MENITIP KECUP DI BUBUR KEKASIH

Aku sadar, kekasih. Tak ada rasa paling mulia kecuali berkisah kasih dengan kekasih tanpa ada sekat dan jarak apa pun. Seperti maumu, tapi bukan maunya keadaan aku kamu hari ini.

Aku sengaja mencicipi bubur di pinggir jalan sebelum kerja pagi ini. Rasanya seperti bibirmu, ada manis dan asin yang menjadi satu. Tapi ada yang alfa, rasa nikotin itu tak lagi kurasakan. Kamu bilang semalam, rindumu melompat-lompat seperti air hujan yang terjatuh. Kamu bilang rindumu sudah diujung titik penghabisan. Kamu juga bilang, rindu itu sudah mencabiki seisi perasaan. Maafkan, kekasih.

Kesibukanku manja akhir-akhir ini. Meski mencintaimu adalah keharusan, tetapi kesibukan lebih harus dirampungkan. Agar aku bisa segera mencicipi kembali bubur di bibirmu yang lama tak aku rasakan. Semoga kamu tidak lupa, kekasih. Bahwa di antara jarak dan mencintai yang sama-sama perlu kesabaran. Aku selalu menitip sebuah kecup di sela doa-doa panjang. Di antara suapan bubur pagi hari, juga di antara pelukan resah yang selalu membuat mataku basah setiap malam.

– Perempuan Aksara.

2 tanggapan untuk “MENITIP KECUP DI BUBUR KEKASIH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s