MENYAMBUT GEJOLAK SEMESTA

Sesal itu beriringan menjelma menjadi luka, mengendap-endap. Di dalam sukma yang perlahan menyakiti aku sendiri. Dari kejauhan, aku hanya bisa mengikhlas air mata itu disapukan oleh tangan yang lain. Bukan aku, bukan aku yang bertanggung jawab atas air mata itu. Sepengecut itu aku. Yang bisa membuat luka tapi tak tahu caranya menyembuhkan.

“Raina,” ucapku perlahan.

Tiada yang salah, hanya aku manusia bodoh. Yang biarkan semua kini permainanku berulang-ulang kali.

Lagu yang terputar dari sound setiap sudut kedai kopi membuat dadaku semakin bergemuruh. Rasa bersalah perlahan menjelma menjadi sekat dan belenggu. Jika pada suatu hari aku akan menatap matanya kembali, apakah mata itu masih tetap milikku? Aku tak tahu. Mungkin sudah berbeda, bukan lagi aku yang mampu menatap indahnya mata itu. Tidak lagi.

Senja semakin memutuskan pulang, bersama kedua tubuh yang sedari tadi asyik duduk di pojok kedai tanpa pernah tahu, jika ada tubuh yang meringkuk kesakitan dalam penyesalan. Mencintai memang tidak sebodoh ini seharusnya kulakukan. Meski pada awalnya niatku hanya untuk menghindar agar Raina sadar, tetapi mungkin caraku keterlaluan.

Ketika sudah demikian, masihkah aku bisa untuk bersua? Berdua? Membaca perasaan masing-masing dengan rindu bertumpuk yang belum mampu dilebur.

“Maafkan aku, Raina.” Hanya kata itu yang mampu keluar selepas pemikiran bodoh dan sesal itu bermunculan. Tak pernah aku melihat Raina sehancur ini, meski sudah dua bulan aku meninggalkan tetapi rasa sakit itu sepertinya tak pernah hilang pun dengan rasanya yang begitu besar. Lelaki seperti aku memang egois.

Aku pikir, meninggalkan itu mudah. Aku pikir caraku memberinya pelajaran akan mudah dia terima dengan cara yang ntah bagaimana. Tetapi, aku salah. Egoku ini, yang bertumpuk hanya membuat kekacauan berulang kali. Tidak membuat semuanya membaik.

Mungkin, memang benar. Jika kita mencintai tak seharusnya kita menyakiti diri kita sendiri dengan cara yang demikian. Meski berulang kali cinta tergaung dalam doa-doa panjang untuk orang yang di sayang. Tetapi rasanya percuma jika hanya sakit yang bisa aku berikan. Ini mungkin yang disebut jika cinta adalah kata kerja, bahwa di dalam cinta itu sendiri ada hal-hal yang harus diperjuangkan. Apa pun itu dan bagaimana pun itu bentuk perjuangan. Cinta memang harus demikian caranya bekerja. Jika aku ingin Raina baik maka aku harus mengajarkannya agar menjadi baik, bukan memaksa tapi mendampingi sampai dia ikhlas berubah bukan karena aku atau siapa pun tapi karena cinta itu sendiri. Harusnya aku demikian.

Ah … ada banyak hal di bumi ini yang tak pernah aku sadar, dan tak jarang akan membuat sesal pada akhirnya. Cukup sudah sesalku diremuk redamkan kali ini. Sungguh, aku ingin segera menemui Raina dan nengucap sesal juga maaf untuk kesekian kali karena telah membuatnya sakit berulang-ulang.

Tanpa pikir panjang, aku lantas mengambil kunci mobil dan meluncur ke tempar Raina. Waktu masih menunjukkan pukul delapan ketika aku keluar kedai. Jalan masih ramai oleh hiruk pikuk manusia yang berambisi untuk segera tiba tepat waktu di manapun mereka ingin pijakkan kaki. Sesekali aku melihat lampu jalan, menghirup aroma sesal yang runtuh di dalam jantungku. Kebodohan mengutuk dalam ego lelaki.

Hanya butuh waktu duapuluh menit dan aku sampai di tempat Raina. Rumah tinggal yang menurutku cukup besar dan hanya dihuni olehnya sendiri semenjak memutuskan tinggal jauh dari neneknya karena pekerjaan. Perlahan aku memarkirkan mobil ke dekat pagar rumah Raina. Bersandingan dengan mobil Emir yang sepertinya masih di sana untuk menenangkan Raina atau menemani Raina berbincang, melanjutkan obrolan di kedai.

Jantungku semakin berdegup, aku menata kata-kata yang akan aku sampaikan nanti kepada Raina. Yang semakin membuatku berdebar, apakah bisa aku diterimanya kembali menjadi seseorang yang spesial? Apa pun itu nanti jawabannya yang jelas aku sudah membulatkan tekad meminta maaf. Semakin dekat aku dengan pintu, ketika pintu aku ketuk. Sama sekali tidak ada jawaban. Hanya hening, kembali aku ketuk dan tidak ada jawaban.

Mungkin mereka asyik di dalam batinku. Aku yang sudah tidak sabar, memutuskan untuk masuk karena kebetulan pintu tidak dikunci. Benar, televisi dibunyikan cukup keras. Pantas mereka tidak tahu aku berulang kali mengetuk pintu. Langkahku semakin dekat ke arah mereka. Dadaku berdegup lebih kencang.

Namun, sepertinya datangku ke sini hanya untuk menyambut lara. Kudapati Raina sedang berciuman bibir dengan Emir. Begitu dalam dan lekat. Entah mereka sengaja atau karena terlarut dengan suasana. Melihat pemandangan itu dadaku terasa sesak. Bukankah mereka besahabat baik selama ini? Lalu mereka? Aku memutuskan pergi dari ruangan. Kubanting pintu rumah Raina, tak perduli dia dengar atau tidak yang jelas aku sudah merasa bodoh dan sakit hati.

“Jalu.” Teriak seorang perempuan dari belakang ketika aku sudah sampai di depan gerbang. Aku menghentikan langkah tanpa berbalik badan.

“Selesaikan dan aku akan pergi,” ucapku mantap. Dan kembali berjalan.

●TB.CNTNW●

#sembilan_SebuahKataKerja

– Rainaksara Putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s