KATA-KATA YANG TAK TERBACA

Kepada Jalu,

Aku hanya ingin menyebutmu sebagai pertanyaan dan perayaan kesepian di musim kedinginan. Yang rekah pada jantung namun membiarkan rekahan itu perlahan gugur dan hancur. Terima kasih, aku telah mencintai lelaki yang abadai dalam jantung pun doa-doa panjang. Meski aku tak kembali tahu sebuah kabar yang terbaca lewat bentang benteng keegoan. Aku menjadikanmu tanya, sebuah kalimat yang mengharuskan dijawab meski kadang tidak tepat. Sebab, ada beribu kenapa yang setiap hari menjadi penghancur mood ketika kembali aku menatap kosong kesendirian. Pada sebuah kata tanya, aku mengharap beribu jawab meski tak terkata. Meski tak pernah sama sekali terasa.

Apakah kamu baik-baik saja? Setelah menjauhiku, apakah tidak terasa olehmu tentang sedetik saja kenangan atau kisah tentang aku? Sudah tiadakah?

Aku ingin mengatakan kepadamu tentang janji, atau tentang pagi juga malam yang tidak kembali mengabarkan tentang tubuh yang lambat laun menjauh. Apa kabar? Masihkah rindu dipeluknya ketika kedinginan menggigilkan jantung? Atau telah hilang rindu itu kini dan tak lagi ada di lain hari?

Kita telah sampai di sebuah persimpangan, kisah yang merakit tubuh juga rasa kita hingga hari ini. Yang kamu anggap sia-sia dan tidak berguna, tapi masih setia aku puja hingga lupa jika hatiku tidaklah kembali ada sesiapa. Jalu, tidak adakah sebuah tanya yang ingin kamu ajukan sebelum semua ini benar-benar hilang? Sebuah itikat untuk kembali membuat jarak ini bukanlah sebuah pemisah atau pengikis perasaan yang sudah benar-benar utuh.

Aku hanyalah kekata yang tak pernah kamu baca dan rasa. Aku hanyalah sebuah ketiadaan olehmu yang terus memaksa untuk kamu lihat. Maaf, untuk hari kesekian yang terasa berat. Mencintaimu dengan begitu lekat membuatku terus menerus tersesat. Pada lamunan, pada setiap kursi taman yang berjajar, pada langit abu-abu hari ini, pada senyum yang tertinggal pada saku celana. Kepadamu, semua teruju. Tapi kepadaku semua akan berakhir.

Sebuah kertas yang penuh dengan coretan-coretan bodoh tertinggal di salah satu kursi panjang taman kota sore ini. Seseorang tersenyum setelah membacanya. Lalu melipat kertas itu menjadi empat bagian dan memasukkannya ke saku jaketnya.

“Apakah kamu sedang mencintai ketiadaanya Rain? Selamat senja, Rain. Tapi aku tetap mencintai dari kejauhan mataku memandang, dari dekat hatiku mendekap. Maaf,” ucap lelaki itu lalu beranjak pergi.

●TB.CNTNW●

#enam_SebuahKataKerja

– Rainaksara Putri.

7 tanggapan untuk “KATA-KATA YANG TAK TERBACA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s