhani.

mengambil tema diskusi bersama cowok terkeren saya Marshall R. Fouw
dan editing gambar oleh wanita tersayang saya Yusi Kafsyah

Surat (kecil) untuk Calon Imam Saya



kepada engkau yang masih menutup mata
kepada engkau yang hatinya masih miliknya
dan kepada engkau yang sejatinya milik saya namun masih disesatkan jalannya

suatu saat nanti saya dan kamu akan berhenti diruang ini, ditempat ini, dan diwaktu ini. dimana saya dan kamu samasama mengeja arti debar dari jantung persegi milik masingmasing dari kita, yang berisyarat sebuah makna.

kepada engkau yang masih menjadi rahasia Ilahi, namun selalu saya semogakan dalam doa setiap hari.

pada massa yang kita tak pernah tahu kapan terjadi, saya selalu ragu untuk memulai obrolan sederhana dengan kamu, menatap sepasang mata indah yang darinya saya menemukan kasih tanpa pamrih. memandang rona wajah milik kamu yang selalu membuat saya memimpikan sosok imam tangguh dengan rahang kokoh seperti itu. demi semesta yang terus berjalan tanpa kita tahu ujungnya, denganmu segala harap saya gantung setelah saya yakin Tuhan telah membuat saya dan kamu samasama dewasa dan paham akan arti rasa yang sesungguhnya.

kepadamu calon imam saya kelak pada waktunya

saya tahu pasti kamu lebih memahami sikapsikap saya sesungguhnya sebelum akhirnya kita menjalin ikatan yang sah dalam pernikahan. saya selalu berharap kamu akan sabar menghadapi sikap saya. saya selalu ingin kamu menuntun saya dalam kebaikan dunia demi akhirat yang nanti di janjikan jannah oleh Ilahi. harapan saya sesederhana cinta yang kita jalin sejatinya. saya selalu berharap kamu menjadi imam yang bisa mengimami saya untuk ingat saya ini hidup untuk apa dan siapa. dan lagi sayang, dari kesekian kurangnya sikap saya. saya hanya ingin kamu menjadi pelengkap untuk menggenapi ganjil saya. karena saya akan melakukan hal yang sama untuk kamu; demi kita.

setelahnya,
mari samasama belajar memahami, menerima kekurangan meski saya yakini itu tak semudah yang saya katakan saat ini.
mari samasama mengerti jika cinta tak hanya butuh materi tapi juga menjaga hati pasangan sejati.

Gantungkan Harapan Pada Tuhan

–jadi … jangan banyak berharap pada manusia.

pada kenyataan yang mungkin tak pernah kau ingin dan pikir sebelumnya. semakin kau terlambat menyadari semakin semuanya menyakiti lebih dalam lagi.

begini misalnya,
kau tahu persis bukan jika kau terlalu banyak berharap maka pada akhirnya kau akan lebih merasa kecewa saat apa yang tentunya kau harap tak pernah berjalan sesuai denyan apa yang kau ingin. mungkin … kau akan berjalan mundur, berpaling, menjauh namun membawa luka yang timbul dari sebuah kecewa tidaklah semudah itu. kau harus benarbenar hilang untuk sementara dan mungkin malah akan tenggelam bersama kecewamu hingga kau akan kembali jika lukamu benar sudah membaik.

kau tak pernah salah perihal berharap. karena manusia berharap itu lumrah. bukan begitu? jika kita tak pernah berharap kita tidak pernah memiliki citacita bukan?

simpelnya …
sebuah harapan akan terus menjadi harapan jika kau hanya bisa berharap dan mengharapkan. mulailah untuk tidak banyak mengarapkan (pada manusia) mulailah untuk tidak banyak berharap (pada manusia) berjalanlah dengan tanpa harapan yang terlalu kaugadang. cukup berharap tanpa harus berlebihlebih. kau juga tahu ‘kan? sesuatu yang berlrbih jatuhnya tidaklah baik?

berhentilah …
gantungkan segala harap pada Tuhanmu. kau tak akan pernah merasa kecewa akan hal itu. Tuhanmu lebih tahu segala tentangmu, tentang apa yang kamu butuh dan harap. jadi … berharaplah pada Tuhanmu, jika pada manusia saja harapanmu hanyalah dipandang sebelah mata. jangan jadi manusia yang penuh berharap pada manusia lain. jika kau masih punya Tuhan, untuk apa berharap pada manusia?

Pikirkan!

–Rì Chôcò dè Λksã