SEKISAH

#Sekisah perpisahan.

Aku melihat kau menangis sambil mengais kisah masa silam yang telah tertimbun angka pada kalender. Mengaduk-aduk isi kepala hingga tak kau temu apa-apa selain penyesalan. Kau mencari-cari kisah dan kisah mencari tempat sembunyi menghindari kau. Selanjutnya, kau terduduk, tertunduk oleh kenyataan kehilangan. Kepergian kekasih kau beberapa bulan lalu adalah luka padahal kau melepasnya dengan bahagia.

Kau mengaduk isi kepala, mencari tahu arti luka. Mencari celah pertemuan yang semakin hari hanya menjadi pesan-pesan tipis di dinding ponesl kau. Dan mungkin mencari nama kekasih kau yang waktu itu kau tinggal tanpa banyak kata dan ucap perpisahan.

Kenangan bagai air yang memenuhi kepala. Membuat kau terbanjiri air mata dan perihnya nestapa, kemarin, hari ini, esok dan beberapa hari kedepan. Rasakan pria … rasakan luka yang menusuk-nusuk tulang rusuk kau. Rasakan betapa pedihnya menyadari ketiadaan yang terlambat, betapa segalanya hanya kebahagiaan yang akan hilang, yang semata-mata melenakan dan membuat kau mati secara perlahan tersebab perpisahan.

#Sekisah elegi

Terduduk pilu di tempias senjakala
Rinai air mata menyiram inti jiwa
Hilang sudah hilang kasih semata wayang
Tiada bisa di kejar melainkan hanya di kenang

Larik-larik lara mencabik
Luka memar mencekik-cekik
Harap-harap di ujung pengharapan
Terbujur kaku bersama perpisahan

#Sekisah rindu

Begitualah rindu mendikte pertemuan. Mencari celah paling payah ketika diri kau tak lagi berada disisi yang tersayang. Seperti kehilangan yang menyayat, seperti itulah rindu membuat degup kau tak berhenti menanyakan pertemuan. Malam ini kau meneguk kopi hitam di tangan kanan, sedangkan mata kau membayangkan pertemuan dan dada kau mengembuskan berulang kali nafas kerinduan.

Berdesak-desakan separuh nyawa kau, ingin mati kepalang malu, ingin hidup tak tahu malu, ingin bertemu tak tahu ruang, dan ingin bertanya kabar lupa cara menyapa. Kau hilang kemarin dan hari ini mencari, kau mencari hari ini dan kemarin kau mencaci. Luka … kau melukai yang tersayang-sayang, kau membuat goresan pada dadanya lantas setelah sembuh kau kembali melukainya. Kau …

Seluruh rindu mengemas grimis di mata kau, mencibir getir berbau anyir di hati kau. Masihkah pantas kau mengucap rindu yang beratus-ratus tumpuk ada di dada kau hari ini? Seluruh kau telah mati di hatinya, di matanya kau tiada lagi bermakna. Rindu kau tak lagi bernama, tak lagi bertuan, tak lagi …

#Sekisah

“Kekasih, tiada yang perlu kau sesali perihal perpisahan, berpuluh-puluh kali kau mengusik ingatan mengenai kenangan, yang kau dapati hanyalah penyesalan. Sebab ketika kau telah berpamit meninggalkan, wanita kau telah mempersiapkan hati untuk melawan luka bertubi yang kau beri. Meski berderai air mata mengurai nestapa, meski segalanya begitu menyayat perihnya.”

“Kekasih, rindu akan terus bertubi mencabik hati, dan kau bertubi menghindari. Semakin gencar kau mengingat, semakin dalam rindu tertancap. Kemaslah kembali rindu dalam pelukan hati kau, wanita yang kemarin kau lukai, kini terbahak membaca pesan kau meminta pertemuan, tak ada laki kau, tak ada lagi.”

Aku melihat kau terpuruk disana, dengan mata panda dan mata kau yang merah adanya. Kau baik-baik saja, ‘kan?

-AKSARAmadhani.

15 tanggapan untuk “SEKISAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s