Rinduku Patah Hati

Tulisan adalah sebagian rinduku yang patah hati. Dia menjelma menjadi beberapa diksi manis sebagai ujud diri yang abadi. Pada rindu yang terus berulang setiap waktu, tulisanku tak pernah mati meski di telan pusara dari waktu ke waktu. Bagai rindu yang terus tumbuh dengan tunas-tunas baru, tulisanku adalah rinduku yang tak sampai berpulang kepadamu.

Pada sebuah pepat perjalanan, kutemukan tulisan dan rinduku tercecer pada narasi mati pujangga patah hati. Mengiramakan duka yang setiap detik mencibirnya dengan rindu keterlaluan dari hatinya.

Kepada siapa rindu akan berpulang, jika lagu sendu hanyalah ke-amsalan dengan degup rindu yang terus saja membuncah; pecah.

Rindu adalah bahasa jarak yang hanya mampu di pahami oleh angin. Menabirkan jejak setapak pada kerumunan bait-bait senja berbalut air mata. Sajakku merindukan rindunya. Rinduku lupa jalannya pulang. Langkah gontaiku tergopoh-gopoh, mengejar rindu agar mau berpulang kepada keutuhan hati bertuan.

Jika pada akhirnya rindu mampu membuat penaku sekarat. Jika pada akhirnya rinduku hanyalah kebisingan pada telinga para pujangga, birkan rinduku mati saja. Biarkan rindu tak pernah lagi berpulang, meski aku menunggunya pada jalan-jalan petang nelayan.

–AKSARAmadhani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s