KITA YANG TERBUNUH

Malam meremang tanpa hiasan. Hujan membasuh ratapan yang berkelar pada kecut senyum seorang perempuan. Ada waktu yang tak sempat berkata-kata. Mencium alunan perasaan di antara pialang yang rimbun bagai kebencian berulang. Di antara kesepian itu, sebuah mobil hitam metalik berhenti di depan rumah megah yang jarang dijamah di pinggir kota. Seorang lelaki lalu keluar dari mobilnya dan membuka gerbang sendirian. Grimis terus terjatuh, sepi bermesraan dengannya. Setelah itu, mobil diarahkan ke depan pintu masuk. Lelaki itu berjalan perlahan memasuki rumah. Seperti yang sudah diwartakan dari telphon tadi, jika ada yang ingin dikatakan tentang keberangkatannya besok ke Amerika. Lekaki itu lantas bertolak pergi ke alamat yang sudah diberitahukan sebelumnya.

Rumah yang senyap. Dengan lampu penerangan seadanya. Lelaki itu mencari seseorang yang sedari tadi tak di dapatinya. Lima menit berputar, menelphon tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya dia menyerah dan memilih duduk di kursi tamu, dia berpikir orang yang dicarinya sedang di kamar mandi. Bersamaan dengan itu, ada suara perempuan menangis yang datangnya dari lantai atas. Karena penasaran, tubuh lelaki yang baru saja menempel kursi itu memilih mendatangi sumber suara. Dengan lekas dia menaiki anak tangga, tangannya gemetar namun keingintahuannya lebih besar dari rasa takut. Sesaat dia terdiam. Mendengar kembali sumber suara dari ruang mana. Namun, ada suara laki-laki juga di antara tangis itu. Sangat jelas dan itu suara lelaki yang dia cari. Tanpa pikir panjang dia lantas mendekati pintu dan membukanya tanpa aba-aba. Tetapi.

“Pa, apa ini?” ucapnya panik. Ketika sebuah ruang dengan pencahayaan terbatas itu terlihat seorang lelaki yang sedang mencoba melukai seorang perempuan. Dan perempuan itu disekap kaki juga tangan.

“Jalu!” Reymar menghentikan siksaannya kepada Raina. “Kapan kamu sampai sini? Kenapa tidak bilang Papa?” ucapnya terbata dan ragu.

Jalu lalu mencoba menerobos dinding pertahanan Reymar. Dia ingin tahu, siapa perempuan yang disekap itu. Jalu terkejut setengah mati, ketika yang tampak di depannya adalah perempuan yang dia cintai. “Astaga, Rain.” Tanpa pikir panjang Jalu mencoba melepas ikatan.

“Kamu? Kalian?” Reymar mematung. Seolah tak percaya jika Jalu mengenali perempuan yang dia sekap.

“Papa tau? Dia itu temen Jalu. Perempuan yang Jalu sayang. Kenapa bisa si, Pa? Apa salah Rain?” Jalu memberondong pertanyaan tanpa tading aling-aling. Yang ada dikepalanya saat ini hanya rasa malu. Karena kelakuan Papanya terhadap Raina.

Reymar lalu mencoba menghalang-halangi niat Jalu ketika akan membuka tali yang melilit di tubuh Raina. “Jalu, kamu tidak bisa melepas itu semua dengan mudah. Dia buronan Papa selama ini. Penghancur segala masa depan yang sudah Papa cita dan ingin selama ini. Dia anak pengecut! Tidak pantas dia sama kamu.”

“Maksud, Papa?” Jalu lalu bangkit dan menatap arah mata Reymar lekat. Terjadilah cerita yang kemarin didongengkan unuk Raina dan kini kembali terulang kepada Jalu.

Gerimis masih terus terjatuh dengan lembutnya. Malam semakin mencekam dan gaduh. Janji yang tadi hanya untuk berbicara bisnis kini berubah.

“Tetapi, tidak semerta-merta Raina juga salah, Pa. Dia anak Tante Ina dan Om Mohand. Raina tidak salah apa-apa di sini. Malah Papa yang salah karena membuat Raina terancam. Jangan membuat sesuatu yang mudah menjadi rumitlah, Pa. Urusan Papa itu banyak yang lebih penting.” Jalu terus menjelaskan dengan sabar, sedangkan perempuan yang menjadi perdebatan mereka semakin terisak.

“Tahu apa kamu tentang masa lalu, ha!.” Reymar semakin meradang. “Tidak usah ikut campur, kamu keluar dari ruang ini dan saya akan bunuh anak ini!”

“Jalu tidak mau pergi. Mendingan Jalu aja yang Papa bunuh daripada Raina. Seperti kata Papa barusan. Cinta itu yang membuat kita gelap mata. Pun mata Jalu kini yang sudah gelap,” jelas Jalu lantang.

“Oh … kamu berani melawan Papa sekarang?” Tanpa aba-aba Reymar yang sudah tidak sabar lalu mengeluarkan pistol dari sarangnya. “Pergi atau mati!?” Bentaknya tegas.

“Mati!” balas Jalu mantap.

“Jalu, mendingan kamu keluar dari ruangan ini. Biarkan aku yang saja, Jalu. Kamu tidak pernah bersalah. Maafkan aku.” Tangisnya semakin terisak.

“Drama biadab! Semua pengecut!” Satu tembakan melayang ketika pistol diacungkan ke arah Raina. Suaranya melengking membelah sepi yang berseru hari ini.

Lalu. “Maafkan Ja—Jalu, Pa. Maafkan aku, Rain. Aku mencintaimu selama ini. Maafk ….” suaranya hilang tangannya mendekap kucuran darah yang keluar di dadanya sebelah kanan. Tanpa sisa. Lolongan Raina semakin tak terkendali. Reymar ikut panik melihat jasad anaknya yang selama ini sangat dia cintai terbunuh oleh dirinya sendiri. Bersamaan dengan itu tanpa menunggu waktu lama pistol Reymar sudah siap kembali tertuju ke arah Raina. Kali ini emosinnya semakin meluap kepada Raina. Karena Jalu rela terbunuh demi Raina. Tanpa menunggu waktu lama suara pistol kembali memekakan telinga.

Raina yang masih terisak mulai memejamkan matanya. Dia siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Setelah sepersekian menit dan suara senapan tak kembali bising, Raina membuka matanya. Seorang lelaki tersenyum ke arahnya dengan manis di depan pintu. Lelaki yang sangat dia rindukan. Ada di depannya dengan penampilan yang luar dari biasa. Baju hitam dengan jaket hitam dan celana jeans yang melekat ditubuhnya.

“Rain, tidak kenapa-kenapa.” Lelaki itu tersenyum dan berjalan ke arah Rain mantap.

Kedua lelaki dengan aliran darah yang sama, kini tergeletak tanpa nyawa. Mereka memperjuangkan cinta masing-masing dengan alasan yang berbeda pula.

●TB.CNTNW●

#empatbelas_SebuahKataKerja

– Rainaksara Putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s