LUKA YANG TERLUKAI

Malam menyambut datangku dengan suka hati meski aku sendiri sama sekali tidak merasakan hal yang sama. Bulan tersenyum manis, pun dengan gemintang yang penuh kerlap-kerlip. Seolah mereka memamerkan keindahan masing-masing atau malah mereka ingin membuatku malu setengah mati karena aku kesepian dan murung di tengah kota yang tak pernah mati. Senyumku kecut, perjalanan dari tempat kerja ke rumah rasanya lebih lama hari ini. Ada beban yang tak pernah bisa dihindari, ntah apa itu yang jelas perasaanku tak pernah tenang.

Seperti ini rasanya dikejar rasa bersalah? Benar-benar menghantui, benar-benar membuat tak nyaman. Harus dari mana aku mengatakan maaf? Di mana aku harus mengubur malu yang terus menjelma menjadi dengki pada diriku sendiri? Jalu …

Harusnya malam itu aku membiarkan Emir pulang, harusnya malam itu aku tak bersamanya kembali. Harusnya … tetapi semua keharusan itu sudah terlanjur menjadi sesal yang beribu kali menyebabkan luka itu terasa menyakiti. Kenapa kebetulan sekali Jalu ada di sana? Mencariku? Kenapa semua seperti sudah diskenario sedemikian menyebalkannya

Pikiranku terus saja demikian, semenjak kejadian empat malam yang lalu. Aku tak pernah bisa menghilangkan semua rasa salah kepada Jalu. Apa pun itu, aku yang salah di sini. Bagaimana pun juga aku telah mengkhianati kepercayaannya, meski dia sudah meninggalkan aku dengan caranya yang menyakitkan, tapi bukankah caraku untuk menghidupkannya kembali lebih menyakitkan? Aku merasa bodoh kali ini, benar-benar bodoh.

Masih pukul delapan ketika mobilku berhenti di depan sebuah rumah makan siap saji dengan menu bebek rica yang aku sukai. Lapar menyerangku tetiba, lebih baik aku berhenti sejenak. Memesan makan, mendinginkan kepala sejenak lalu membaca buku, lantas pulang jika sekiranya perasaanku sudah lebih baik. Mungkin ini hanya tentang sekisah persahabatan yang klise antara lelaki dan perempuan dewasa, yang memang pada dasarnya tidak pernah benar-benar hanya tentang persahabatan. Tetapi Emir itu sudah lama sekali menjadi kawan bahkan sahabatku, mana mungkin? Sebodoh itu kami? Ahh … Ampuni kami, Tuhan, Papa, Mama, Jalu.

Lantas pikiran itu sedikit lenyap. Makanan tersaji dengan cepat di depanku. Membawa imajiku sedikit terbang melintasi waktu-waktu lalu, ketika makanan demikian ini tersaji di depan meja tempat makan rumah. Ada mama dan papa juga aku yang masih suka sekali merengek minta di ambilkan nasi dan lauk atau air putih karena merasa lidah terbakar. Ketika itu aku duduk di kelas tiga SMP. Masih semanja itu dengan kedua orangtuaku. Masih ingin terus demikian. Semua rasanya menyenangkan. Apalagi mereka selalu ada untuk aku, apa pun kondisinya. Mereka berdua selalu memberikan apa yang aku mau. Waktu itu, semua terasa mudah di dapat. Terasa mudah di lewati. Dunia bagaikan taman bermain. Namun setelahnya, kenyataan merenggut bahagia itu dalam sekejap mata. Semua yang terasa indah, hancur dalam seketika itu juga. Semesta memang selalu sedemikian cepatnya merubah apa yang kupikir tidak mungkin menjadi mungkin.

Aku menghabiskan waktu di sini, benar-benar memanjakan diriku. Aku rindu moment ini, semua hanya diriku sendiri dengan buku yang aku kencani. Malam ini akan menjadi malam panjang agaknya. Tubuhku sudah kaku dan tak mau diajak beranjak meski di pergelangan tangan kiriku waktu sudah memburu. Setengah sepuluh batinku. Aku lalu mengambil gawai di dalam tas, melihat sekilas pesan masuk. Beberapa dari Emir yang menanyakan aku di mana dan dari rekan kerjaku yang lain. Emir lagi. Tanpa membalas satu persatu, aku menyimpannya kembali. Lantas beranjak untuk pulang.

Kulajukan mobilku dengan mantap, bebanku sedikit terangkat. Malam yang sudah sedikit larut tak membuat aktifitas kota ini turut surut. Banyak muda mudi yang berkeliaran, mencari makan atau bahagia mereka masing-masing. Lima belas menit kemudian aku sudah sampai di depan rumah. Rumah yang belum lama aku beli dengan jerih payahku karena tempatnya lebih nyaman dan juga satu kota dengan tempat kerjaku.

Setelah memarkirkan mobil, aku keluar tanpa ragu-ragu. Mengambil tas dan menuju pintu rumah. Tetapi, seseorang membekap mulutku, ketika aku berontak tubuhku terasa semakin lemas dan tak berdaya. Hanya gelap dan hilang.

●TB.CNTNW●
#sepuluh_SebuahKataKerja
– Rainaksara Putri.

5 tanggapan untuk “LUKA YANG TERLUKAI

      1. Sip! Hanya saja saya agak bingung mengaitkan satu cerita ke cerita lainnya.

        Tapi overall, jujur saya suka sekali dengan ceritanya. Mbak Rainaksara Putri (atau enaknya dipanggil apa ya) itu produktif menulis. Terutama cerita seperti ini. Dalam beberapa pos yang sudah ada, Mbak pintar mengolah kata.

        Saya juga senang menulis cerita, tapi suka bolong-bolong. Gak bisa setiap hari. Punya tips atau saran untuk saya?

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s