SURAT MAIMUN KEPADA SUTRISNO

sungguh kasih, aku telah dikebiri perjanjian terkutuk. membuat jarak kita menjadi bentangan luka abadi yang terkubur jauh di dalam duka. menyesap seluruh bahagia, dia menjelma menjadi perasaan yang tak aku tahu namanya. meski berulang kali aku menjerit hingga pita suaraku terkelupas, itu hanyalah kemustahilan. sebab tiada jiwa yang peduli kepada tubuh yang sengsara dan merana oleh kenyataan dan keadaan.

sedikit demi sejengkal, aku digerogoti rindu dan rasa bersalah. meninggalkan perasaan kita yang utuh adanya, juga cinta kita yang belum rampung dituliskan. kenyataan memang serupa empedu, cukup pahit untuk dikecap dengan mulut telanjang. namun apalah daya dan upaya, bapak menjualku demi perjanjian yang pernah ditandatangan di hadapan saksi. berpuluh-puluh penolakan telah aku layangkan, namun rasa takut telah kalut dalam emosi dan membuatnya tersesat.

cukuplah kita, mas trisno. cinta yang ditengahi perjanjian jualbeli atau cinta yang dibunuh waktu temu. sebab aku disekap, dimasukkan pada tempat terkutuk yang tak kuatu namanya, yang penuh dengan kucuran air mata dan air mani dimana-mana. mungkin lama kelamaan mataku hanya berhias kehampaan juga kabut duka yang menyelimuti perasaan luka. aku pernah ingin terjun kesana, terapung di atas sungai dan melupakan derita. tapi tidak, mas. dengan cinta dan kasihmu aku bertahan.

aku mempercayai kesetiaan dan rasa kasihmu, aku mempercayai pelukmu yang tak akan pernah mampu kamu bagi dengan perempuan manapun selain aku. tapi jika mungkin aku akan mati di tempat ini (sebelum menemuimu), digerogoti tikus hingga membusuk. maka biarkan hatiku menjadi sepaket perasaan kasih yang aku berikan kepadamu utuh. biarkan rasa melebur menjadi renjana yang terkelupas hari demi hari tanpa pernah disadari.

namun … jika suatu saat nanti aku mampu menemui dan mencintaimu kembali. aku ingin menunjukkan kepada anak dan cucu kita tentang artinya pengorbanan sepasang kekasih yang terpasung oleh janji. agar mengabadi kisah kita di hati dan jiwa orang yang kita sayangi. agar mereka paham dan mengerti jika kasih tak hanya soal sayang dan ciuman tapi perbuatan dan kesetiaaan.

sudah … aku meratap. dinding dingin dikamarku tak sanggup menatap sepasang mataku ketika kutulis surat ini. trimakasih setia hingga kini. jika Tuhan berbaik hati cinta pasti kembali kepada hati yang mencintai.

– perempun aksara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s