BAHASA RASA

sebab, merdeka yang sebenarnya adalah ketika kamu tak merasa terbebani oleh apa yang kamu rasai.
___________

Selamat berjumpa lagi, mari merakit bilah luka yang beberapa pekan menjadi rasa paling istimewa.

Apa kabar? Sebaik dan seburuk apa pun kabar yang kamu berikan, aku selalu berdoa untuk kebaikan jiwamu yang kini benar-benar tak mampu aku tapaki ruang-ruangnya. Ada kalanya segala harus diberhentikan memang, ketika kamu merasa apa yang kamu rasakan begitu menyiksa. Tetapi, terkadang kita egois. Memilih berhenti padahal di antara keberhentianmu ada perasaan yang selalu ingin kamu tetap ada, menetap, berharap untuk tetap dan selalu ada. Bukan hanya sekejap tapi selamanya.

Baiklah, ini hari Sabtu, hampir minggu. Dan bukankah sudah beberapa hari lalu kita sama-sama mengucap selamat jalan? Tetapi, masih ada sisa-sisa ruang yang terpaksa selalau aku kosongkan. Aku masih tidak pernah paham, bagaimana temu bisa memisahkan. Aku ini perempuan paling patah yang pernah merasakan kehilangan dengan begitu menggores ingatan. Aku payah soal pengertian sebab aku juga ingin diartikan. Aku payah soal memahami sebab aku juga ingin dimengerti. Mengertikah?

Tubuh yang telah lama kamu titipi rasa, menit ini membeku dalam sendu. Memunguti sisa-sisa air mata yang barangkali bisa dipakai kembali untuk esok hari. Maaf … maafkan aku yang menjadi egois seperti ini, maafkan aku yang tak mafhum tentang bahasa hati. Aku tak pernah diajarkan untuk itu selama ini, tetapi aku ingin mencobanya. Apakah itu tentu bisa?

Kita adalah sepasang teka teki yang menjebak masing-masing perasaan dengan keadaan menyakitkan. Masing-masing pada diri kita merasa kehilangan, tetapi kita memilih berpaling dan menyembunyikan luka masing-masing.

Barangkali benar, pertemuan hanyalah awal sebuah perpisahan. Kita yang mengenal hari ini akan asing suatu hari nanti. Pun sebaliknya, aku selalu mengatakan itu kepadamu. Sebab aku takut, aku benar-benar takut jika keasingan menyeret tubuh kita, hingga akhirnya memilih meninggalkan. Dan itu nyata sekarang.

Kamu dengan segala egoismu dan aku dengan segala pengharapanku. Barangkali ruang ini paham betul air mata yang terjatuh tersebab apa, aku yang payah, aku yang merasa kalah, aku yang hanya bisa pasrah. Keadaan ini membunuh rasaku secara perlahan-lahan.

“Maafkan Rain, Pa Ma. Kali ini Rain patah hati.”

Selamat pagi.

●TB.CNTNW●

#lima_SebuahKataKerja

– Rainaksara Putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s