Kematian Tuan dan Kehilangannya

Beberapa detik yang telah menjadi menit, mengisyaratkan hati dan nada pada nadi yang terus bernyanyi lewat detaknya. Dia masih saja bersinggungan dengan irama pada lagu yang di putarnya sambil meminum kopi pahit buatan warung pinggir parit. Nyanyian surgawi indah melantun bagai lagu nina bobok yang sengaja diputar pada malam kesepian; merindukan kekasih pujaan, atau hanya sekadar bernostalgia karena sendirian. Sebatas angan pada dinding kehampaan; sendiri dan sepi mengajarkannya mengenali diri sendiri–mencintai dirinya dan lebih mensyukri atas nikmat yang diberikan Tuhannya. Ini adalah saat dimana hatinya di rundung duka mencekam; kehilangan telah menyeretnya menjadi budak waktu yang harinya dihabiskan untuk duduk dan meratap. Ampas kopi, putung rokok yang berserak dan beberapa botol anggur yang sengaja dia simpan atau mungkin tak sempat dia singkirkan, ntahlah. 

Dia bagai manusia yang telah mati sebelum di matikan oleh Tuhannya. Diam adalah senjata terampuh untuk menjawab semua kebisuan hening yang setiap malam menjadi sahabatnya paling setia. Kepergian; kehilangan; kematian telah merubah manusia waras menjadi gila. Membuatnya selalu mengutuk Tuhan dan mengingini mati segera; demi bertemu kekasihnya di surga.

Tiada suara decit tempat tidur kini setiap malam, yang ada hanya suara jam dinding berloncantan merampas waktu. Tiada makan malam dengan hidangan sambal kacang, yang ada hanya meja makan yang penuh dengan semut hitam. Tiada lagi desahan nafas panjang melepas kenikmatan, yang ada hanyalah desau angin malam menghembus menerobos batas ingatan samar–kepada kekasih yang hanya bisa terkenang. Tiada lagi ucapan selamat malam, kini yang ada hanya suara musik yang di putarnya lewat music box pengusir sepi setiap harinya.

Kehidupan telah mematikannya dengan sempurna, kehilangan telah membuat dirinya mati juga dalam kehidupan nyata. Ini adalah doa yang tak pernah dia ucapkan setiap hari, ini bukan doa yang selalu dia adukan kepada pemilik semesta setiap waktunya. Kesepian menjadi kemahaan bersama beberapa luka yang mengering akibat sayatan silet pada tangan kanan. Frustasi, kesakitan dan kebimbangan membut hidupnya tak lagi seimbang. Ini ironi atau jalan takdir yang tak bisa dipungkiri; kepada manusia yang kini perlahan menjadi zombi. 

Hidupnya tak lebih baik dari kematian, dan kematian yang dia nantikan tak kunjung datang. Haruskah setiap malam dia meminum beberapa obat, menyuntikkan beberapa cairan demi mati secara perlahan. Ah tidak … dia akan mati tanpa harus mempercepat kematian, Tuhan lebih rapi dalam menjalankan tugasnya daripada manusia yang cetek paham.

Selamat! menanti kematian, Tuan! Kekasihmu mengasihi meski dia telah pergi dan menanti dipintu surga meski belum tentu kembali mengenali.

— AKSARAmadhani.

: Kematian bukan berarti mati dan pergi secara fisik, namun kematian adalah kepergian ruh; ntah ruh kasih, ruh cinta dan ruh sayang, yang berpisah dengan raganya. Kematian tak menjadikan manusia yang ditinggalkannya menjadi gila, hanya saja dia kerap menjadikan kesepian yang tekadang melenakan dan pada akhirnya; mati menjadi pilihan paling meyakinkan.

Iklan

8 Replies to “Kematian Tuan dan Kehilangannya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s