SEBUAH SESAL

Sore ini, ada janji yang harus aku lunasi dengan Emir. Tepatnya pukul lima di kedai kopi dekat balai kota. Bukan janji sebetulnya, hanya saja aku ingin menemuinya. Emir sudah menanyakan waktu senggangku untuk beberapa waktu belakang ini, hanya saja aku belum sempat menepati karena masih sibuk dengan pekerjaan. Jadi hari ini, kebetulan aku senggang dan aku mengisi waktu luang untuk bersamanya.

Seperti biasa, aku memakai kaos longgar dengan celana jeans hitam juga switter yang menjaga tubuhku dari kedinginan. Kota ini menjadi kota hujan di bulan Januari seperti ini. Waktu yang kami tentukan tiba, aku datang tepat ketika jam di tangan kiri menunjukkan pukul lima kurang, belum kulihat Emir di setiap sudut ruang ini. Hanya beberapa orang yang sedang sibuk dengan obrolannya masing-masing atau dengan aktifitasnya masing-masing. Mungkin aku terlalu cepat sampai. Lantas aku mengambil duduk di dekat jendela pojok agak ke kanan. Seorang laki-laki berbaju hitam lalu memberikanku daftar menu makanan, aku persilakan dia pergi terlebih dahulu sebab Emir belum datang, agar pesanan kami datangnya bisa bersamaan.

Tak menunggu waktu lama, lelaki dengan mata teduh itu datang. Aromanya sudah bisa kucium dari jarak tak dekat, masih sama seperti dulu. Kaos hitam, celana hitam, sepatu convrese hitam, senyumnya lantas mengembang ketika mendapati aku yang sudah duduk manis menunggunya.

“Udah lama, Rain?” ucapnya lembut ketika sudah mengambil duduk di depanku.

“Udah si, dua jam tadi.” Emir tertawa lepas mendengar jawabanku. Kami lalu memesan minum dan makanan ringan untuk teman ngobrol. Rasanya aku sudah lama sekali tidak menikmati momen demikian dengan seseorang. Tak juga dengan Jalu, atau sahabatku Aleka. Mungkin karena aku terlalu sibuk, atau memang mencoba menyibukkan diri dengan apa pun itu demi melupakan sesuatu. Kadang aku rindu diriku yang utuh, menikmati waktu yang hanya di isi oleh aku dan aku. Membaca buku menikmati makanan dan cokelat atau capucino panas yang sengaja aku lakukan karena pikiran sedang penuh-penuhnya. Dulu kegiatan itu sering aku lakukan, tapi kini semua seperti jarang bahkan tak pernah aku lakukan lagi.

“Rain, kamu baik-baik aja, ‘kan?” Emir menatapku sejurus kemudian setelah seorang lelaki menaruh makanan dan minum yang kami pesan. Aku hanya tersenyum untuk tatapan Emir yang banyak menaruh tanya.

“Mir, harusnya aku tu ga gini sama diriku sendiri. Aku terlalu sayang sama seseorang sampai lupa kalau aku sendiri butuh di sayang.” Satu kata panjang berhasil keluar dari bibirku. Rasanya dadaku sesak seketika itu juga.

“Kamu kenapa si, Rain?” Aku diam begitu lama, sudut mataku sudah tak lagi bisa berbohong jika bibirku berkata aku tidak apa-apa. Aku mudah menjadi ranting tua akhir-akhir ini. Rasaku seperti sebuah kertas yang sengaja dikusutkan begitu saja. Diremas lantas dilempar kesegala arah hanya agar tak dilihat kembali.

“Kalau ingat Jalu, rasanya aku nda terima aja diginiin. Aku belum tahu salah apa aku sama dia, dosa apa? Iyakah sebuah hubungan harus berakhir dengan demikian konyolnya? Karena aku terlalu sibuk sama diriku sendiri?” Kuberi jeda lama untuk mengambil napas dan mengatur tenagaku kembali, air mataku. Sungguh-sungguh aku sudah tak bisa menahan.

“Aku cuma ingin dia tau, Mir. Sayang aku ke dia itu udah terlalu, keterlaluan tapi dia nanggepinnya tanpa perasaan.”

“Jalu itu butuh waktu, Rain. Butuh jeda untuk hubungan kalian. Aku si nda percaya kalau Jalu beneran mau udahan dengan alasan sesepele itu. Coba kamu jangan mikir yang gitu. Mikirnya lebih panjang.”

“Tapi, aku cape ngarep mulu dia datang lagi, Mir. Seperti sia-sia aja rasanya. Dia udah ga bakal kembali atau bahkan balik lagi ke aku dengan alasan apa pun. Dari awal dia ajak udahan dua bulan lalu sampe sekarang, ga ada yang namanya pesan aku terima dari dia. Seperti acuh, apa gitu yang namanya cinta? Ahh … Kenapa si kami musti kenal?” Kembali, tangisku terjatuh seperti bumi yang mulai menjatuhkan hujannya. Untuk kesekian kali, orang itu membuat air mataku tumpah ruah. Benar-benar menyakitkan semua ini. Apakah cinta diciptakan dengan paket seperti ini? Suka, duka, tangis, tawa.

“Ssstt … Rain. Jangan gitu dong, udah jangan nangis gini. Aku ngajak kamu jalan hari ini dan minta waktu senggang kamu bukan untuk bikin kamu sedih gini nih.” Emir kembali menatapku yang masih sesenggukan. Tersenyum hangat, lalu memberi tissu untuk air mataku.

“Tenangin perasaanmu dulu, ya.”

Waktu berjalan cukup cepat sore ini, tak terasa kami sudah hampir tiga jam ditempat ini dengan obrolan yang bermacam rupa. Bertemu Emir memang membuatku sedikit merasa lega. Apa pun itu yang dia lakukan membuatku lebih tenang. Mungkin karena sudah lama kami jadi sahabat, sehingga dia seperti paham akan diriku seutuhnya.

__________

“Maafkan aku, Raina,” sebuah nada sesal terbang ke langit-langit kedai kopi malam ini setelah Raina dan Emir memutuskan pertemuan. Lelaki itu lantas pergi membawa buku yang sedari tadi diajaknya berkencan.

●TB.CNTNW●
#delapan_SebuahKataKerja
– Rainaksara Putri.

10 tanggapan untuk “SEBUAH SESAL

      1. wkwkwkwk yeaaaahhh SMK NEGRI 1 WONOGIRI kelas Administrasi Perkantoran 2. kamu kawannya Novia Eka, ‘kan? aku sahabat dia sekarang, yang sering makan dan jalan sama dia.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s