IZINKAN AKU MEMINJAM PUNDAKMU

percayalah, aku menulis ini ketika traumaku sedang dipuncak yang tak mampu aku elak.
____________

mataku nyalang menatap seseorang yang berdiri mafhum di depanku. matanya berkilat seperti elang yang menatap mangsanya.

“Em-Em-ir?” Percayalah, mulutku susah sekali mengatakan itu bukan mengatakan tapi seperti mendesis karena saking shocknya. Lelaki itu tersenyum hangat, lalu mengacak poniku.

“Gadis kecil yang tak pernah menjadi besar, how are you, nona Raina? Aku rasa ini kebetulan yang baik.” Dia tersenyum kembali, kali ini lebih memikat karena lesung pipit dikedua pipinya ikut tampak. Dengan setelan jaket cokelat, tas punggung yang kupikir isinya sebuah laptop juga jcelana jeans hitam yang ramping. Manusia ini tak pernah berubah, gumamku. Dingin.

Kami hampir lima bulan tidak pernah bertemu, aku yang sibuk dengan pekerjaanku dan dia yang juga sibuk dengan kuliahnya. Komunikasi kami pun juga renggang, hanya ucapan selamat malam untuk tiga bulan lalu. Bertemu di sini seperti sebuah kebetulan yang tak bisa disebut betul kebetulan. Tapi, memang kami sama-sama suka tempat ini. Ntah …

“Tolong ambilkan buku yang judulnya PULANG itu,” kataku ragu, tetapi Emir yang tingginya lebih dari aku sepertinya tidak masalah. Dia lalu menyerahkan buku itu kepadaku menggandeng tanganku dan mencari tempat duduk yang pas untuk kami berdua. Di antara tumpukan buku, paling pojok sebelah kanan dan di atasnya lampu temaram menghias manis.

Emir duduk di depanku, persis di depanku. Dia lantas membuka laptop dan kuikuti dengan membuka buku yang tadi dia ambilkan. Hanya begitu, sahabatku ini memang aneh. Dia selalu demikian, mulai terdiam ketika sedang bergelut dengan tugas kuliahnya. Untuk beberapa jam ke depan, di antara kami hanya ada lirik mata tanpa kata-kata. Wajah kami sama-sama beku oleh apa yang sedang sama-sama menyita waktu. Di luar masih hujan, sementara tempat ini seolah sesak oleh kumpulan manusia yang semakin padat.

Sesaat Emir tersenyum kepadaku sembari memberesi tugasnya, “sudah selesai?” ucapku. Dia hanya tersenyum, lalu menyuruhku mengemas barang juga mengembalikan buku yang tadi aku baca, aku sempat menolak tetapi Emir memksaku untuk menemaninya jalan-jalan di antara kota yang basah oleh hujan kenangan, air, air mata, ntah … yang jelas hujan belum usai ketika aku keluar dari perpustakan.

Emir menggunakan mantelnya, pun aku. Kami lalu berjalan beririmg, bercerita kesana-kemari dan tertawa. Hingga pada detik berikutnya, tawaku hening. Hanya kepulan uap dingin yang keluar dari bibir. Helaan napasku juga semakin berat, ketika pembahasan kami sampai pada kalimat, “apakah kamu sedang tidak baik-baik saja, Rain?”.

Bukannya aku tidak bisa menjawab, tetapi kalimat aku sebelumnya membuat Emir mengeluarkan pertanyaan itu tetiba. Baiklah, di bawah rimbun pohon dedalu di hari Minggu ketika senja beranjak datang meski jingga tak tampak oleh mata. Kepalaku roboh di pundak lelaki bernama Emir, sahabat kecil yang kadang menjelma menjadi musuh. Tapi kali ini lebih dari musuh. Semua ceritaku tandas padanya hari ini, sial! kenapa aku begitu patah seperti ini? Sampai bisa meminjam pundaknya? Sampai …

Tidak apa-apa. Kamu memang pantas tahu, Emir. Terima kasih pundaknya begitu nyaman besok semoga kita bisa bertemu lagi di lain pembahasan.

●TB.CNTNW●

#tiga_SebuahKataKerja

– Rainaksara Putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s