PADA SEPASANG PERASAAN YANG BELUM SEMPAT MEMELUK ERAT

surat perpisahan yang kamu titipkan kurir tadi pagi telah terdampar di kasurku malam ini. namamu bersanding apik dengannya di surat tersebut. waktu dan jam yang sudah kamu pesan sebelumnya untuk pesta, juga mungkin sepasang dekorasi yang akan kamu kenakan nantinya. aku juga akan memesan senyuman sebelum datang kepestamu, memberi ongkos kepada seseorang yang nantinya akan aku cap sebagai pasangan untuk beberapa jam, demi menemani anggunnya penampilanku ketika mendatangi pestamu. tak usah sungkan tersenyum dan tertawa di singgasana bersama pasanganmu, karena aku sudah berlatih tertawa di atas luka setelah membaca surat tersebut.

dulu … dulu sekali, aku pernah membayangkan mendampingimu menggunakan jass dan peci hitam. menjadi ratu dan raja sehari dengan menebar senyum kesana-kemari. memberi ucapan terimakasih kepada setiap tamu yang datang dan mengelap pelipismu yang berkeringat karena kepanasan setelah seharian menjadi tontonan. tapi … itu dulu. sekarang aku hanya penonton atas segala hal yang akan kamu lakukan bersama pasanganmu di singgasana, hanya menjadi seseorang yang memendam duka atas segala peristiwa menyakitkan dan menjadi saksi atas seluruhnya.

perayaan perpisahan akan terjadi beriringan dengan janji suci yang kamu ucapkan. segala hal yang dulu kita aminkan hari itu akan hancur berantakan. seharusnya, kamu tak memberi tahuku perihal ini. seharusnya, kamu tak usah repot-repot mengirim surat perpisahan ini. sebab … aku pasti akan datang, menjemput hatiku yang hingga kini masih utuh di milikimu. tidak apa-apa. sekali lagi, aku telah berlatih tertawa diatas luka. aku pandai dan fasih menjadi orang munafik dihari itu juga. percayalah.

dan ketika surat ini aku terima, aku sama sekali tidak menaruh duka. aku malah ingin segera mendatangi pesta dan mengenakan baju yang sempat kamu belikan untukku di hari ulang tahun waktu itu. bukan untuk membuatmu meratap dan mengingat, aku hanya ingin kamu mengerti dan paham. jika dulu kita pernah sedekat pelukan. sedekat hembus dan nafas, sedekat tangan yang memeluk erat ketikan kedinginan dan sepekat kopi dan susu yang tersaji dimejamu ketika malam itu kamu datang kerumahku.

trimakasih telah mengundangku datang ke perasaan dan pesta pernikahan. akan aku ingat hari itu sebagai perayaan perpisahan, atas sepasang perasaan yang belum sempat memeluk erat dan sudah dipisahkan oleh kenyataan yang hebat.

– perempuan aksara.

9 tanggapan untuk “PADA SEPASANG PERASAAN YANG BELUM SEMPAT MEMELUK ERAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s