MONOLOG

Rindu-rindu yang mengabadi,

Gigil, bukan karena kedinginan namun karena pelukan-pelukan yang kini berubah menjadi kebenci-bencian. Yang abadi adalah rindu sedangkan bayang kau semu, kau tak pernah abadi, bahkan ketika dongeng tentang kita diceritakan kembali kau tak lagi punya tempat di hati tapi rindu tentang kau selalu punya tempat sendiri.

Tentang rindu yang dibawakan angin senja ini, adalah campuran senyawa kisah dan kasih yang beberapa hari lalu rela aku jadikan pajangan di tempat terbaikku menepikan pikiran. Sebab rindu tak pernah mati … dia tetap mengabadi, membawa dongeng purwa dan bersandarakan pada kekamu-kamuan yang hatinya mulai mati suri.

Rindu adalah sisa kisah yang mengabadi bersama waktu. Dia tak pernah meminta untuk dirawat namun dia selalu tumbuh di sana. Rindu bermekaran didinding sukma, menyapa kenangan tentang kekasih kau yang hari ini ditimang di hati orang lain. Mereka berbahagia hari ini, malam ini tepatnya. Sebab dia mendiami rumah yang beberapa hari lalu menjadi tempat kau beramah tamah.

Kekasih, rindu menjelma bagai parodi nyanyian angin kepada senja. Halus namun tetap mencekam. Dia bermetamorfosa, berotasi dan berevolusi bersama detak pada jantung dan nadi kau. Jangan bergerak apalagi melupakan, atau memang kau ingin di tikam olehnya lantas mati secara perlahan?

Aku menawarkan kau sekotak rindu sebagai hadiah ulang tahun kau untuk beberapa bulan yang akan datang, kira-kira apakah kau mau mencicipinya? Jangan takut teracun, dia hanya mencandui bukan meracuni.

-AKSARAmadhani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s