Kebersahajaan Menanggapi Perubahan

Stempel bekas atau bahkan bolpoin yang sudah habis tinta, tuts keybord komputer usang atau beberapa deret kertaskertas yang terhambur ketanah dan aku yang masih terus disana memandang jengah apaapa yang kusebut perubahan.

Bersama rambut ibu yang mulai memudar dan beberapa gincu tanggal di atas rak lemari kayu, disana kutemukan sepasang kata purba yang bermanka ganda. Berderet bagai kekata yang sengaja dengan rapi tertata atau mungkin memang sengaja diletakkan di sana.

Segalanya berangsur menjauh, bersama mentari yang menua atau bahkan malam yang kembali pagi. Aku menyeru dengan suara radang, memanggil asma pemilik semesta seutuhnya. Menanyakan apa kabar tanah yang kini telah menjadi rumah. Kuburan yang menjadi restoran bahkan sawah yang menjadi gedung megah. Apakah ada kebahagiaan di sana? Atau hanyalah sebuah kesengsaraan yang perlahan termakan zaman dan kita mencoba menutup telinga rapatrapat.

Setelah beberapa kenestapaan mengudara, kearogansian menyeruak diantara bentangan manusia yang lupa akan rumahnya. Menjadikan hotel sebagai istana dengan menyewa wanita padahal keluarga di rumah menunggu dengan sengsara. Saban hari hanyalah kedipan netra dengan dompet tebal si pendasi, mencibir si papa yang tinggal tulang belulang menghidupi keluarga dengan dagang kaki lima.

Perubahan begitu cepat mencicipi setiap sendi kehidupan. Tiada yang bisa menolak akan hal tersebut kecuali diri pribadi. Kita yang mau mengingat atau kita yang dengan baik mengingat. Ini bukan masalah menolak lupa atau membunuh kemajuan zaman, tapi metani, seleksi dan menjembatani diri akan perubahan pesat yang menyeret kearus kesalahan dan kerugian.

Dengan bijak ke-ber-sahajaaan di pertaruhkan, anak yang sudah dewasa menjadi punggung negara yang harusnya di didik sedemikian rupa bukan hanya tahu adegan ciuman memanas artis ibu kota, namun di gembleng menuju ke mandirian. Menuju beberapa kebajikan yang harusnya di tata dari sekarang.

Ini bukan tentang sebuah perlakuan, namun kesadaran. Kita diberi pilihan, tetap tinggal pada perubahan namun selektif memilihnya atau hanya mengikuti arus tanpa tahu tujuannya.

–AKSARAmadhani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s