Perempuan Pemeluk Kenangan

Ada rindu yang sengaja semesta katakan sebelum pada akhirnya kehikmatan beradu pada selongsong lagu penolakan penggubah angan. Aku telah berpesan kepada Eros sebelumnya, jika pada akhirnya kebengisan manusia hanya akan melupakan tempatnya mengais cinta, lebih baik ratakan saja dan cabut sisa-sisa cintanya yang telah menjadi keagungan yang paling di elukan. Terkoyak pada ingatan sepi, serupa malapetaka di ujung parang lakon perang barathayuda, aku telah memploklamirkan rindu-rinduku pada jeratan semu senandung kepalsuan. Yang menggema lewat dinding goa hati dengan stalakmit dan stalaktit sebagai hiasan rindu penuh debu dan keusangan. Katamu, simpan saja rindu dan jangan beri tahu aku. Sebentar, apakah kau tak pernah mau mengucapkan kangen yang bertubi kembali? Apakah semua sudah hanya sampai disini?

Aku menyebutnya rindu, yang terus menggerus ingatan sebelum pada akhirnya aku di jatuhi praduga jika merindu masa lalu adalah kesakitan bertubi. Keriuhan suara anginpun merusak novel masa lalu yang telah tebakar dan dikremasi di hati. Hanya karena aroma minyak wangi yang di pakainya saja lewat di depan kehampaanku yang paling hampa, ternyata mampu menggubah indahnya penaku menari-nari diatas angan tanpa takut terhapus. Aku memang sombong, merengkuhnya pada jarak puluhan meter, padahal aku tahu. Ingatannya sama sekali tak kembali kepadaku. Jarum jam mulai berjalan ke kanan, waktu tak bisa di duakan. Sekeras apapun usahaku pergi dari kenyataan, yang ada hanya akan kudapati kepedihan yang berujung kekalahan.

Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, pemuisi rindu bukankah hanya ada di cerpen dan novel cerita di buku yang berada di rak paling tengah gramedia? Ternyata aku salah, semenjak aku mengenal dan kau menanggalkan segala tentang kita– aku serta kamu; sebagai lakonnya, aku adalah pemuisi rindu dan masa lalu yang kental dengan metafora elegi. Mungkin ini kutukan dewi aksara, atau memang sebuah jalan pulang dengan cara yang berbeda. Sedangkan dari jala yang aku pasang pada setangkup empang, hanya kudapati masa lalu yang terus saja tersangkut, aku pernah gentar. Ingin aku bunuh saja otakku jika hanya kau yang kuingat sampai mati, namun sekali lagi aku kalah oleh kenyataan jika melupakanmu adalah sebuah kesiasiaan.

Aku adalah selajur darah mengalir pada dirimu(seutuhnya) dan pada tempat paling nyaman di dirimu–hati, aku telah bersemayam dengan hakiki. Mencokol inti mati, menggebrak ruang ingatmu dan meracuni otakmu dengan ingatan tentang aku. Mungkin aku salah, namun demi sebuah keingatan aku tega melakukan.

Serupa itu, aku tak pernah bisa meninggalkan jalan yang dulu telah kita lalui bersama.

Aku tak pernah bisa menghapus tetes demi tetes air hujan yang jatuh tepat di ubun-ubunku.

Aku melihat dirimu disana–di dalam ruang kecil yang aku sebut hati, tapi mungkin aku tak melihat apa-apa kembali disana–didalam hatimu. Karena disana telah tumbuh tunas cinta dan kasih yang baru namun tak serupa aku.

Wahai pengelana cinta, pemuas rindu dan rumah kasih serta sayang yang tak pernah hilang. Diantara seribu pemuisi rindu dan masa lalu, diantara seratus ribu jiwa yang hidup di dunia, akulah perempuan yang menunggumu dengan wibawa. Yang dengan sabar senantiasa mememlukmu dalam doa dan harap setiap harinya.

Rindu, akulah perempuan pemeluk kenangan yang siap dimatikan oleh rindu yang keterlaluan. Akulah penjemput asa yang setelehnya hanya akan di pandang sebelah mata. Dan akulah perempan sendu yang memeluk dirimu, rindumu dan masa lalu dari jarak puluhan kilometer meski kau tak pernah berbalik lagi kepadaku. [pilu]

–AKSARAmadhani.

8 tanggapan untuk “Perempuan Pemeluk Kenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s