B U K T I

Sayangku,
Duduklah di sampingku kali ini. Aku ingin menceritakan kepada kamu beberapa puluh kisah tentang diriku dan dirimu yang semakin hari menumpuk kasih dan sayang di dalam saku.

Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terimakasih sebab diri kita sudah terlalu panjang melewati hari yang berganti secara bersama-sama. Menikmati senja dengan jamuan rindu seminggu, dan beberapa tumpukan kisah masa lalu dan hari ini yang kita biarkan menjadi bahan percakapan yang tak habis dalam sekali pertemuan. Mungkin benar kasih hanya tentang hati namun bagi aku dan kamu kasih tak sekadar tentang itu, tak hanya sekadar tentang rasa namun juga perbuatan, untuk apa terlihat bahagia merasa dikasih di depan namun di belakang malah menyakiti. Jika kali ini aku bertaya kepadamu tentang pembuktian seluruh perkataan dan ucapanmu di serambi depan itu sepertinya tak sopan, sebab tanpa perlu aku tanyakan segala hal yang kamu berikan sudah cukup menguatkan perkataanmu.

Sayangku,
Apa yang kamu lihat dari hujan senja ini? Apakah hanya kekosongan? Apakah tak mengartikan apa-apa selain kebasahan? Maknailah dengan saksama, disana telah tercatat beberapa ratus part yang siap kita isi. ‘Ntah dengan cerita manis, pahit atau hal lainnya yang jelas di sana telah ada satu tempat terbaik untuk kita menempatkan kisah. Lantas apa yang ingin kamu titipkan disana? Tapi aku ingin menitipkan doa-doa panjangku untuk kita, hanya untuk kita saja. Disana, diantara tetesan air yang mengalir, menganak sungai hingga berhenti kelaut dan kembali lagi menjadi hujan begitu seterusnya, setidaknya janji kita tak pernah hilang dan akan terus demikian.

Kepadamu sayangku,
Aku tak pernah mengerti mengapa kita diciptakan untuk saling melengkapi. Kenapa kita yang asing bisa menjadi satu dan utuh dalam satu ikatan janji. Diantara bahagia yang bertahta, diantara rasa tresna yang agung adanya disana terselip keinginan pembuktian untuk kasih yang tak terpisah. Mungkin benar diri kita bahagia memiliki pemilik utuh atas hati namun, sungguh aku ingin sebuah bukti untuk menguatkan janji yang masih manis di bibir. Menjadi saksi atas kasih yang tak berpaling dan menjadi tempat penampung kasih terbanyak dengan bukti yang kuat. Seperti penjahat yang tertangkap basah, yang di mintai bukti atas kelakuan bersalahnya. Seperti itulah dirimu adanya, perlu ada bukti atas perbuatan yang hatimu lakukan. Mencintaiku memang benar namun bukti adalah cara aku memahami dan memaknai kasihmu yang tiada henti.

Seluruhnya, seutuhnya. Aku telah menyayangimu adanya. Menjadikanmu tempat terbaik menepikan seluruh risau dan sakitku, menjadikanmu tempat berkumpulnya rindu dan segala rasa lain yang semesta ciptakan. Tetaplah gagah dan arif diatas janji dan segerakan memberi bukti atas segala ucap yang selalu kamu agungkan agar aku tetap tinggal dan menetap di sana; hati.

-AKSARAmadhani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s