HARUSKAH KITA?

Beribu-ribu kisah malam ini menepi di ingatan, kamu datang lagi dengan kesemuan. Desember kelabu menghantui, derita terungkap kembali. Penyekapan atas kasih, kehancuran atas diri, remuknya satu per satu janji, seakan mengulang seluruhnya kembali. Apa kabar hari ini? Ketika rindu memburu temu namun hati memilih hilang ingatan atas segala kenyataan. Mungkin hati perlu istirahat atau diri kita yang tetap tak mau saling meninggalkan meski cerita kita tak akan terulang kembali?

Jantung persegi kita menjadi saksi akan kasih yang tiada henti. Kita tak bisa sama-sama pergi namun keadaan membuat kita tak mungkin kembali. Semilir angin, indahnya dewi malam yang bersila di atas sana, bintang yang tertawa mereka seakan mengerti kegundahan hati akan cinta yang tiada pasti. Dan kini, rindu. Hanya menjadi omong kosong yang tak habis di bibir. Kenangan yang tak habis di ingatan serta penyesalan yang tak habis di katan adalah seluruh paradigma keadaan ketika kita memilih meninggalkan.

Salah satu dari kita memang harus pergi, mengikhlas segalanya demi kebaikan semuanya. Mungkin … segalanya berat, terlebih semua adalah kisah dan dia tak akan pernah mati, mereka abadi dalam keadaan dan kenyataan yang bersemayam. Singgah, tanpa mau sekalipun hilang, dan menetap meski terus menerus di gusur keadaan. Kamu adalah sejatinya tangis yang pecah di malam pekat. Apalgi ketika aroma tubuhmu tiba-tiba datang bersama tawa di ujung ingatan. Kamu tahu betapa berdukanya aku, terlebih … ah, sudahlah.

Ini terakhir kalinya aku merinduimu, tak akan lagi tak akan. Merinduimu hanya mengorek luka lama yang sudah benar-benar sembuh. Namun … apakah mampu? Rindu bukan partikel yang mampu di hanguskan, dia abadi bersama dirimu dan kenangan di jantung persegi.

Tanyakan sekali lagi kepada kita, apakah benar-benar kita sudah rela sama-sama meninggalkan padahal hati belum mengikhlas? Mari kita saling memikirkan, kenyataan apa yang akan kita dapati setelah segalanya di paksakan berhenti. Apakah kamu akan hancur, atau aku, atau kita sama-sama memaksa tawa palsu setiap harinya demi sebuah ungakapan baik-baik saja yang meracuni batok kepala?

-AKSARAmadhani.

19 tanggapan untuk “HARUSKAH KITA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s