TENTANG …

bisakah aku kamu ulangi, perihal perkenalan yang dulu sempat terpahat dengan hangat. bersama senyumu yang aku pinjam selagi sepi meregang nyawa di ujung rindu yang kehabisan upaya. atau, sudahkah sepantasnya kita melupa, perihal ini dan itu mengenai aku kamu yang tak pernah mampu terlupa begitu saja?

ketika aku diizinkan Tuhan mencintaimu hari itu, perasaanku adalah gelas yang sengaja aku tumpahkan isinya agar bisa menerima isi yang baru. sebab, aku percaya. sosokmu tak pernah mendustai apapun yang akan aku kamu rencana untuk kedepannya.

taukah kamu bahwa selagi mampu aku mencintai, aku selalu ingin kamu yang aku datangkan disetiap dedoa dan mimpi malamhari? pernahkah kamu bertekad untuk
menjadikan aku prioritas selain banalitas yang membuatmu melupakan segala aktifitas mencintaiku? pernahkah?

atau rindu hanyalah isapan jempol yang mudah sekali kamu katakan sedangkan kenyataan berbalik keadaan.

ohhh … rindu yang agung mengoyak-koyak sepi bertubi-tubi. hancur sudah dada dikelupasi elegi, pasrah terpuruk dibacok sembilau. sayat-menyayat perih dalam luka yang diturih.

ohhh … rindu yang laksana jeruji, pasrah aku. sakiti aku. lukai sekujur tubuh ingatanku. jangan ampuni, jangan …

gerimis masih membelai-belai sepi sedangkan kekasihku tak lagi mampu kupeluk diantara pedih yang mengiris.

ohhh gerimis … kuingin mengutuk kau menjadi sendu, yang terus menjatuhi aku dengan airmu yang terlampau luka menusuk tulang-tulang rindu yang merana.

lalu … ini rindu atau sebuah kehilangan. ketika kabar tak lagi bermunculan dikedipan ponsel pintar, ketika suaramu tak lagi mampu tererkam. ketika waktumu banyak tercuri oleh keadaan.

ini rindu atau hanya kemalangan. ketika kamu mencari di mataku yang ada hanya dinginnya air hujan yang serupa perasaan. beku. tak ada apa-apa, rasa, kita, cinta, karsa, tak ada. aku telah hilang dipagut waktumu yang bisu. yang menyeretmu menjauhiku.

maka biarkan aku perlahan membenci sibukmu, membencimu yang melupakan perkenalan kita, melupakan aku, melupakan janji kita, melupakan hari ini kita memulai semuanya, melupakan aku yang memeluk rindunya sendiri di bawah gerimis, melupakan jarak, melupakan senyumku, dan melupakan aku dan kamu yang kini menjadi sepasang yang telah lekang.

– perempuan aksara.

12 tanggapan untuk “TENTANG …

  1. Dan, ini sesuai sama keadaan saya yg sekarang. Berjalan menjauh satu sama lain, tanpa kabar didepan gawai sekalipun.
    Mungkin ini proses memantaskan diri, kataku sih. Sejauh apapun saya pergi, saya tahu bakal balik lagi ke titik yang sama, jatuh di tatapan mata yg sama.

    Terimakasih buat tulisannya Kak 😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s