PELUKAN YANG ASING

Barangkali sebuah kata selamat tinggal, tak pernah benar-benar memisah kedua jantung yang sudah terlalu lama saling menyamankan. Tidak juga aku, tak juga kamu. Kita saling di sini, tapi perihal luka dan melukai aku tak pernah tahu, sebab aku atau kamu sendiri yang membuatnya. Tapi yang aku tahu, luka kehilangan kita sama. Sebuah keadaan yang menuntut agar sadar diri itu perlu. Maafkan aku sekali lagi.

Hujan gemar mendaur ulang kenangan, bagai barang yang bisa kembali dipakai. Seperti hadirmu, yang hari ini samar-samar terjaga oleh seberkas senyum yang ntah kamu pungut dari mana. Aku benar-benar rindu ketika kita sedemikian dekat. Matamu yang teduh dengan senyummu yang hangat. Jalu, sekali lagi aku bisu. Hanya mataku yang mampu mengatakan seberapa jauh hati ini ikhlas terjatuh. Meski aku sendiri tak pernah tahu seperti apa diriku di matamu sebetulnya.

Tanpa perintah, aku lantas memesan minuman dan makanan kesukaan kami berdua. Ntah, hari ini aku ingn memghabisi sisa rindu yang sudah menumpuk kepadamu. Tak hanya sekadar menikmati makanan atau minuman yang sudah kita pesan, tapi juga perasaan. Mari, Jalu. Kita mulai perbincangan yang lama tak terlaksana ini, aku sungguh ingin banyak membaca tentang dirimu yang akhir-akhir ini jarang tertemukan dalam pusaraku. Bukankah semenjak kamu memutuskan untuk pergi, kamu juga menciptakan jarak? Jadi hari ini biarkan jarak kita hanya satu meja cafe ini. Tidak ada sesiapa.

“Cinta jatuh seperti dedaun yang ikhlas terbang karena terbawa angin, Rain. Dan kita memilih diterbangkan angin hingga sejauh ini, apakah kamu sadar jika kita sudah jauh berjalan?”

Senyumku seperti beku dikata terakhirnya, bagaimana mungkin aku tidak sadar? Bahkan aku yang setiap detik menghitung kapan neraka yang tercipta di antara kita ini berakhir. Apa kamu lupa, Jalu? Bahwa ada lubang di dalam hati yang rela aku sisakan, sebab aku masih percaya kamu akan menutupnya kembali seperti beberapa bulan yang lalu.

“Aku tidak pernah menutup mata untuk hal itu, Jalu. Bahkan aku sangat sadar. Aku sangat tahu sejuah mana rindu dan rasa ini berumah tinggal. Tapi, aku rasai. Hanya aku yang tetap terjaga, mungkin aku sudah terlalu nyaman di tempat itu sampai aku lupa jika aku harus beranjak sebab pemiliknya sudah tak lagi ingin aku di sana.”

Kesenduan menertawakan perasaanku yang sudah remuk. Apa kabar dengan yang aku katakan barusan? Aku terlalu ikhlas untuk berkata-kata hingga lupa, jika aku terlalu bodoh kali ini untuk tersadar. Maafkan aku batinku bergejolak

“Tetapi, aku yang diterbangkan angin itu juga merasa kehilangan tempat di mana aku bisa terbahak dan tersenyum untuk hal-hal yang sekadar. Aku terlalu egois untuk mengakui rasa itu hingga aku lupa jika aku menyakiti dua tubuh sekaligus dalam satu waktu, Rain.”

Tatapan Jalu nanar, meretakkan gumpalan yang beku dan aku pikir sudah tak kembali bisa tercairkan.Tetapi, sebentar. Kata-kata itu harapan atau hanya sebuah pemicu agar pendengaran semakin bekerja keras dengan perasaan untuk meyakinkan? Senyumnya tiba-tiba beranjak datang seiring secangkir cokelat hangat yang kini ditangannya tandas dalam satu tegukan. Apakah aku menemukannya kembali? Dalam rengkuh dan dekap tangan yang masih sama, dengan rasa yang terus menerus aku inginkan selamanya. Apakah aku hanya berambisi mendapatkannya?

“Maafkan aku, Rain,” ucapnya ikhlas. Lantas beranjak dari tempat duduknya dan mengajakku berdiri. Dalam waktu sepersekian detik pelukan telah merubah yang abu-abu menjadi nyata dan pekat. Tetapi ada yang berbeda di sini, sebuah perasaan yang sempat hilang itu, bisakah kembali bersanding mesra meski telah diberikan jeda yang lama?

________

Suara alarm pagi membangunkan aku dari nina bobo masa lalu yang secara tiba-tiba menjadi bunga tidur. Mataku lantas nanar mencari sekeliling. Tidak ada apa-apa. Hanya aku di ruang ini. Di atas dipan ini tanpa sesiapa di sini.

“Ahh sial, aku berminpi,” ucapku geram.

●TB.CNTNW●
#tujuh_SebuahKataKerja
– Rainaksara Putri.

17 tanggapan untuk “PELUKAN YANG ASING

      1. “Maafkan aku, Rain,” ucapnya ikhlas. Lantas beranjak dari tempat duduknya dan mengajakku berdiri. Dalam waktu sepersekian detik pelukan telah merubah yang abu-abu menjadi nyata dan pekat. Tetapi ada yang berbeda di sini, sebuah perasaan yang sempat hilang itu, bisakah kembali bersanding mesra meski telah diberikan jeda yang lama?

        Suka

      2. meng-ubah? harus meng-ubah si, mas. dari kata ubah yang dapat imbuhan meng. tapi mungkin saya terlalu nyaman selama ini. ahahaha. baiklah untuk selanjutnya diubah biar bisa jadi baik.
        btw, terima kasih koreksinya membantu:)))

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s