TERUNTUK KENANGAN

Tersentak aku ketika kerumunan masa lalu berteduh dari hujan air mata yang terus bergemricik. Mendung bermesraan menyambut kekalahanku di bawah langitnya. Bersamaan dengan aroma tubuh yang tidak asing, kisah tentangmu dan masa silam mengajakku menemui beribu makna di baliknya. Menyeret pada kerumunan tubuh puisi yang terbentuk di bawah pijar gemintang malam itu. Angin mengecup lambaian rambutku dan parasamu secara bersamaan. Dan kamu tersenyum ketika waktu bermekaran lewat bunga yang lupa dihujani. Tidak ada kekata, hanya duduk yang sejajar dengan pundak ikhlas untuk mengistirahatkan lelahnya isi kepala.

_______________

Siang singgah dengan lekas, senja siap menggantinya tanpa rekayasa. Ada yang tertumbuk pada mata ketika getir diriku menginjak bentang hijau taman hari ini. Sebuah kesepian yang mengendap ke dalam tubuh, bersatu dengan debar dada yang berirama lain. Kursi duduk putih tulang siap menyambutku dengan sejuta pikiran yang tumpang tindih.

“Sepi,” gumamku. Tidak ada yang berteriak atau ingin mengajakku berpesta tentang masa lalu. Hanya aku seorang perempuan kesepian yang mencoba menertawai perpisahan.

Beberapa saat sebelum sepi semakin berirama luka, seseorang membekap mataku. Aku mencoba meronta, tangan itu terus membekap. Lantas melepas perlahan dan sebuah senyum tersemat pada bibirnya di depanku. Senyum yang kurindukan.

Lelaki itu mengambil duduk di sebelah kiriku, menatap lekat mataku yang hampir hujan lantas mengambil tangan kiriku untuk didekap bersama tangannya. “Kamu menunggu apa di sini?” ucapnya perlahan tanpa memalingkan wajah.

“Kepastian,” balasku tanpa beban.

“Kepastian apa, Rain? Semua sudah pasti.” Senyumnya mengembang menatapku. “Aku telah tiada dan kamu harus bahagia selamanya.”

“Maaf … maafkan aku, Jalu.” Kuamati matanya lekat. Mencari apa pun yang jelas bukan perpisahan.

“Rain,” jedanya panjang. “Aku bahagia mengenal dan mencintaimu sampai detik ini. Jangan ragu, jangan meragu tentang apa pun kembali. Justru aku yang meminta maaf, karena perlakuan papa yang sedemikian bencinya kepadamu.” Jalu kembali tersenyum. Tetapi, ada yang rapuh di dalam hati ketika kata itu terlontar. Sebuah alfa yang mendekapku dengan begitu nyata.

“Harusnya kamu tidak datang dan menolongku, Jalu. Harusnya kamu tidak ada di antara perselisihan kami.” Tangis mengiring, perlahan kepalaku rebah pada pundaknya. “Dendam papamu memang sudah akut kepada orangtuaku, Jalu. Jadi pantas jika sekiranya aku yang mendapat itu.” Usapan tangan Jalu semakin melemas di tanganku.

“Tidak, Rain. Papa yang keterlaluan. Sudah berapa lama semua terjadi tetapi dendam masih terus menggenapi. Tetapi, Papa juga ikut dalam kematian anaknya. Aku hanya kasain sama Mama yang sendiri,” katanya lekas.

“Nanti aku sering-sering ke rumahmu jenguk Tante. Dan memastikan beliau baik-baik. Untukmu, Jalu. Aku ada di sana sebagai kamu yang tidak nyata.” Senyumku rekah.

Lelaki di sampingku mengambil napas dalam sebelum kembali menatapku, “Terima kasih, Rain,” ucapnya mantap.

“Apa yang kamu genggam di tangan kananmu, Rain?”

Aku membuka genggaman tangan kanan dan menunjukkannya. “Surat yang kamu tulis, Jalu. Dia m selalu aku bawa, selalu aku baca, selalu aku rindukan.”

Jalu hanya membuang muka dan tersenyum pasi, “Rain, di surat itu aku sudah berkata dengan jujur apa yang aku rasakan. Tentang mencintaimu dan yang lainnya. Jika kamu bertanya kembali tentang ikhlas aku melepasmu untuk le—”

“Sssttt.” Kepalaku refleks mendongak dan mengacungkan telunjuk di bibirnya. “Sudahlah, Jalu. Itu dosaku. Aku kalut, aku sepi, aku membutuhkanmu. Tapi kamu acuh. Kamu tiada ketika aku benar-benar membutuhkan tempat bersandar. Taukah, Jalu. Pergimu adalah hampa yang menyerangku dengan akut. Aku yang kalut dan hanya dia orang yang bisa membuat terhanyut. Maafkan atas semua itu, Jalu. Sungguh aku berdosa,” jelasku.

Jalu hanya tersenyum menatapku.

“Maaf,” ucapku getir.

“Tidak perlu, Rain. Karena aku juga berdosa meninggalkanmu dengan begitu tetiba.” Tanganku kembali dirangkum pada pelukan tangannya. “Rain, percayalah.Hanya tubuh yang membuat kita berjarak, kamu harus bahagia. Kamu harus tetap melanjutkan apa yang sudah menjadi kewajiban,” ucapnya berapi-api seolah semuanya benar-benar akan segera hilang.

“Tetapi, Rain. Kenapa aku menatapmu lain hari ini? Kamu lebih dari sekadar cantik. Bahkan mendekati sempurna, baju putihmu cocok untuk tubuhmu yang semakin hari semakin kurus.” Tawanya pecah setelah kata kurus yang terlontar.

“Aku kurusan?” jelasku lekas.

“Engga kok, hanya lebih kecil sepertinya. Kamu udahan dong sedihnya, Rain. Februari kalut sudah lewat. Aku rindu gadis tegar yang selalu memasang senyumnya untuk siapa pun. Lakukan itu untukku, Rain.” Tanpa menatapku pun aku paham jika itu pesan.

“Bagaimana aku bisa kembali seperti semula sedangkan kehilanganmu adalah nyata, Jalu. Ketidaksiapan aku menanggung semuanya seorang diri, kamu ….” Lengan kokoh itu lantas meraih tubuhku membawa kepeluknya. Tangisku berlarian, memoar usang seakan kembali terbuka satu per satu. “Aku ingin seperti ini terus, bersamamu, Jalu. Aki ingin,” ucapku terakhir sebelum tangis semakin pecah.

“Semua akan baik-baik saja, Sayang,” katanya tanpa ragu. Pelukanku yang semakin kencang di balas peluknya yang semakin kendur. Hingga hanya hampa yang kupeluk, bukan lagi lekaki yang beberapa detik lalu menemaniku sebagai Jalu.

Aku lantas berdiri dan mencarinya, berlari ke arah mana pun yang aku bisa. Hingga aku tak kembali menemukan dan hanya bisa terduduk di antara rerumput dan bunga-bunga di taman ini. Masenja yang semakin tertawa terbahak menyelimuti semuanya. Gelap menyerang, aku berteriak memanggil nama Jalu sekuat yang aku bisa.

Lalu aku seprerti di guncang dan mata kembali terbangun. Terduduk aku di kamar kosong. Tanpa siapa pun. Dengan surat dari Jalu yang masih kudekap. Aku hanya bermimpi-

●TB.CNTNW●
#enambelas_SebuahKataKerja
– Rainaksara Putri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s