BALADA SEPEDA TUA

Desingan peluru rindu

Beberapa waktu lalu di tempat ini, hati kita hampa oleh amarah yang di bawa dari rumah. Kamu diam, akupun membeku dalam bisu dan bahasa-bahasa hati yang tak mampu termaknai. Sementara rindu menggebu di ulu hati, bising lalu lalang bisikan samar-samar datang dan pergi. Semacam parodi dan keluh kesah atas dua jiwa yang memilih egonya masing-masing.

Pentingkah itu kita lakukan? Sementara darah kita telah mendidih oleh pertemuan? Dan di bawah senjakala hari ini kita lebih diam–mematung— sambil menduga-duga siapa yang lebih dulu berkata-kata. Namun … aku kalah, kepalaku penuh desingan senapan kerinduan yang terus melepaskan peluru-pelurunya hingga aku tak mampu– tak mampu berlama-lama dalam keheningan– sementara semesta terlalu indah jika kita lewatkan.

-AKSARAmadhani.

#empat

5 tanggapan untuk “BALADA SEPEDA TUA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s