SESUATU YANG PERLU KAMU TAHU

Malam ini hujan jatuh dengan ikhlas membasahi bumi. Dinginnya memeluk tubuh yang terjebak kesepian di antara gelegar guntur yang runtuh begitu saja. Ada senyum kecut yang dipaksa hadir oleh seorang lelaki, yang kali ini duduk di kursi kerjanya. Membuka selembar kertas yang akhir-akhir ini menjadi perhatiannya berulang kali setiap malam menjelang. Mungkin seseorang menulisnya dengan kasih sayang, sehingga kertas itu penuh dengan rasa yang tak pernah bisa terlupa meski mungkin penulisnya telah membuat kecewa. Kertas itu, adalah secarik surat yang diambilnya ketika seorang perempuan lupa atau memang sengaja meninggalkannya di kursi taman kota. Sesaat setelah membaca, lelaki itu lalu mengumpulkan keberanian untuk membalas. Berharap esok akan menemui perempuan itu dan dia berani memberikan.

Sesaat lelaki itu tampak berpikir, untuk sebuah surat yang manis meski dalam hati teriris dibutuhkan hati dan jari yang ikhlas memilin pena. Malam ini, surat itu akan berbicara.

Teruntuk yang masih tertumbuk dalam ingatan, Raina Putri.

Lepas dari sebuah pelukan tak lantas membuat aku berhenti mencari segala hal tentang kamu, Rain. Ada waktu yang memaksa rindu ini untuk menemuimu secara tiba-tiba. Namun, aku yang mencipta jeda itu merasa terluka dan tersiksa sendiri olehnya. Aku yang merasa berdosa ini mencoba mencari celah tepat untuk bersua. Tetapi, bodohnya aku. Kegengsian membalut utuh inginku untuk berkata apa adanya. Maafkan aku, Rain.

Maaf, aku menemukan tulisanmu waktu itu di tempat biasanya kamu menyandarkan luka. Aku paham, betapa kepergianku adalah hal yang paling membuat duniamu seketika itu juga teraniyaya. Aku yang salah kali ini, meninggalkanmu dengan dalih kesibukan. Harusnya, aku berbahagia memiliki perempuan sspertimu, yang bahkan harusnya lebih bisa aku rengkuh setiap hari untuk memberi kekuatan.

Sekali lagi maaf, Rain. Aku berdosa kali ini. Sebuah kata yang sepantasnya tak aku katakan sebab aku harusnya sadar diri. Tetapi, aku tersiksa jika tak mengatakan apa adanya. Ada ganjil yang tak pernah kembali genap, dia hilang begitu saja seperti kamu yang tetiba lenyap meski aku yang mengharap. Akhir-akhir ini, kamu seperti mencanduiku. Ingatanku tentangmu terus menyelinap ketika aku sendiri seperti ini. Ketika pekerjaan dan waktu luang memaksaku untuk berhenti dari kebiasaan. Dan ketika itu terjadi, rindu akanmu ingin berterus terang dalam balutan keinginan.

Aku rindu mencium aroma parfummu, aku rindu menatap sepasang manik matamu. Aku rindu apa pun yang ada dalam dirimu termasuk kecup yang malam itu kamu bagi dengan sahabatmu, Emir. Mungkin, seharusnya aku sadar akan semua perasaan ini, Rain. Ketika aku meninggalkanmu ketika kamu sedang jatuh cintanya. Aku yang membuatmu jatuh cinta tetapi aku sendiri yang memilih jarak itu. Dan ketika kamu dijaga oleh lelaki lain selain aku, aku terluka. Bodohnya aku. Harusnya kamu menyesal, tetapi tidak. Aku tahu cinta ini agung untukmu, Rain. Jauh di dalam sana, aku tak bisa semunafik apa yang aku katakan.

Aku masih mencintai segalamu. Termasuk sibukmu meski aku salah selama ini menyalahkan itu sebagai sebuah dalih perpisahan kita. Seandainya mungkin, aku mampu untuk menjemputmu kembali ke dalam duniaku. Seandainya mungkin. Aku ingin menawarkanmu kembali madu yang harusnya kamu isap. Aku ingin memberimu segala aku yang tak pernah kamu miliki.

Namun, jika itu tak pernah mungkin. Aku tak pernah merasa berdosa telah mengenalmu, Rain. Dan jika kamu berpikir aku marah akan segala hal yang kamu lakukan dengan Emir, kamu salah. Sungguh aku merstu segala hal yang kalian lakukan jika memang hal itu terbaik untukmu. Aku sadar, Rain. Emir adalah lelaki yang selama ini kamu cap sebagai sahabat meski dalam hati Emir merasakan kamu lebih dari kata itu. Tak apa. Jika memang demikian, aku pun ikhlas. Tetapi, sebelum semua berhenti dan berganti. Biarkan sekali saja aku menemuimu, menceritakan semua rasaku dan meminta maafmu. Sebab, rasa bersalah ini menghantuiku setiap waktu. Dan aku ingin kamu tahu, Rain. Rindu, cinta, kasih, sayang, dan apa pun itu. Hari ini detik ini kapan pun kamu membaca surat ini masih tetap sama. Utuh. Tanpa pernah sedikit pun terberai.

Lelaki yang mencintaimu, Jalu.

Surat itu selesai ketika dering gawai di sampingnya memanggil. Seseorang memanggil ketika jam di meja kerja menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan penuh hormat Jalu berbicara. Perlu waktu tiga puluh menit sampai sambungan telpon dimatikan dan Jalu mencerna kekata yang dilontarkan penelpon barusan. Dia lalu bergegas, suratnya dan surat Raina dia lipat jadi satu dan disimpannya di saku jaket hitam yang membalutnya. Dengan langkah tergesa dia keluar dari apartemen. Senyumnya penuh rasa, sepertinya penelpon tadi memberinya sebuah kesan indah dan buruk secara bersamaan.

__________

Sementara dilain tempat. Raina sedang terpaku. Seseorang yang duduk di depannya ditatap lekat dan lelaki itu berbalik menatapnya lekat. Beberapa menit yang lalu telah terjadi pergolakan di ruang pengap ini. Sebuah panggilan kematian tergaung.

#tigabelas_SebuahKataKerja

●TB.CNTNW●

– Rainaksara Putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s