HUJAN KENANGAN

apa kabar?

aku sudah mencoba melupakan senyummu hari ini, tetapi hujan menggagalkan niat baikku itu. barangkali, kita tak akan pernah mencintai kembali, tetapi kenangan itu. sungguh sampai mati aku tak pernah mampu mengingkari.

——————————————

Hari ini, aku menyusur perlahan trotoar jalan. Gerimis yang memeluk kota sedari pagi, membuat hari Minggu yang harusnya menyenangkan menjadi begitu suram. Sangat suram, terlebih senyummu tak pernah lekang sedikit pun dari angan dan perasaan. Setiap titik di kota ini beraroma tubuhmu, hingga aku jarang bisa membedakan antara kamu yang masih ada atau sudah benar-benar pergi. Tidak apa, lupakan semua itu. Sebab aku sudah mencoba melarikan diri, meski itu susah aku lakukan.

Lihatlah, di antara tempat duduk yang tersedia di dekat trotoar ada sepasang remaja yang sedang memadu asmara. Dengan mengenakan mantel, mereka duduk saling berimpit, kadang saling melirik, kadang kepala si perempuan jatuh ke pundak si lelaki, dan kadang senyum mereka menguap di udara serupa partikel yang segera akan lenyap dan akan kembali tercipta. Ahh … mereka bahagia sekali. Rasanya jauh sekali anganku jika bersamamu aku bisa semacam itu, dulu … sebelum negara api membakar perasaan. Ketika jatuh cinta adalah bahasa pesan paling manis. Dulu, sebelum jarak memisahkan perasaan juga keadaan.

Tak lama, memandangi mereka hanya membuat benakku tersiksa. Terima kasih untuk hidangan pertama kali yang aku temui di hari ini. Semoga aku tak lagi melihat hal yang sama nanti di persimpangan depan.

Dengan membawa tas kecil berisi dompet dan handphone juga botol air minum kecil. Aku terus berjalan, gerimis tak membuat masyarakat bermalas-malas. Dengan mantel aku juga mereka terus berjalan dengan membawa angan mereka masing-masing. Pemandangan ini memang sering aku dapati setiap hari, tetapi rasanya ini berbeda. Mungkin kemarin-kemarin aku belum paham makna setiap waktu yang tercipta. Kemarin waktuku habis untuk mengangankanmu, kemarin waktuku habis untuk mencintaimu. Hingga ketika yang aku angan dan cinta hilang. Semua terasa benar-benar berbeda.

Aku terus berjalan, melewati manusia-manusia, melewati gedung, perempatan juga lampu pemberhentian. Menuruti kaki dan perasaan melangkah, sampai pada sebuah gedung yang tampak tua. Perlahan aku melangkah, sambil berlari kecil aku berjalan merunduk. Menyembunyikan wajah dari mantel yang memelukku, sesampainya di depan pintu masuk mantel lalu aku lepas. Dari luar sudah tercium aroma buku-buku yang dilepas dari plastiknya. Aroma ini yang aku suka, serasa tenang meski baru membaui. Belum benar-benar tenggelam ke dalam cerita-ceritanya.

Tempat ini selalu ramai dikunjungi, apalagi di hari Minggu. Mereka yang datang biasanya ingin menghabiskan waktu liburnya untuk tenggelam ke dalam buku yang mereka sukai. Oh … ini namanya perpustakaan bukan toko buku, beberapa buku tertata rapi di sini, mulai dari buku anak-anak, remaja, dewasa, tua-muda, pendidikan semua ada. Makanya tempat ini tak pernah sepi pengunjung.

Biar, kubunuh saja sepiku hari ini di tempat ini. Aku ingin mencari novel atau apa pun yang bisa mengobati rasa lelahku. Setidaknya rasa sakit hatiku juga. Pertama kali yang aku dekati, adalah tumpukan buku sastra. Mencari puisi yang ringan untuk hidangan ketika hujan. Ketika aku akan mengambil satu buku di tumpukkan agak atas, lenganku ditarik oleh seseorang. Aku lalu refleks membalikkan badan. Seketika aku tergugup ketika melihatnya kembali.

●TB.CNTNW●

#Dua_SebuahKataKerja

– Rainaksara Putri.

4 tanggapan untuk “HUJAN KENANGAN

  1. Waktu akan membuat engkau melupakan segala rasa, dan dimasa depan kelak engkau akan geleng-geleng kepala sembari bertanya dalam hati “kenapa dahulu daku dapat menaruh rasa padanya..??” 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s