Karena Saya Menulis BUKAN Penulis

Huahhhh …
Gak tahu kenapa waktu di Gramed ngelirik buku ini langsung pas di hati. Macam ketemu sama cowok langsung jatuh cinta(eh). Don’t judge book by the cover(eaaahhhh) seperti buku ini. Jangan liat doi dari tampilan awalnya aja yang warnanya kuning dan putih tapi isinya. Bukalah halaman per halaman maka akan kau temu apa arti kata belajar nulis yang sebenarnya.

Di era yang maju sekarang ini, budaya literasi sudah berpindah ke smartphone kalian yang dalam hituang detik bisa memunculkan beberapa deret pilihan dalam sekali ketik. Hmm … sekali-kalilah jalanjalan kalian ke Gramed, baca berbagai macam buku yang ada di sono.

Saya pikir, ilmu nulis saya sudah baik ternyata enggak si. Saya selalu merasa bodoh jika mendapat ilmu yang baru. Selama ini saya belajar nulis cuman otodidak, dari temen, dan baca artikel. Tapi kali ini mau jalan yang beda. BACA BUKU (cieelahh).

Nulis juga perlu belajar to?

Mungkin itu yang kadang jadi pertanyaan di beberapa orang. Sekarang gini deh, mana ada orang pande yang gak belajar. Nulis itu kerjaan yang mudah gausah ada teori langsung praktik aja bisa. Namun gais, untuk menciptakan sebuah karya yang apik dan menarik setiap orang juga perlu belajar. Ntah belajar dari orang lain atau belajar sendiri. Begini, semua orang punya opsi si, menulis untuk menemukan teori atau dengan teori dia menulis.

Tipe penulis itu macemacem dan mungkin saya ini bukan tipe penulis yang keduanya karena saya gak bisa nulis apaapa selain “Aku sayang kamu,”(cieeeehhhh😍😍). Oke kembali, menulis kata orang tak perlu pake teori, yang penting konsisten. Iya sii bener konsisten juga perlu, ibaratnya pisau. Jika tiap hari di asah pasti akan lancip juga, makanya nulis juga perlu konsisten tuh.

Sebenernya, apa sii nulis? Kenapa kita perlu nulis?

Gais, hilangkan pikiran kalian jika nulis cuma buat ajang curhat(wkwkwkwk). Itu pikiran saya dulu yang masih kolot sekaleeh, saya dulu mikirnya juga gitu kok, jadi kalau kalian mikir begitu, yaudah sama(-_-) Tapi setelah tahu apa to nulis yang sebenernya sekarang baru sadar kalau ajang nulis gak cuma ajang curhat terbuka dengan bumbu metafora. Namun lebih dari itu, nulis adalah ajang otak kita untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Menterjemahkan arti setiap benda yang ada disekitar kita, melatih kepekaan, rasa empati dan simpati yang ada pada diri kita.

Kalau kalian suka nulis, ntah nulis di buku, di sosial media atau apa aja deh. Kalau kalian pengen banget bisa nulis dengan baik belajarlah kalian, banyak baca buku dan karya orang. Gak ada penulis yang langsung bisa jadi keren. Semua perlu proses. Penulis juga perlu baca buku hlo, kenapa? Hello … kalian suka nulis gak suka baca sama dengan output tanpa input. Kalian bisa nulis karena banyak buku yang di baca, banyak hal yang bisa kalian simak dari membaca.

Eh … saya bukan penulis yaa, saya hanya hoby. Cuman suka nulis aja, bukan mau buat trend atau biar terkenal. Buat saya nulis itu dari saya, oleh saya dan untuk saya sendiri. Jadi apapun bentuk tulisan saya, sayalah penikmat setia dari ungkapan saya.

Gais ingatlah, selalu tempatkan diri kalian sebagai pembaca dan penikmat yang baik. Jangan suka plagiat, copas dengan tidak mencantumkan nama atau nyamain karya orang lain. Jujur, semua itu hanya akan membuat sakit hati dari siapapun yang punya karya itu sepenuhnya. Ibaratnya gini, kalian punya anak, terus anaknya di curi orang. Gimana tuh? sakit kan? Nah begitulah penulis. Gak bakal seneng karyanya di plagitat, di copas tanpa mencantumkan nama orang tua aslinya.

Jadi … buat kalian, nulis aja semau kalian. Masalah teori atau bukan dipikir belakang. Karena nulis itu kewajiban bukan tuntunan. Jangan hanya jadi penikmat tapi jadilah pengolah yang mau dinikmati.

😍Salam Literasi😍

33 tanggapan untuk “Karena Saya Menulis BUKAN Penulis

  1. Kalau Saya… Tadinya menulis cerpen karena ingin mengubah alur cerita dari sinetron,kartun atau bahkan film yang Saya suka. Eh lama-lama malah muncul ide-ide di otak dan jadi cerpen karya sendiri. Dan sejak saat itu jadi suka membaca,padahal dulu saya anti pada hal membaca. Dan soal nulis buat curhat itu,Saya juga dulu melakukan hal itu hahahaβ€¦πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Disukai oleh 1 orang

      1. Hmmm… Kalau kamu pernah baca cerpen saya yang judulnya “Masih Menunggu”,itu sebenarnya adalah curhat. Kejadian ditinggal nikah dan belum bisa move on sampai saat ini itu memang benar adanya dan bukan hanya cerpen.πŸ˜‚ Jadi sedih kalau ingat itu😒

        Suka

      2. asikk curhat. owalahh … sepertinya setiap orang yang menulis punya pengalaman buruk di masa laluπŸ˜‚πŸ˜‚ berarti bener kan, nulis itu ajang curhat terselubung. tapi terlepas dari itu sepertinya, mereka yang suka menulis gak punya temen curhat di dunia nyataπŸ˜‚πŸ˜‚ jadi curhat aja jadi tulisan. wkwkwkw.
        tak apa sii, nulis perlu inspirasi, pun dari diri kita sendiri.

        Disukai oleh 1 orang

      3. hahahaha nahh kannn, bener lagiiiπŸ™„πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ curhat ke tulisan itu sekarang lebih baik karena dia gak bakal cerita ke siapasiapa dan mungkin hanya kita yang bisa tahu.

        Suka

  2. saya juga sama Mbak: seneng nulis, tapi nggak pernah nyebut sebagai (atau malah nggak mau jadi) penulis. saya bakal congkak dan mendaku sebagai penulis kalo udah bisa nulis di atas air, dan awet. πŸ˜€

    Suka

      1. huaahahaha, referenasi nulis di atas airπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ sepertinya mbah gugle pun akan kebingungan jika di tanya hal demikianπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

        Suka

  3. Sy suka sekali dengan kalimat ini β€œJangan suka plagiat, copas dengan tidak mencantumkan nama atau nyamain karya orang lain”
    Krn jaman skrg ini bnyak banget orang mau cr gampang dengan main copas.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Wah, aku punya rekomendasi buku yang mirip kak. Judulnya “Rahasia Top Menulis” punyanya Much. Khoiri sama bukunya Bang Agus M. Irkham yang judulnya “Prigel Menulis Artikel”. | dua buku itu nggak berisi “menggurui” soal teori dan tekhnik menulis tapi lebih condong ke “Untuk apa kita menulis”. Asik juga buat dibaca.| btw, salam literasi, kak. πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s