Rindu di Ujung Pena

pagi ini penaku ingin berbagi cerita

dari isi kepalaku yang membuat nelangsa

kali ini …

aku rindu pada sorot matanya

aku rindu pada wangi tubuhnya

aku rindu pada hembusan nafasnya

dan seketika aku rindu pada senyum di bawah kumis tipisnya

debar dadaku semakin tak menentu

seiring rindu yang terus memacu dan menyita seluruh perhatianku

bisakah sekejap saja kita menuntaskan temu

demi hutang rindu yang harusnya di bayar lunas dan tuntas

aku tak ingin kali ini mati karena merinduimu; itu bukanlah kelucuan yang mesti kita tertawakan, bukan?

mengertilah …

rinduku sudah pada tahap keterlaluan

dan aku tak bisa mengendalikan

kau paham ini membuatku tak tenang

dan aku benci menuliskan kerinduan yang semakin berguncang

mematikan

menelangsakan

: karena rinduku tak butuh kata manismu, atau foto dari figura ponselku. 
Rinduku butuh kamu, pelukmu, dan seluruhnya tentang dirimu.

–AKSARAmadhani.

Iklan

DESPACITO (pelan pelan)

Pada kepulan asap cerutu yang kau embuskan hingga membumbung tinggi di tempat paling pojok cafe malam ini. Kutemukan beberapa gumpalan derita serta rindu yang perlahan merjalela menguasai nalar. Waktu telah membekukan kita dan mengubur dalam sebuah spirit yang sempat samasama membuat aku dan kamu bangkit dari keterpurukan. Dan kini keterasingan membuat dua jiwa yang dulu dekat menjadi semakin berjarak dan berjauhan.

Aku hanya bisa mendengar ratapan dari asap rokokmu yang tak pernah berdusta perihal ketidak mampuanmu menjauh dan pergi mengemas hati. Melupakan seseorang yang menjadi tempatmu menyimpan tawa dan senyum termanis setiap harinya. Atau mungkin, dia yang menyawai hidupmu. Hingga kehilangannya serasa hidupmu dalam kematian meski belum sepenuhnya raga berpisah dengan ruh.

“Ini lebih dari sebuah derita”, katamu. Meninggalkan dan berjalan mengubur perasaan hingga mematikannya secara perlahan meski dia belum benarbenar mati. Logika telah mendustai ceritamu yang semakin memanas akibat ketidak bisaanmu kembali mengetuk dan membawa hatiku pergi. Dan seketika jurang nestapa menggiringmu pada tempat dan perasaan antah berantah sehingga membuatmu semakin menderita meski sakitnya tak seberapa. Bir, kopi dan beberapa ratus bungkus rokok setiap harinya. Mata yang semakin memerah dan kesehatan yang semakin memprihtinkan. Kau tak seharusnya menyiksa luka jika kau sudah paham bagaimana cara menyembuhkannya. Namun hati dan pikiran selalu bersitengang untuk urusan pilihan, hingga hal buruk menjadi lebih baik dan pilihan menarik setelah beberapa luka semakin menjadi adanya.

Aku ingin kembali memelukmu dalam derita; aku ingin kembali menjadi tawanan yang kau rindukan setiap hari–sebenarnya. Tapi … beberapa ratapan luka yang masih membilur membuatku semkain bingung, menyesatkan, membunuh perasaan yang dulu benarbenar bisa kubanggakan. Kau menderita sayang, namun aku lebih tersiksa setelah tahu ini semua. Ini buruk … lantas pada akhirnya, kepulan asap rokokmu semakin habis seiring cerutu yang semakin menipis. Perlahan tapi pasti, kita seperti rokok yang kau sesap setiap harinya.

Membakar inci demi inci lantas habis dan menyisakan bau tembakau serta buih kotoran pada asbak. Pelanpelan dan mantapkan jantung persegi masingmasing dari kita jika akhirnya akan melupa; pergi dan mengucap selamat tinggal.

Seberat apa melupakan?
Seberat apa meninggalkan? 
Cinta bukan sebuah pilihan kembali untuk hati yang sudah tak bisa menjadi satu. Kita tidak seharusnya bersikeras untuk bertahan bukan? Pelan … pelan sekali, semua akan kembali mencintai diri masingmasing dan menemukan bahagia meski kita masih samasama menyimpan seribu rindu pada saku celana.

–AKSARAmadhani–

Surat (kecil) untuk Calon Imam Saya



kepada engkau yang masih menutup mata
kepada engkau yang hatinya masih miliknya
dan kepada engkau yang sejatinya milik saya namun masih disesatkan jalannya

suatu saat nanti saya dan kamu akan berhenti diruang ini, ditempat ini, dan diwaktu ini. dimana saya dan kamu samasama mengeja arti debar dari jantung persegi milik masingmasing dari kita, yang berisyarat sebuah makna.

kepada engkau yang masih menjadi rahasia Ilahi, namun selalu saya semogakan dalam doa setiap hari.

pada massa yang kita tak pernah tahu kapan terjadi, saya selalu ragu untuk memulai obrolan sederhana dengan kamu, menatap sepasang mata indah yang darinya saya menemukan kasih tanpa pamrih. memandang rona wajah milik kamu yang selalu membuat saya memimpikan sosok imam tangguh dengan rahang kokoh seperti itu. demi semesta yang terus berjalan tanpa kita tahu ujungnya, denganmu segala harap saya gantung setelah saya yakin Tuhan telah membuat saya dan kamu samasama dewasa dan paham akan arti rasa yang sesungguhnya.

kepadamu calon imam saya kelak pada waktunya

saya tahu pasti kamu lebih memahami sikapsikap saya sesungguhnya sebelum akhirnya kita menjalin ikatan yang sah dalam pernikahan. saya selalu berharap kamu akan sabar menghadapi sikap saya. saya selalu ingin kamu menuntun saya dalam kebaikan dunia demi akhirat yang nanti di janjikan jannah oleh Ilahi. harapan saya sesederhana cinta yang kita jalin sejatinya. saya selalu berharap kamu menjadi imam yang bisa mengimami saya untuk ingat saya ini hidup untuk apa dan siapa. dan lagi sayang, dari kesekian kurangnya sikap saya. saya hanya ingin kamu menjadi pelengkap untuk menggenapi ganjil saya. karena saya akan melakukan hal yang sama untuk kamu; demi kita.

setelahnya,
mari samasama belajar memahami, menerima kekurangan meski saya yakini itu tak semudah yang saya katakan saat ini.
mari samasama mengerti jika cinta tak hanya butuh materi tapi juga menjaga hati pasangan sejati.

Gantungkan Harapan Pada Tuhan

–jadi … jangan banyak berharap pada manusia.

pada kenyataan yang mungkin tak pernah kau ingin dan pikir sebelumnya. semakin kau terlambat menyadari semakin semuanya menyakiti lebih dalam lagi.

begini misalnya,
kau tahu persis bukan jika kau terlalu banyak berharap maka pada akhirnya kau akan lebih merasa kecewa saat apa yang tentunya kau harap tak pernah berjalan sesuai denyan apa yang kau ingin. mungkin … kau akan berjalan mundur, berpaling, menjauh namun membawa luka yang timbul dari sebuah kecewa tidaklah semudah itu. kau harus benarbenar hilang untuk sementara dan mungkin malah akan tenggelam bersama kecewamu hingga kau akan kembali jika lukamu benar sudah membaik.

kau tak pernah salah perihal berharap. karena manusia berharap itu lumrah. bukan begitu? jika kita tak pernah berharap kita tidak pernah memiliki citacita bukan?

simpelnya …
sebuah harapan akan terus menjadi harapan jika kau hanya bisa berharap dan mengharapkan. mulailah untuk tidak banyak mengarapkan (pada manusia) mulailah untuk tidak banyak berharap (pada manusia) berjalanlah dengan tanpa harapan yang terlalu kaugadang. cukup berharap tanpa harus berlebihlebih. kau juga tahu ‘kan? sesuatu yang berlrbih jatuhnya tidaklah baik?

berhentilah …
gantungkan segala harap pada Tuhanmu. kau tak akan pernah merasa kecewa akan hal itu. Tuhanmu lebih tahu segala tentangmu, tentang apa yang kamu butuh dan harap. jadi … berharaplah pada Tuhanmu, jika pada manusia saja harapanmu hanyalah dipandang sebelah mata. jangan jadi manusia yang penuh berharap pada manusia lain. jika kau masih punya Tuhan, untuk apa berharap pada manusia?

Pikirkan!

–Rì Chôcò dè Λksã