MONOLOG

Mendengarkan hati berkisah,

Jangan lantas pergi setelah mendapat hati yang kamu inginkan selama ini. Menjadi orang lain yang asing setelah sebelumnya mengharap-harap memilikinya. Kisah cinta tak selucu itu.

Hatiku menangisi kepergianmu malam itu, ketika pelukan dan kekata di lidah kita menghambar. Mungkin, hati terlalu menggantungkan kehidupannya kepadamu hingga kepergianmu adalah luka yang terus saja menggerus keadaan hati hingga rasanya benar-benar nyeri. Berharap kamu akan kembali dan membawa hati aku yang telah parah terlukanya mungkin itu pikiran-pikiran bodoh yang sampai saat ini masih hatiku harapkan.

Mas, selama apapun kita bersama dan saling mengenal semua hancur karena sebuah perasaan yang besar. Aku menyayangkan hal demikian, tapi apa boleh buat. Sepertinya kamu lebih tertarik untuk melukai aku dengan cara yang begitu mengesankan hingga aku benar-benar tak mampu berhenti terbelenggu dalam rasa jenuh dan keliru karena mengenalmu.

Mas Rahman, sesekali datanglah kemari kembali, tak usah membawa apa-apa. Aku hanya ingin kamu mendengar hati berkisah tentang kamu, tentang kasihnya yang tak pernah palsu, atau tentang cerita manis kita kemarin hari di warung nasi goreng. Cukup itu Mas, dan aku tidak meminta lebih. Sekiranya itu susah dan tak bisa kamu lakukan atau keberatan, tak apa. Tapi, Mas. Jangan datang kesini kembali, jangan pernah hampiri atau malah mengorek luka yang sama sekali belum sembuh. Aku hanya takut pertahananku hancur hanya karena sapa yang tak seperapa pentingnya.

-AKSARAmadhani.

7 tanggapan untuk “MONOLOG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s