PELUKAN YANG BERPULANG

Jadikan rindu itu lebih tabah terjatuh pada hati yang tepat dengan waktu yang tak singkat. Aku ingin menetap dan menjadikannya pusara ketika serpihan lelah menggelayut di ujung waktu.

__________________

Aku masih menggenggam carikan kertas yang semalam diberikan oleh seorang perawat rumah sakit. Dia berkata jika menemukannya di kantong jaket Jalu ketika autopsi. Suster itu juga berkata untuk menyimpan dan membacanya, siapa tahu itu wasiat. Tetapi, tulisan di kertas itu bukan hanya sebuah wasiat, tapi surat yang mungkin memang akan disampaikannya kepadaku. Aku masih benar-benar melihat tatapan terakhirnya malam kemarin. Menatap dengan lekat rasa cinta yang sudah bertumpuk dan mungkin sesak di dalam rasanya. Dan hari ini, dia sudah tiada. Hanya demi seorang aku yang tidak tahu diri.

Siang ini, tidak ada yang lebih tabah dari hujan dan kesepian. Semuanya menyatu dalam tetesan yang sengaja Tuhan berikan, dibalik kaca dan loncatan hujan. Di dalam sana, ada yang bisu dan ingin segera terkata. Air mataku masih tergagap, melintasi segala hal yang semalam kemarin terjadi. Dua orang yang terbunuh secara langsung di depan mataku. Masa laluku. Orang tuaku. Dan lelaki yang menyelamatkan segenap hidupku. Aku menangisi untuk semua kebodohan dan ketidakmampuanku. Aku tersedu di bawah kepulan kepiluan yang terus merambati perasaan.

Tidak tahu aku sudah terlelap berapa jam di dalam kamar. Gelap mengintimidasi, masih menggengam carikan kertas. Aku mencoba ke luar kamar. Semua menjadi jengah, semua menjadi asing. Ketika aku membuka pintu, seorang lelaki dengan setelan hem hitam duduk memunggungi tempatku berdiri. Dia lalu menoleh kepadaku ketika mendengar pintu kamar tertutup.

“Kamu masih lelah?” ucapnya halus. Penuh perasaan di dalamnya.

“Lumayan, hanya sakit. Nanti baik kok.” Senyum palsuku mengembang begitu saja, “Kamu dari mana?” sambungku ketika melihat penampilannya sesaat setelah jarak semakin dekat.

“Aku tadi datang ke pemakaman Om Reymar sama Jalu. Maaf ya ga bilang sama kamu, Rain.” Senyumnya mengembang dengan lekas.

“Gapapa kok, besok aku diantar ke sana, ya,” balasku.

“Iya, pasti. Yaudah kamu makan dulu udah akau bawakan makanan.” Dia lalu menyodorkan bungkusan hitam kepadaku.

“Sebetulnya, Mir. Kamu tidak usah repot-repot begini. Aku masih bisa makan di luar nanti.” Tolakku halus. Meski perutku sudah benar-benar lapar.

“Hissshh, udah ah. Kamu makan yaa, Rain. Nanti kalo mau cari makan aku temani. Yang penting kamu makan dulu.”

Orang ini yang selalu ada untuk aku. Lelaki yang bahkan semalam tak pernah aku pikir ada di saat situasiku yang paling terhimpit. Rasanya aku ingin menjerit sekeras mungkin ketika semuanya tetiba berubah situasi, Emir seperti percikan air ketika dahaga menghujam kerongkongan. Terima kasih dan kata maafku terus terurai untuknya semalam. Tanpa alfa. Bersama dengan dua mayat yang digotong ke luar ruangan. Bersama itu pula aku menangis dipelukannya. Aku seperti tak lagi punya pelindung ketika itu, hanya diriku sendiri. Tetapi, Tuhan selalau berbaik hati kepada umatNya. Aku hanya percaya itu ketika semua terjadi.

Hari ini makan sore berjalan lancar, bersama dengan selesainya makan aku berkata kepada Emir jika aku ingin pulang. Mengunjungi nenek dan menetap di sana barang seminggu hingga perasaanku tenang. Mengunjungi makam kedua orang tua juga. Dia sangat setuju dengan pernyataanku. Keadaan psikisku belum benar-benar baik meski fisik sudah baik. Semuanya masih berkelabat. Seperti ingin membunuh aku secara perlahan melalui keadaan.

“Yaudah besok aku antar, ya. Nanti ke makam Jalu dulu,” ucapnya lembut sembari menangkup kedua tangannya dan membawaku kerengkuhnya. Ada hangat yang berbeda di sana. Ada perasaan yang kembali menguar. Nyaman ini, aku rindu, Ma Pa.

●TB.CNTNW●

#empatbelas_SebuahKataKerja
– Rainaksara Putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s