KEKASIH

Gerimis

Tidakkah kamu bosan kekasih, mendapati gerimis yang setiap hari menambah kerinduan di jantung persegi. Dia memanggil-manggil nama kamu ketika air hujan bernyanyi di depan rumah. Menarikan tari kerinduan untuk sukma yang lapar akan pelukan.

Gerimis senja ini mengecup kelopak mawar pada tangkai berduri. Bersamaan dengan itu, bayang tentang senyummu bertaburan di langit-langit ingatan. Menyapa diri aku yang tertegun diantara batas sadar dan tidak. Semerbak bau petrichor seperti aroma masakan ibu di dapur. Menggungah selera berpelukan atau ciuman yang akan kita ulangi sekali lagi.

Ini adalah waktu di mana dua jiwa mencoba menabahkan diri untuk tidak bertemu. Merengek minta tolong dan meminta bantuan Tuhan untuk pertemuan. Grimis, mengikis seribu rindu yang gresang tanpa sapaan. Didalam jiwa-jiwa kekasih yang hampir mati di tikam rindu mematkan.

Barangkali, gerimis adalah air mata kekasih yang tanpa henti beroda kepada Tuhan untuk kedatangan. Barangkali gerimis adalah gemricik pertemuan kekasih yang datang meski tak mampu melunturkan. Barangkali …

Sebab pada gerimis-gerimis yang menepis kedatangan dan rindu. Ada pergi -pergi dan pulang -pulang yang menunggu akan kedatagan. Sepertimu atau aku yang tak akan pernah berhenti menyemogakan meski jarak tak pernah berdusta perihal janjinya; kepulangan.

“Bergegaslah pulang kekasih, sebab gerimis akan datang. Ingatlah dia tak akan pernah melunturkan rindu pada kekasih yang keterlaluan.”

-AKSARAmadhani.

6 tanggapan untuk “KEKASIH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s