AKU INGIN WAKTU TERJEDA

awal bulan yang manis untuk pembaca yang manis:)
_________

Kembali pada sebuah rutinitas pekerjaan dan kehidupan, kenyataan yang menyelipkan seribu satu misteri kepada siapa saja yang menjalani. Kita adalah kejenuhan yang terkadang menolak keadaan, tubuh kita adalah mesin pencetak uang yang rela menggadaikan waktu untuk sesiapa yang kita pikir istimewa.

Selamat membumi. Aku mengingat pesan seorang lelaki hebat yang menganggap aku sebagai gadis tangguhnya. Bahwa, manusia diciptakan untuk saling mengasihi, ketika seseorang jahat kepadamu, maka kamu harus berbuat baik kepadanya. Pesan itu selalu aku ingat, dan selalu aku lakukan hingga di usia aku yang sekarang. Aku coba mengingat setiap lekuk wajahnya, tinggi badannya, perbincangan kita juga matanya yang selalu penuh dengan kata-kata bijak.

Adakah tempat paling mulia selain pada dekapan orangtua? Kamu akan merasakan indah dan sempurnanya hidupmu ketika kamu bisa membuatnya tertawa, atau ketika kamu berhasil membuatnya bangga. Ahh … apakah beliau sudah bangga kepadaku? Apakah beliau juga tahu perjuanganku? Memaafkan salahku yang belum bisa menjadi gadisnya yang setia? Atau …

“Apa kabarmu kedua semangatku? Aku datang hari ini membawa bunga-bunga juga doa-doa dan sedikit keluh kesah. Maafkan aku.” Aku berjalan, menyusur setiap gundukan dengan nama-nama sesiapa yang telah berpulang. Sudah rapi, dihias dengan berbagai keramik warna-warni. Tercium aroma bunga-bunga yang tertabur rapi di setiap tempatnya. Barangkali aku sendiri yang jarang ke sini, menengok atau sekadar mengingat. Tapi kali ini aku datang, rindu di dadaku tak mampu kembali aku rangkum dengan kekata. Luar biasanya, beberapa hari ini aku sering menangis. Bukan perihal lelaki itu, tetapi perihal kedua orangtuaku.

Sampailah aku pada tempat ini, di mana kedua orangtuaku beristirahat dengan tenang dan damainya. Keramik hitam mengkilat dengan bunga-bunga yang sepertinya baru saja tertabur. Siapa? batinku. Mungkin Paman atau Bibi. Atau ‘ntah siapa, yang jelas aku berterima kasih karena telah menyempatkan diri mengunjungi beliau.

Aku lantas terduduk di antara pusara keduanya. Hanya tertunduk, tanpa melakukan apa-apa. Bunga yang aku bawa dari rumah, aku letakkan di depanku. Tak terasa, sesuatu yang aku tahan sejak tadi kini terjatuh tetes demi tetes. Aku menangis.

Dunia seperti runtuh di depanku, memory ketika bersama beliau terputar satu demi satu. Juga bagaimana bisa sebuah kecelakaan menghabiskan kedua orang yang disayang dalam waktu sepersekian detik. Aku di sana ketika semua itu terjadi, tetapi aku. Masih ada sampai hari ini, hidup untuk sebuah hujan yang tak kunjung reda. Demikianlah aku memahami mengapa namaku Rain. Doaku terbaca, angin berhemnus tipis di tempat ini. Bunga-bunga kamboja putih satu demi satu gugur. Ada yang lebih paham tentang perasaan. Pepohonan, dan sebuah angin yang anggun memeluk tapi tidak membuat kedinginan.

“Maafkan aku baru kembali, Pa, Ma. Apa kabar? Rain rindu kalian, aku ingin bercerita kepada kalian tentang sebuah kepelikan yang mengajarkan Rain arti sabar dan tenang. Tentang dunia yang perlahan membuat aku sadar, bahwa setiap orang tak pernah suka dengan apa yang aku lakukan. Maafkan aku, Pa. Maafkan aku, Ma. Jika Rain belum bisa membuat kalian berdua berbahagia, selepas kuliah kemarin, Rain sudah bekerja, makanya Rain kini jarang di rumah atau menjaga Oma. Semoga kalian paham, semoga kalian tetap berbahagia. Rain juga akan tetap berbahagia di sini, untuk kalian.”

Ucapanku bisu tetiba, air mata susah sekali berhenti. Membuatku bersedu sedan dan terus demikian. Aku payah, ucapku dalam hati. Lantas aku tertunduk, bisu dalam jeritan benak yang begitu membuat sesak. Aku ingin waktu berhenti, mendekap kesepian ini sendirian, serta tenggelam di dalam rapalan doa dan perbincangan bisu.

Waktu …
Tak ubahnya sebuah jalanan panjang, kita tak pernah tahu ada apa di depan sana. Tak pernah tahu apa yang akan kita alami, tapi kita selalu tahu tujuan mana yang ingin kita dapati.

Maafkan Raina, Pa, Ma. Anakmu belum begitu mendewasa.

Selamat senja.

●TB.CNTNW●

#empat_SebuahKataKerja

– Rainaksara Putri.

3 tanggapan untuk “AKU INGIN WAKTU TERJEDA

      1. Semua hanya soal waktu, hidup memang hanyala menunda kekalahan sebenarnya. Jika sudah memang begitu hakikatnya, jgn lagi menangis dik. sekalipun ak bisa merasakan kesedihanmu. Tapi ak g mau km meratap terlalu lama. Kamu psti bisa rain. ☺

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s