KEKASIH

hujani rindu-rindu kami yang masih utuh.

Di kota ini, hujan berebut datang dengan mentari. Dan malam ini hujan menepi kembali, ladang, jalan dan rumah basah juga pipi aku. Apakah hujannya menepi pula di pipi? Iya … kamu datang menjinjing berita keseduan sebab waktu pertemuan yang semakin menipis dan kamu akan pergi kembali esok hari.

Tak apa kekasih, tak apa.
Kewajiban kamu sebagai anak belum pupus sebelum kematian. Dan orang tua kamu layak di bahagiakan sebelum kamu membahagiakan diri aku suatu hari nanti.

Esok hari …
Adalah perpisahan sementara, dan temu yang disemogakan sudah sama-sama kita simpan di kantong celana. Jangan lupa kasih, rindunya di bawa agar mampu kamu kumpulkan kembali. Siapa tahu dapat souvenir setelah banyak nanti.

Kekasih,
Perpisahan adalah sesakit-sakitnya luka, namun hal yang paling melukai adalah ketika kita tak pernah ikhlas melepas. Lagian kamu pergi hanya sementara, bukan untuk tidak bertemu kembali, namun untuk meramu masa-masa yang suatu hari nanti sama-sama kita amini.

Kembalilah ke pelukan pekerjaan kasih. Aku akan selalu sabar menanti pertemuan dengan hidangan rindu beberapa bulan. Jangan lupa kasih, jangan lupa, sayangnya di ikat di hati dan cintanya di simpan di batok kepala aku dan kamu hingga nanti. Sebab … pegangan kita bertahan hanya ini dan kepercayaan yang di genggam tangan kanan dan kiri.

Sebab kasih,
Kamu adalah debar semesta yang berebut rindu dan cinta. Yang akan hidup tanpa harus di siram air huja. Yang akan selalu demikian hingga tangan Tuhan berkata pisah.

-AKSARAmadhani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s