PADA SETIAP UCAPAN PERPISAHAN

ada ciuman-ciuman yang telah di tinggalkan, di mata, di hidung, di jidat, di pipi dan bibir, kekasih. setelah ucapan perpisahan menggema di sudut-sudut telinga, lalu lolongan sirine penjemputan jiwa yang melompong semakin mendekat. lantas membawanya ketempat antah berantah yang tak ku tahu namanya. ada juga rasa yang tanggal setelah kekata itu mendarat di telinga dan disampaikan kepada otak. dan setelahnya keadaan berangsur senyap, hati bagai kota mati tak berpenghuni, bagai malam yang mencekam perasaan dengan heningnya. aku telah

dibunuh berulang kali di jantungnya. tepatnya setiap kali ucapan perpisahan dan pelukan itu mendarat secara bersama sama di tubuh dan telinga. ketika itu juga nyawaku seperti berada di ujung kehidupan. tidak ada ada apa-apa. hanya ada kemurungan yang menjelma menjadi raungan kehilangan. mengisap seluruh rasa sadar dan nalar, beriringan lurus dengan keadaan yang semakin hari membuat aku semakin meruduk dalam duka dan doa yang panjang. setiap kali kamu mengatakan, setiap itu juga dada bagai di tikam ngilu luar biasa. dan aku tidak bisa apa-apa selain menangisi dan memelukmu dalam doa-doa. ada rasa

aneh yang tidak biasa aku dapati, dan kadang aku rindukan setelah kepergianmu. bibirmu misalnya yang hangat dan penuh di bibirku. atau matamu misalnya, yang selalu menenggelamkan aku berulang kali namun tidak mati. atau tanganmu misalnya, yang tak pernah bosan menyanding dan gandeng tanganku setiap kali berjalan. juga pundakmu, yang penuh dengan curahan hatiku setiap kali kita bertemu, atau air mataku yang tetiba datang dan membasahi pundak. mas apa kamu lupa?

dan apa kamu akan terus melupa?

ini sudah januari kedua setelah kamu melepaskan diri dari genggaman tanganku. jauh … jauh sekali kamu berteduh dari badai dan mentari yang sudah lumpuh. meninggalkan aku dan sepasang perasaanmu yang semakin layu tanpa siraman air surgamu. kembalilah, mas. pulanglah menyapa segala perasaan kehilangan yang berulang menyebut namamu di setiap keadaan. duka ini tiada pernah mengabadi jika kamu datang dan membawa bahagia yang akan kamu namai oleh-oleh untuk di bagi di ranjang atau di malam penuh peluh dalam decitan ranjang.{}

– perempuan aksara.

4 tanggapan untuk “PADA SETIAP UCAPAN PERPISAHAN

      1. Otaknya gal nyampe…😂

        Intinya seseorang yang ditinggalkan, gitu kan?

        Jenis puisinya seperti punyanya Kahlil Gibran ini, panjang dan bagus.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s