Tercekik Elegi Pelik

Detik berhamburan jatuh dipelupuk waktu. Berdesir mengemas potongan irama pada langkah kaprah puan beraroma melati.

_________

Melati oh melati …
Wangimu yang mewangi bagai pengikat, pria mana yang tak terpikat harummu semerbak membuat tak jinak. Siapa tuan yang akan tahan oh … Melati.

(Sementara diruang tiga kali empat, ada perempuan mengumpat. Mengutuk dirinya yang jelita namun di rindukan pria tak berwibawa)

Melati oh melati …
Seperti apa tuan akan mengagumi, merapal namamu sambil onani. Mengingat senyummu sambil gigit jari, dan membayangkan dirimu bagai perempuan murah yang siap ditiduri.

(Sementara diruang tiga kali empat, ada perempuan mengumpat. Merusak gincu merahnya, merusak alis tebalnya lalu menggoresi tangan kanannya sambil membayangkan seorang pria)

Melati …
Senyumu yang menawan hati, buatku ingin menjelajahi. Satu lembah dan dua gunung indah. Melati oh …

(Sementara di ruang tiga kali empat, ada perempuan mengumpat. Menangisi nasib dirinya lalu perlahan mengucap nama sang pria dengan keras penuh amarah)

Melati …
Elok bibir merah membuat darah mendidih. Desir jantungku terus berloncatan, bagaimana jika kita berpagutan? Melati ah …

(Sementara di ruang tiga kali empat, ada perempuan mengumpat. Sambil terus menangis dan terus mengucap serapah nama pria yang dia sebut tanpa henti. Mengulanginya berkali kali, mengucapkannya tanpa mau berganti.

Melati …
Teruslah menari diatas tubuh kecilku ini, rasakan hujaman senjata yang sudah dua kali menghasilkan buah masak ini. Hiraukan istriku yang telah pergi, jangan pikir kau menjadi pengganti karena cinta untukmu sampai mati. Aah …

(Sementara di ruang tiga kali emapat, ada perempuan melompat dari kursi lipat. Esoknya, pelayat datang mendekat, membawa air mata dan beberapa cerita murahan tak berupa)

Melati …
Sediahakah kiranya kau menjadi pendamping dari pria beranak dua seperti aku ini? Sungguh indahmu tak boleh hanya dinikmati namun harus menjadi milikku abadi. Oh Melati …

(Sementara perawan sudah dimakamakan, dengan beberapa wasiat dimeja kamar, jika dia lebih baik mati sia-sia dari pada hidup dengan pria anak dua yang sudah tak punya rasa welas dan wibawa)

–AKSARAmadhani.

22 tanggapan untuk “Tercekik Elegi Pelik

      1. susah itu kalau jadi penikmat yang bijak. ntah kita sadari atau enggak, kadang kita lupa caranya jadi penikmat yang baik. yang kadang bilang ngata”in karya orang seenak jidat padahal mereka buatnya dengan susah payah.

        Suka

      2. Em, ya yang begitu itu masih banyak terjadi. Bagiku tak mengapa, sebab kadar dan cara menikmati setiap orang berbeda.

        Kalaupun dicaci maki, ya stidaknya yang mencaci maki telah membaca dan menikmati karya kita, cara menikmatinya mungkin dengan cerca dan caci maki.

        Jengkel si ya, tapi mau debat kusir tambah bikin emosi nantinya 😊

        Disukai oleh 1 orang

      3. ahahaha iya kak
        toh kita juga gak pernah bisa memaksakan seseorang untuk menyukai dan menikmati tulisan kita.
        tapi kak, bukankah setiap karya itu indah, karena dia terlahir dari hati dab pikiran masingmasing.

        tapi sudahlah, ahaha. karya mau di caci atau maki itu sudah hal lumrah, semoga kita bisa jadi orang yang mau menerima kritik demi kemajuan dan kebaikan di karya selanjutnya🙏

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s