MONOLOG

Mencintaimu dalam ketiadaan,

Aku mengeja namamu dengan tergesa-gesa ketika senja datang membawa senyumu di rekahan keemasaannya. Mereka membisu ketika aku bertanya mengenai dirimu yang akhir-akhir ini melupakan cara menyapa.

Masih aku bermain dengan imaji-imaji yang terus bertanya tentang ciuman kita kemarin malam di beranda. Tentang resah kita menanti temu yang tak kunjung datang. Dia bertanya demikian, terus-menerus dan tak berkesudahan. Apakah segalanya hanya kepalsuan? Atau memang benar-benar benar tiada apa-apa selain hanya untuk menghabiskan waktu?

Aku menantimu, diberanda rumah, dibalik senyum senjakala yang indah, diantara suapan-suapan makan malam.

Aku mencarimu, ditempat kita bertemu pertama kali, di pulang-pulangmu yang tak tentu, di keberadaan rindu yang sia-sia dirasa, dan ditempat paling kesepian luka mencari rengkuhan.

Menit mengajakku berkelana keujung waktu yang memutar segalanya. Dari pertemuan pertama hingga kata terakhir yang masih di kerongkongan. Aku menantimu dengan debar, berdebat dengan segala ingat, terpaksa mencurangi waktu termasuk mengindahkan luka-luka demi kamu.

Namun, semuanaya memang benar-benar tiada. Kamu dengan kesibukan yang melupakan diriku, dan aku dengan beberapa cara untuk mengingatmu meski lama-kelamaan hanya berbuah kebencian dan ketiadaan.

Mencintaimu itu menyakitkan, sekat penghlang, ragu serta bimbang dan kekamu-kamuan lain yang tak pernah mau sekali saja berniat menyempitkan egois dan menjalani dengan baik-baik kemabli.

Barangkali, matamu sudah teracun oleh keindahan lain.

Barangkali, telingamu sudah tak mau kembali mendengar kabar-kabar tentang aku.

Barangkali, lidahmu tak mau lagi mengucap rasa cinta kembali kepadaku.

Barangkali, tubuhmu sudah di tumbuhi kesibukan-kesibukan lain dan itu menyingkirkan aku.

Barangkali, kau tak benar-benar mencintai. Dan aku terlalu mengharap-harap dengan sebab yang tak pernah persis aku tahu maksudnya.

Kepala kita berdusta, ucapan kita membohongi, dan hati kita sebetulnya tak pernah benar-benar tinggal. Dan hanya demikian; menghilang bersama ciuman-ciuman di ujung harapan.

Kalaulah saja segala sakit dan luka bisa sembuh oleh obat merah dan di balut kain kassa. Mungkin, aku tak pernah seterpuruk ini mengetahui kenyataan bahwa ini semua hanyalah ketiadaan dan tidak benar-benar diadakan.

Aku mengurai namamu, mencari tahu perihal caramu meninggalkanku. Beberapa ratus kekalahan sudah menepi di hati, mungkin rintik hujan sebentar lagi menepi di pipi dan ingatan membanjir deras mengenai kamu dan hal lainnya.

Hatimu,
Dirimu,
Kamu,

Dendam membisu di ujung keramah-tamahan anganku menepikan nama-namamu. Menjadikannya jembatan untuk menemui imaji liar mengenai bibirmu yang terulas senyuman.

Resah yang mengulang kisah, cerita yang mengulang cinta dan rindu yang menggulung temu.

Mencintaimu aku tak benar-benar meraskan keberadaanku di matamu. Tidak benar-benar ada, sebab kita ini maya. Ketiadaan yang hanya di ada-ada dan berusaha diadakan padahal kita tak pernah benar saling mencinta.

Tak pernah,

Terisak ditikam belati luka-luka yang terus menerus menggerus sesal tiada kira. Dunia yang kuinjak, sebak yang membenak, dan luka lainnya beranak pinak dalam kehampaan.

Tidak pernah ada,

Hanya menyoal tentang itu. Dan kita akan sama-sama mati oleh keadaan atau kehilangan yang selalu di semogakan.

Biarkan hari ini segalanya mencari celah kelemahan. Biarkan air mata mengurai luka serta sakit di dada. Tentangmu, tentang cinta dan tentang rasa sayang, adalah ketiadaan yang tidak akan pernah ada dan di ada-ada.

-AKSARAmadhani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s