DESPACITO (pelan pelan)

Pada kepulan asap cerutu yang kau embuskan hingga membumbung tinggi di tempat paling pojok cafe malam ini. Kutemukan beberapa gumpalan derita serta rindu yang perlahan merjalela menguasai nalar. Waktu telah membekukan kita dan mengubur dalam sebuah spirit yang sempat samasama membuat aku dan kamu bangkit dari keterpurukan. Dan kini keterasingan membuat dua jiwa yang dulu dekat menjadi semakin berjarak dan berjauhan.

Aku hanya bisa mendengar ratapan dari asap rokokmu yang tak pernah berdusta perihal ketidak mampuanmu menjauh dan pergi mengemas hati. Melupakan seseorang yang menjadi tempatmu menyimpan tawa dan senyum termanis setiap harinya. Atau mungkin, dia yang menyawai hidupmu. Hingga kehilangannya serasa hidupmu dalam kematian meski belum sepenuhnya raga berpisah dengan ruh.

“Ini lebih dari sebuah derita”, katamu. Meninggalkan dan berjalan mengubur perasaan hingga mematikannya secara perlahan meski dia belum benarbenar mati. Logika telah mendustai ceritamu yang semakin memanas akibat ketidak bisaanmu kembali mengetuk dan membawa hatiku pergi. Dan seketika jurang nestapa menggiringmu pada tempat dan perasaan antah berantah sehingga membuatmu semakin menderita meski sakitnya tak seberapa. Bir, kopi dan beberapa ratus bungkus rokok setiap harinya. Mata yang semakin memerah dan kesehatan yang semakin memprihtinkan. Kau tak seharusnya menyiksa luka jika kau sudah paham bagaimana cara menyembuhkannya. Namun hati dan pikiran selalu bersitengang untuk urusan pilihan, hingga hal buruk menjadi lebih baik dan pilihan menarik setelah beberapa luka semakin menjadi adanya.

Aku ingin kembali memelukmu dalam derita; aku ingin kembali menjadi tawanan yang kau rindukan setiap hari–sebenarnya. Tapi … beberapa ratapan luka yang masih membilur membuatku semkain bingung, menyesatkan, membunuh perasaan yang dulu benarbenar bisa kubanggakan. Kau menderita sayang, namun aku lebih tersiksa setelah tahu ini semua. Ini buruk … lantas pada akhirnya, kepulan asap rokokmu semakin habis seiring cerutu yang semakin menipis. Perlahan tapi pasti, kita seperti rokok yang kau sesap setiap harinya.

Membakar inci demi inci lantas habis dan menyisakan bau tembakau serta buih kotoran pada asbak. Pelanpelan dan mantapkan jantung persegi masingmasing dari kita jika akhirnya akan melupa; pergi dan mengucap selamat tinggal.

Seberat apa melupakan?
Seberat apa meninggalkan? 
Cinta bukan sebuah pilihan kembali untuk hati yang sudah tak bisa menjadi satu. Kita tidak seharusnya bersikeras untuk bertahan bukan? Pelan … pelan sekali, semua akan kembali mencintai diri masingmasing dan menemukan bahagia meski kita masih samasama menyimpan seribu rindu pada saku celana.

–AKSARAmadhani–

4 tanggapan untuk “DESPACITO (pelan pelan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s